Ada banyak sekali pertanyaan dalam kehidupan kita ini, yang kalau kita pikirkan betul kita akan tertawa sendiri. Macam orang gila. Yang menertawakan kegilaannya sendiri.

Betapa tidak, banyak orang yang tahu kalau bohong itu dosa tapi ia tetap berbohong. Banyak orang yang tahu kalau merokok itu bisa membunuhnya tapi ia tetap merokok. Banyak orang yang tahu kalau berharap pada manusia itu dapat berujung pada kekecewaan, tapi mereka bahkan rela di PHP-in. Tak setangkai bunga di taman, tak seekor pula kumbang berterbangan. Tapi ia tetap tak bisa move on.

Hmm…

Ketika telah selesai mengajarkan sebuah materi, seorang guru kerap bertanya kepada muridnya: “Apakah kalian sudah paham?”. Materi bukan untuk sekadar diketahui, tapi dipahami. Itulah alasan kenapa kita wajib menertawakan diri sendiri, karena seringkali kita mencukupkan diri untuk sebatas tahu, tapi tidak paham.

Dua orang siswa SD sama-sama tahu kalau 5×5 sama dengan 25. Hanya saja siswa pertama hanya tahu dari hafalan tabel perkaliannya, sementara siswa lainnya tahu kalau 5×5 sama dengan 5 yang diulangi sebanyak 5 kali sehingga totalnya 25. Dengan kata lain, siswa pertama mengetahui jawabannya, sementara siswa kedua memahami konsepnya.

“Mengetahui” dan “memahami” sebenarnya serupa tapi tidak sama. Mengetahui bersifat statis, mengacu pada fakta yang berbeda. Sementara memahami bersifat aktif, menggambarkan kemampuan untuk menganalisis dan menempatkan fakta-fakta tersebut di dalam konteks yang tepat untuk membentuk sebuah gambaran yang lebih besar.

Persoalan mengenai penyamaan istilah “pengetahuan” dan “pemahaman” adalah bentuk dari ketidaktelitian linguistik yang ternyata tidak hanya menjangkiti siswa tapi juga peneliti bahkan golongan lainnya dalam kehidupan sosial. Kekacauan ini bahkan bisa memberikan pengaruh pada bagaimana cara seseorang memahami hidupnya.

Kita yang memiliki kepercayaan atau agama tahu kalau ada serangkaian ritual yang harus kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Tapi sayangnya banyak yang tak paham mengapa mereka harus melakukan ritual-ritual itu.

Di samping itu, dunia yang telah berkembang berkat adanya teknologi informasi dan komunikasi, seperti internet, memungkinkan setiap orang dapat mengakses begitu banyak informasi, tapi celakanya kekacauan linguistik tadi membuat masyarakat kita kebingungan untuk untuk memilih mana informasi yang harus dipahami dan mana yang cukup diketahui saja.

Implikasinya adalah banyak orang yang lebih mencurahkan pikirannya untuk hal-hal yang dominan sensasi, tapi mengabaikan hal-hal yang padat dengan esensi.

Kembali pada bahasan kita di awal tadi, pengetahuan dan pemahaman itu serupa tapi tak sama. Pengetahuan barulah awalannya, yang harus diikuti dengan upaya kita untuk memahami pengetahuan yang kita peroleh itu. Sebab, dengan pemahaman yang baik seseorang akan dapat bijak menentukan pilihan dan tindakan dalam kehidupannya.[]