Jangan Takut Berbagi, 7 Hal Ini Akan Buat Kamu Sadar Bahwa Berbagi Itu Mudah

Di dunia ini ada banyak sekali varian penyakit psikologis yang bisa menyerang setiap orang. Salah satunya adalah fobia. Fobia ini juga banyak pula turunannya,  ada yang paling umum hingga ke yang langka sekalipun. Sebagai contoh, fobia atau ketakutan yang berlebihan akan ketinggian dengan nama kerennya “acrophobia” hingga fobia dengan perempuan atau disebut juga “gynophobia”–lebih khusus lagi bahkan ada fobia dengan wanita cantik yang disebut “caligynephobia”.

Ada-ada saja ya teman-teman.

Tapi apa hubungannya paragraf pembuka mengenai fobia dengan judul artikel kita di atas? Ya, jelas ada dong. Selain sekian banyak jenis fobia di dunia ini, ada pula ketakutan yang menjangkiti banyak manusia di bumi ini. Ia disebut sebagai bagiphobia.

Eh, gak kok. Becanda. Mana ada istilah fobia yang seperti itu. Cuma ya memang kenyataannya banyak orang yang takut berbagi. Dan bisa jadi itu ada sangkut pautnya dengan fobia-fobia lainnya. Misalnya saja, miskinphobia.

“Bikin istilah baru lagi, Bang?”

Eh, maaf. Becanda (lagi). *cengengesan*

 

7 Hal Ini Akan Buat Kamu Sadar Bahwa Berbagi Itu Mudah

 

Sejauh yang saya tahu, memang tidak ada istilah khusus bagi orang yang takut berbagi. Namun, tak sedikit orang di dunia ini–mungkin termasuk kita–yang masih enggan untuk berbagi harta, tenaga dan ilmunya karena satu, dua atau beberapa alasan tertentu.

Mungkin saja karena mendapatkan sesuatu itu tidak mudah, sehingga membagikannya juga susah. Bisa jadi karena diri kita merasa belum cukup mampu untuk berbagi dan segala macamnya. Tapi percaya deh teman-teman. Berbagi itu bukan soal mampu atau tidak mampu, melainkan mau atau tidak mau.

Nah, jika saat ini kita masih belum mau untuk berbagi–atau masih ragu-ragu. Beberapa hal itu tampaknya perlu kita renungkan bersama.

 

#1 Berbagi itu media untuk mempelajari keikhlasan

Saya masih ingat betul momen-momen di mana ibu saya marah ketika saya berkesempatan pulang kampung. Ya, bagaimana tidak marah, seringnya saya pulkam itu kalau sudah sakit atau demam.

“Pulangnya kalau sudah sakit aja ya.” sindir ibu saya.

“Sudah, tidak usah urusi orang lain itu. Urus saja diri sendiri, kalau kita sakit kan kita sendiri yang rugi” kata ibu saya (lagi) yang tak ingin anak sulungnya sakit karena keseringan sibuk di kegiatan kemahasiswaan di kampus.

Ketika masih duduk di bangku S1 dulu saya bisa dibilang cukup aktif, akhir pekan seringkali diisi oleh kegiatan di kampus. Menjadi panitia ini dan itu. Menjadi mentor mahasiswa baru dan sebagainya. Awalnya sulit banget, masih pikir-pikir “apalah keuntungan bagi diri saya sibuk-sibuk begini?”, tapi memang keikhlasan itu sesuatu yang bisa didapatkan dengan terus belajar. Gak instan.

Berbagi. Ikhlaskan. Kalau belum ikhlas, berbagi lagi. Ikhlaskan. Begitu terus sampai kita sampai ke tahap “mau diketahui orang atau tidak diketahui orang sama saja”. Atau sampai ke tahap ikhlas yang paripurna sesuai pribahasa “tangan kanan memberi, tangan kiri tak tahu-menahu”.

“Insyaa Allah nanti akan ada manfaatnya, Ma. Kan kita bantu orang lain.” kata saya meyakinkan perempuan nomor wahid di hidupku itu.

 

#2 Berbagi itu memberikan hak orang lain di yang kita punya

Sebagaimana yang para ustadz bilang, ada hak orang lain di setiap apa yang kita punya. Spesifiknya memang kepada harta, tapi itu tidak menutup kemungkinan yang lainnya. Konon, dari harta yang kita miliki ada sekian persen hak orang lain yang mesti, kudu, wajib dikeluarkan dalam konsep yang disebut “zakat”. Sedangkan yang gak wajibnya bisa dalam bentuk sedekah, infak dan wakaf. Keempat sekawan ini biasanya disebut sebagai ZISWAF.

Ketika kita berbagi dalam bentuk ZISWAF ini sebenarnya bukanlah kita memberikan harta kita pada orang lain, melainkan membersihkan harta kita dari hak orang lain yang ada di dalamnya. Sehingga tak perlu kita enggan untuk berbagi. Lagipula sekarang banyak kok lembaga ZISWAF di Indonesia, salah satunya adalah Dompet Dhuafa. Jadi berbagi rezeki jadi lebih mudah.

Dokumen Briefing Media DD Singgalang Padang (Dok. Pribadi)

 

#3 Tak mesti harta, ringankan beban orang lain dan mudahkan kesulitannya

Faktanya memang tak semua orang memiliki kecukupan harta. Tapi jangan sampai keterbatasan harta membuat kita takut untuk berbagi. Yang bisa kita bagi tidak cuma harta kok, kita bisa berbagi hal lainnya juga. Sebagai contoh, ketika ada bencana terjadi kita bisa menjadi relawan yang terjun ke lokasi. Meringankan beban orang lain atau memudahkan urusannya juga sangat membantu. Serta banyak contoh lainnya dalam kehidupan ini.

 

#4 Berbagi itu sebenarnya titip-menitip

Ada sebuah cerita yang viral banget di internet, yaitu tentang motivasi seorang pengusaha kaya dalam membagi-bagikan hartanya. Konon, ia gampang saja bersedekah dan sebagainya dengan jumlah yang besar. Rupa-rupanya, ia berani bersedekah sebanyak entah karena sedang berusaha “menitipkan hartanya” pada orang lain.

Menitipkan gimana nih? Ya, nitip.

Harta memang tidak bisa dibawa mati, tapi bisa kita titip ke orang lain lalu dipanen lagi di akhirat nanti. Ketika kita bersedekah, zakat atau lainnya itu sebenarnya kita sedang “menitipkan” harta kita pada orang lain karena kelak Allah akan kembalikan di akhirat.

Nah, jadi daripada uangnya di-deposito-kan di bank dengan harapan kembalinya nambah, mending dibagikan ke yang membutuhkan. Dijamin kelak di akhirat dikembalikan dengan jumlah yang dilebihkan. Dan hebatnya lagi, tanpa riba.

 

#5 Berbagi dengan ilmu yang kita miliki

Berkat undangan seorang teman, Selasa 26 Maret lalu saya menghadiri acara briefing media yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa Singgalang. Acara itu dilaksanakan dalam rangka launching program #JanganTakutBerbagi. Saya dan beberapa teman-teman media dijamu di sebuah Rumah Singgah Pasien yang merupakan salah satu program DD Singgalang.

Sepanjang penuturan Pimpinan Cabang, kami memperoleh banyak sekali informasi mengenai betapa berharganya bantuan dari kita untuk mereka yang belum beruntung secara finansial. Acara waktu itu menyisakan kesan yang mendalam di hati saya ketika mendengar kisah-kisah haru dari para penghuni Rumah Singgah Pasien tersebut–hal yang membuat saya merasa masih beruntung dan tergerak untuk melakukan sesuatu.

Briefing Media DD Singgalang tentang program #JanganTakutBerbagi (Dok. Pribadi)

Teman-teman pembaca, kita mungkin tidak punya banyak harta untuk dibagi. Terutama kita-kita yang masih mahasiswa atau kaum dewasa muda yang masih belajar untuk mapan. Tapi berbagi tak melulu soal harta, bisa dengan ilmu juga.

Memberi bantuan berupa uang atau barang tak selamanya dapat mengangkat taraf kehidupan kaum dhuafa, sebab uang bisa habis begitu saja. Ada peluang yang besar banget yang bisa kita ambil di sini, yaitu memberikan edukasi. Edukasi tentang mengelola uang dengan baik, atau bahkan bagaimana melipat gandakannya dengan menjalankan usaha. Konon, salah satu target Dompet Dhuafa adalah membuat mustahik bisa menjadi muzakki. Saya kira, kita pun dapat berpartisipasi.

Baca juga: Jelang Ramadhan, Dompet Dhuafa Singgalang Sosialisasikan #JanganTakutBerbagi

Satu hal yang juga disampaikan oleh Mas Hadie, pimpinan cabang DD Singgalang, tujuan mereka mengundang insan media adalah agar dapat menyebar luaskan informasi: ternyata banyak lho ternyata masyarakat kita, khususnya umat Islam, yang perlu dibantu. Dengan menulis dan membagikan itu, semoga masyarakat bisa tergerak untuk berpartisipasi. Apalagi tidak lama lagi Ramadhan akan tiba.

 

#6 Bahkan senyumpun boleh kita bagi

Bahkan jika kita tak punya apapun, tak ada yang bisa menahan kita untuk berbagi. Pasalnya, bahkan senyumpun dapat dibagi. Senyum pun adalah sedekah. Tak ada alasan untuk takut berbagi, bukan?

 

#7 Berbagi tak akan rugi

Selama hampir 5 tahun menjalani studi di jenjang S1, saya tidak pernah menghitung berapa banyak waktu libur saya terpakai untuk bersibuk-sibuk di kegiatan kemahasiswaan. Tidak pula menghitung berapa banyak uang yang saya keluarkan untuk keperluan ini dan itu. Sudah bukan rahasia lagi bahwa kantong anggota adalah sumber pendanaan dalam kegiatan-kegiatan lembaga mahasiswa di kampus–khususnya lembaga dakwah kampus. Di tengah keterbatasan, kami masih berusaha mengisi celengan infak yang lewat di hadapan.

Sementara itu, sudah sekian kali juga saya “ngeles” pada ibu saya bahwa insyaa Allah di masanya nanti apa yang kita bagikan dengan ikhlas akan kembali pada kita.

Dan masyaa Allah walhamdulillah, tidak lama setelah lulus S1, saya lulus sebagai salah satu mahasiswa unggul yang dapat kesempatan meneruskan pendidikan S2 hingga S3 dengan beasiswa penuh dari pemerintah. Pada saat itu saya bilang ke ibu “mungkin inilah balasan Allah karena kita sudah banyak bantu orang lain”.

Sekarang ini ibu saya sudah tidak masalah lagi jika saya punya kesibukan ini dan itu. Mengisi pelatihan dan sebagainya. Asal jangan terlalu sibuk dan pandai menjaga kesehatan, pesan beliau.

Well, itu mungkin cerita biasa saya bahwa berbagi itu tak akan membuat rugi. Saya kira teman-teman punya cerita yang lebih hebat lagi.

 

Jangan Takut Berbagi, Mari Berbagi Bersama Dompet Dhuafa

 

Pada akhirnya memang keputusan untuk mau atau tidak mau berbagi itu adalah hak pribadi. Kita bisa berbagi harta, ilmu dan tenaga jika kita mau. Namun bila tidak, itu pilihan kita. Hanya saja dalam kehidupan ini selalu berlaku hukum yang pasti. Yaitu ada aksi dan reaksi. Ketika kita memberi, mungkin kita tidak akan mendapatkan itu kembali dalam bentuk yang sama tapi yang jelas ia akan kembali juga.

Harta yang kita bagikan bagi yang membutuhkan, kembalinya mungkin bukan dalam bentuk harta juga tapi dalam bentuk kesehatan atau kepanjangan umur dan sebagainya. Apa yang kita bagikan juga tak pasti kembali pada saat itu juga, mungkin Tuhan menundanya sampai pada waktu tertentu, di mana memang pada saat itu kita sedang sangat membutuhkan “kembalian” itu.

Dan lagi, zaman sekarang ini berbagi itu sudah mudah sekali teman-teman. Ketika kita tidak bisa menjangkau langsung orang yang patut dibantu, kita bisa mengandalkan lembaga sosial untuk itu. Salah satu lembaga sosial, dalam hal ini pengeloa dana ZISWAF, yang saya rekomendasikan adalah Dompet Dhuafa.

Halaman muka situs dompetdhuafa.org

Dompet Dhuafa (DD) adalah lembaga sosial atau kemanusiaan yang telah berdiri sejak tahun 1994. Kini lembaga filantropi yang identik dengan warna hijau ini telah memiliki cabang di dalam dan luar negeri. Program-program yang diusungnya meliputi pendidikan, kesehatan, ekonomi, pengembangan sosial hingga advokasi.

Dengan adanya Dompet Dhuafa, berbagi bisa menjadi lebih mudah. Kenapa demikian? Karena ada banyak pilihan layanan untuk menyalurkan donasi di Dompet Dhuafa yaitu melalui kanal donasi online, transfer bank, counter, care visit, tanya jawab zakat, edukasi zakat dan laporan donasi. Oleh karena itu jangan takut berbagi, mari donasi dari kini dan diperbanyak di Ramadhan nanti. #JanganTakutBerbagi #SayaBerbagiSayaBahagia []

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jangan Takut Berbagi yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”

Bagikan Yuk!

Author: Fadli Hafizulhaq

Seorang kandidat doktor yang berasal dari kampung kecil di pinggiran pantai Sumatera Barat. Gemar menulis semenjak duduk di bangku Sekolah Dasar. Blog ini adalah catatan virtualnya yang mungkin saja penting atau tidak. Email: hafizulhaq.fadli@gmail.com

2 Replies to “Jangan Takut Berbagi, 7 Hal Ini Akan Buat Kamu Sadar Bahwa Berbagi Itu Mudah

  1. Tampilanya menarik banget, numpang nanya mas, cara menmbuat gambar tulisan kayak gini gimana ya. ” Jangan Takut Berbagi, Mari Berbagi Bersama Dompet Dhuafa” yang back groundya warna hijau.

  2. Terima kasih, Mas. Itu pakai kode html. Jadi tag heading-nya saya edit. Kodenya begini:

    (h3 style=”background: #057623; padding: 8px; color: white; text-align: center;”)Jangan Takut Berbagi, Mari Berbagi Bersama Dompet Dhuafa(/h3)

    Kode #057623 adalah kode warna, bisa diganti-ganti, tinggal cari aja di Google “Html color code”

    Ganti tanda kurung biasa ini () dengan <>, soalnya di komentar kode html-nya kebaca, kalau saya tulis benar jadi kayak yang di dalam artikel 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *