Caraku Sempurnakan Hijrah dan Semangat #AyoHijrah Bersama Bank Muamalat Indonesia

Terlahir sebagai anak sulung itu ada senang dan ada gak senangnya. Senangnya ya, kita dapat perhatian lebih dan disambut dengan suka cita oleh orang tua dan seantero keluarga besar. Disayang sama bapak dan emak, nenek dan sebagainya. Dibelikan baju dan perlengkapan yang serba baru–bukan barang warisan dari kakak-kakak kita. Senang deh pokoknya.

Namun di samping kesenangan itu, ada hal besar yang ditanggung oleh si anak sulung, yaitu tugas sebagai partner bagi orang tuanya dalam mendidik adik-adik. Dan, percayalah itu tidaklah mudah.

Ketika ada cekcok di antara kedua orang tua misalnya, si Sulung adalah yang paling terpukul dan paling bertanggung jawab menyelesaikan itu. Ketika adik-adik bikin ulah, maka si Sulung yang biasanya didakwa bersalah. Mau protes gimanaaaa, faktanya memang seperti itu jalan hidup anak pertama. Jadi kuterima apa adanya.

Dan kalau boleh jujur, saya terus merasa malu jika teringat dengan kesalahan-kesalahan masa lalu. Entah berapa kali saya membuat air mata ibu berderai mengaliri pipinya. Entah berapa kali saya membuat wajah ayah memerah menahan amarahnya. Entah berapa kali saya membuat keluarga khawatir akan menjadi apa saya di masa depan nantinya. Ya Allah, hamba-Mu ini penuh dosa. 

Di beberapa kesempatan, saya terpekur cukup lama. Seharusnya anak sulung itu menjadi teladan, bukan? Seharusnya anak sulung itu menjadi yang paling soleh dibanding lainnya. Tidak hanya berstatus sebagai anak yang paling tua, ia juga harus berproses menjadi yang paling dewasa. Jika tua adalah keniscayaan, namun dewasa adalah buah perjuangan.

Tepat ketika memulai masa kuliah S1, dengan “berdarah-darah” saya mulai perjuangan hijrah itu.

 

Semua (Semakin) Berubah Setelah “Negara Api” Menyerang

 

“Kalau sudah mampu rasanya, kenapa gak nikah aja?” sentil temanku beberapa tahun lalu. Kutanggapi dengan tertawa.

Konon, menikah adalah suatu siasat yang hebat untuk istiqomah dalam hijrah. Tapi melaksanakan siasat itu bukan hal yang mudah karena ini dan itunya. Ya, teman-teman tahulah. Cumaaa, bagaimanapun pejuang hijrah itu harus berani, berani mengambil keputusan jika memang itu punya dampak baik pada diri sendiri.

Pada akhirnya, Juli 2018 lalu, saya memutuskan untuk menikah meskipun belum punya pekerjaan yang tetap karena masih berstatus mahasiswa di pascasarajana.

Rintangannya bukan tidak ada, malah banyak sekali. Di mulai dari meyakinkan kedua orang tua, minta izin buat nikah ke profesor pembimbing di kampus–yang bikin jantung berdegup gak karuan takut hubungan “kerja” rusak karena kenekatan. Belum lagi menabung untuk hajatan, meyakinkan calon mertua dan sebagainya. Semua itu luar biasa menyita pikiran, waktu dan tenaga. Tapi semua itu worth it banget lah, sebab bisa punya partner dalam menjalani proses hijrah itu, luar biasa.

Pasca nikah, saya dan istri mulai membuat program-program yang bisa mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Sebagai suami, tentu saya gengsi kalau tidak lebih soleh dari istri. Yah, meskipun hafalan Qur’an saya jauh lebih sedikit dari dia, saya bertekad untuk dapat lebih di ibadah yang lainnya.

Setelah nikah, saya juga lebih sering mendirikan salat malam, belajar menghafal dan merapal doa-doa serta memperbanyak sabar dan syukur. Alhamdulillah, kami pun bisa belajar konsisten dalam menjalankan puasa sunnah Senin-Kamis. Pokoknya semua berubah semenjak “negara api” menyerang, maksud saya setelah menyempurkan separuh agama.

Satu kesimpulan yang dapat saya tarik adalah ternyata besarnya amanah yang kita tanggung bisa bikin kita lebih bersemangat hijrah atau memperbaiki diri.

Jadi guys, ehem, tertarik untuk menikah juga?

“Ya tertarik lah, Bang. Cuma ya ini, itu,…” pikir sebagian pembaca.

“Ah, mentang-mentang…” pikir sebagian lainnya.

 

Banyak Langkah dalam Menyempurnakan Hijrahmu

 

Lahir sebagai anak sulung, bagi saya, adalah sebuah takdir yang indah. Ia memacu saya untuk dapat berhijrah. Saya beranikan diri untuk menikah juga agar bisa istiqomah. Namun, langkah untuk menyempurnakan hijrah nyatanya bukan cuma itu saja. Ada banyak lho langkah lainnya yang bisa kamu lakukan agar hijrahmu dapat sempurna, beberapa contohnya adalah sebagai berikut ini.

#1 Bergabung dengan komunitas hijrah

Hal yang membantu saya berhijrah ketika mulai kuliah dulu adalah keaktifan saya di dalam sebuah lembaga dakwah kampus. Waktu itu berat banget karena banyaknya tugas organisasi sampai target amalan yaumi (harian), tapi semuanya saya usahakan hingga menjadi kebiasaan. Jika memang di hati kita ada niat untuk berhijrah, jangan ulur waktu teman-teman, segera wujudkan. Dan akan sangat baik jika kita bergabung dengan komunitas hijrah untuk menjaga semangat itu.

#2 Memilih tinggal di lingkungan yang mendukung

Hijrah kita belum sempurna jika belum mencari lingkungan yang baik–yang dapat mendukung perjuangan hijrah itu. Lingkungan itu sangat berpengaruh lho teman-teman. Kalaulah kita bisa tinggal di lingkungan di mana orang-orang rajin ke mesjid, kita bakal tertular semangat rajinnya. Kalaulah kita tinggal di lingkungan yang sering ada kajian agamanya, kalaupun kita tidak datang minimal bisa dengar dari pengeras suara mesjidnya, hehe.

#3 Memperdalam pemahaman ilmu agama

Beramal tidak bisa tanpa ilmu. Ilmu sangat erat hubungannya dengan amal, karena amal adalah buah dari ilmu. Oleh karena itu, seorang pejuang hijrah yang baik harus bersemangat untuk menimba ilmu agama. Beruntung zaman kita sekarang sudah maju, kalau tidak berkesempatan untuk hadir langsung di kajian, kita bisa lihat siarannya di YouTube dan sebagainya. Namun mesti pandai juga memilah-milah kajiannya ya–jangan sampai salah mengambil ilmu.

#4 Memasang target pencapaian tertentu

Sejatinya hijrah bukan soal ganti kostum semata. Tidak ada jaminan orang yang kostumnya sudah syar’i banget memiliki amalan yang juga bagus (pakai banget). Mengubah pakaian barulah satu dari sekian banyak perjuangan hijrah. Hijrah tidak akan pernah sempurna kalaulah kita belum bisa meningkatkan amalan kita. Dan cara meningkatkan amalan adalah dengan membuat target-target pencapaian. Misalnya mau baca atau hafal Qur’an berapa, mau ngerjain salat tahajjud berapa kali dalam seminggu dan sebagainya.

Tapi usahakan ya teman-teman, target itu cukup kita dan Allah saja yang tahu. Tak perlu dikabarkan ke orang banyak, apalagi sampai dipublikasikan di sosial media. Bukan apa-apa, takutnya pahalanya menguap karena terjangkit riya.

#5 Memulai gaya hidup syariah

Muara dari semua langkah menyempurnakan hijrah itu adalah memulai gaya hidup syariah atau sesuai dengan tuntunan agama Islam. Semuanya, gak bisa tebang pilih ini dan itu saja. Mulai dari sosial budaya, politik hingga ke ekonomi. Bahkan memilih makanan dan kosmetik yang mau dibeli sekalipun harus mempertimbangkan aspek syariahnya, tepatnya memperhatikan kehalalannya.

Lagipula, sekarang sudah banyak kok produk-produk syariah, salah satunya adalah Bank Syariah yang hijrah dari konsep perbankan konvensional yang mengandung riba. Sebagai seorang pejuang hijrah, kita mesti aware dengan bahaya riba yang ngeri banget, bisa bikin hidup kita gak berkah dan menjebloskan kita ke neraka. Naudzubillah.

Oleh karena itu, perjuangan hijrah kita belum sempurna kalau kita belum hijrah menggunakan bank syariah untuk kebutuhan tabung-menabung dan transaksi lainnya. Untuk ini, saya dan kamu bisa mempercayakannya pada Bank Muamalat Indonesia yang merupakan bank murni syariah pertama di Indonesia yang sudah teruji kualitas pelayanannya.

 

#AyoHijrah Bersama Bank Muamalat Indonesia

 

Teman-teman yang disayangi oleh Allah, semua perjuangan hijrah yang kita jalani muaranya akan sama, yaitu mewujudkan gaya hidup syariah atau Islami. Biar bisa sampai ke muara ini, kita perlu menjalankan Islam secara kaffah alias menyeluruh. Gak bisa ditawar alias nego-nego.

Nah, hal ini jua lah yang mendorong Bank Muamalat Indonesia untuk menggalakkan gerakan #AyoHijrah. Gerakan ini bertujuan untuk mengajak masyarakat berhijrah, tidak cuma dalam hal beribadah tapi juga dalam mengelola keuangan.

Namun, gimana sih sebenarnya gekaran #AyoHijrah ini? Yuk, kita ta’aruf-an dengan kampanye yang sudah diluncurkan sejak 8 Oktober 2018 lalu ini.

Begini ternyata gerakan #AyoHijrah itu

#AyoHijrah adalah gerakan yang diinisiasi oleh Bank Muamalat Indonesia untuk mengajak kita-kita, masyarakat Indonesia, ini untuk menjadikan Islam tidak hanya sebagai gaya hidup (life style) tapi juga jalan hidup (way of life). Tentu kalau kita benar-benar ingin jadiin Islam sebagai way of life, semua aspek harus kita hijrah-kan. Bank Muamalat, sebagai expert di bidang perbankan syariah di Indonesia, ingin mengambil peran penting dalam mengajak kita-kita hijrah ke layanan perbankan syariah untuk hidup yang lebih berkah.

Berbagai kegiatan digelar demi perubahan yang Islami

Dalam rangkaian kampanye #AyoHijrah ini ada berbagai kegiatan yang digalakkan oleh Bank Muamalat lho. Kegiatan itu seperti seminar/edukasi tentang perbankan syariah, open booth di pusat kegiatan masyarakat, kajian Islami dengan narasumber dari kalangan ulama, hingga pemberdayaan mesjid sebagai salah satu agen pebankan Syariah. Tujuan dari semua kegiatan ini adalah membantu masyarakat untuk menyempurnakan hijrahnya.

 

Tak cuma kita, Bank Muamalat ikutan hijrah juga

Selain mendorong dan mengedukasi masyarakat agar hijrah, Bank Muamalat sendiri juga ikutan menyempurnakan hijrahnya lho teman-teman. Hal itu terlihat dengan upaya Bank Muamalat memberikan nama baru bagi produk-produknya seperti Tabungan iB Hijrah, iB Hijrah Haji dan Umrah, iB Hijrah Rencana, iB Hijrah Prima, iB Hijrah Prima Berhadiah, Deposito iB Hijrah, Giro iB Hijrah. Selain itu Bank Muamalat juga sedang berupaya menggolkan program Pembiayaan Rumah iB Hijrah Angsuran Super Ringan dan Fix and Fix, ini masih dalam proses pengajuan kepada Regulator/OJK.

Orang terdekat saya yang sudah jadi nasabah Bank Muamalat Indonesia adalah istri saya sendiri. Si “Ibu Negara” bisa dibilang nasabah “garis keras” Bank Muamalat Indonesia–jangan diartikan negatif lho ya. Konon ia telah punya rekening tabungan sejak duduk di bangku SMA, sejak tahun 2007 hingga sekarang.

Selama 12 tahun, dia bilang merasa nyaman dan aman menabung di Bank Muamalat karena terjamin kemurnian syariahnya. Dan hebatnya lagi, si doi sudah buka tabungan haji di Bank Muamalat juga. Saya jadi merasa jauh tertinggal, tapi perasaan itu harusnya bisa menjadi semangat untuk ikut hijrah juga, bukan?

Bank Muamalat dan Upaya Menyambut Era Industri 4.0

Sebagai bank murni syariah pertama yang sudah berdiri semenjak tahun 1992, Bank Muamalat terus menjaga dan meningkatkan kualitas pelayanannya. Tidak menginduk dari bank lain hingga memiliki Dewan Pengawas Syariah misalnya. Layanan keuangannya juga lengkap, yang ditunjang dengan berbagai fasilitas seperti Mobile Banking, Internet Banking  dan jaringan ATM dan Kantor Cabang hingga ke luar negeri.

Selain itu, dalam rangka menyambut era industri 4.0, Bank Muamalat juga menghadirkan program-program yang berbasis teknologi. Semua itu untuk mewujudkan cita-cita menjadi pusat dari Ekosistem Ekonomi Syariah dan turut membangun industri halal di Indonesia dengan memanfaatkan perkembangan teknologi.

Baru-baru ini Bank Mualamat launching aplikasi DIN (Digital Islamic Network) dan aplikasi AyoHijrah yang memudahkan para calon nasabah atau nasabah melakukan pembukaan rekening di Bank Muamalat tanpa harus mendatangi kantor cabang.

Bank Muamalat sangat pas untuk menjadi partner hijrahmu, khususnya di layanan perbankan syariah, karena bank ini telah teruji dengan banyaknya penghargaan yang didulangnya. Salah satu dari penghargaan itu adalah Peringkat 1 – Satisfaction, Loyalty, and Engagement Award 2019. Soal keamanan tabungan kamu tidak perlu khawatir karena Bank Muamalat terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia.

 

Hijrah Bukan Perkara Mudah, Mari Berjuang Istiqomah Bersama

 

Teman-teman, hijrah itu memang berat kalau dijalani sendirian, tapi menjadi lebih ringan ketika bersama-sama. Berteman dengan sesama pejuang hijrah itu penting, tapi yang tak kalah penting juga adalah saling memberi semangat dan apresiasi.

Misalnya nih kalau kamu perempuan, terus ada temanmu yang baru pakai hijab, dekati dan pujilah ia. “Kamu jadi tambah cantik deh setelah pakai hijab.” pujimu. Bukankah perempuan suka dipuji? Makanya mereka sering memuji sesama mereka. “Makasih, kamu juga cantik…” balas yang dipuji, lalu kalian tertawa bersama.

Eh tapi, cara yang sama jangan digunakan antar lelaki ya, karena kita diciptakan dengan kecenderungan yang berbeda.

Well, kecepatan hijrah setiap orang itu tidaklah sama. Ada memang pejuang hijrah yang bisa langsung berubah 180 derajat, namun ada juga mereka yang berangsur-angsur mengubah dirinya. Slow but sure. Pelan tapi pasti. Selama kita terus maju tidak ada masalah, asal jangan mundur ke belakang lagi.

So, melalui tulisan ini saya ingin mengajak teman-teman semua, yuk sempurnakan hijrah kita. Sempurnakan dengan menerapkan Islam secara sepenuhnya–sebagai way of life kita. Khusus di urusan perbankan, alhamdulillah ada Bank Muamalat Indonesia yang siap membantu kita mengelola keuangan sesuai syariat agama kita.

Jadi, jangan mengulur waktu, #AyoHijrah bersama Bank Muamalat Indonesia dan raih hidup yang lebih berkah di dalam keridhoan-Nya.[]

Bagikan Yuk!

Author: Fadli Hafizulhaq

Seorang kandidat doktor yang berasal dari kampung kecil di pinggiran pantai Sumatera Barat. Gemar menulis semenjak duduk di bangku Sekolah Dasar. Blog ini adalah catatan virtualnya yang mungkin saja penting atau tidak. Email: hafizulhaq.fadli@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *