Memilihmu dengan Penuh Kesadaran

Orang bijak bilang, pilihan yang besar atau kecil dalam kehidupan kita akan memberikan dampak di masa yang akan datang. Mungkin bukan sekarang, tapi besok atau besok-besoknya lagi. Besar ataupun kecil. Disadari atau tidak disadari. Maka memilih gak boleh serampangan, apalagi dengan mengundinya dengan buah baju atau kepingan mahkota bunga, melainkan harus dengan kesadaran.

Alkisah, hiduplah seekor kancil yang cerdik. Setiap ia merasa lapar ia mampir ke ladang ketimun milik Pak Tani. Buat apa? Ya, buat nyuri ketimun, dong. Soalnya Pak Tani gak jualan tahu bulat (?). Yang namanya kancil ya (sudah dari dulu dikisahkan) cerdik ya. Makanya si Kancil selalu nyolong ketimun ketika Pak Tani gak di ladang. Alhasil, Pak Tani mencak-mencak setelah menemukan ladang ketimunnya yang rusak.

Singkat cerita nih, Pak Tani memikirkan cara untuk menjebak si Kancil. Lantas dipasangnya lah jebakan di ladang. FYI, kancil dalam cerita masa kecil kita jauh lebih pintar dari Swiper si rubah pencuri dalam serial DORA The Explorer yang bisa disetop hanya dengan bilang “Swiper jangan mencuri” sebanyak 3 sampai 4 kali.

“Kau ingin menjebakku dengan jebakan seperti ini? Ho ho ho, tidak semudah itu, Fergusso!” Kancil yang cerdik menyadari dan tidak termakan oleh jebakan itu.

Esoknya Pak Tani KZL pakai banget dan memasang jebakan lainnya. Tapi ya, masa Kancil yang cerdik mau ditipu dengan jebakan yang mainstream pakai banget, ya gak kena lah. Hingga akhirnya Pak Tani kepikiran jebakan yang anti-mainstream.

Hari pun berlalu dan sang surya mengintip kembali. Kancil yang lapar kembali ke ladangnya Pak Tani. Ditengok-tengoklah sama si Kancil kiri dan kanan, muka dan belakang, atas dan bawah. “Hahaha, akhirnya Pak Tani tua capek dan gak pasang jebakan lagi” gumam si Kancil. Kancil terus mengitari ladang hingga ia menemukan sebuah orang-orangan dari jerami.

“Buelehhh, aku ditakut-takuti pakai orang-orangan beginian. Ha ha ha ha ha. Oppssss!” remeh si Kancil.

Dengan pongah, si Kancil menendang orang-orangan itu tanpa tahu kalau Pak Tani sudah melumurinya dengan lem super duper kuat. Hingga akhirnya si Kancil tertangkap dan dibawa pulang buat disembelih dan dibuat kancil guling.

Yak teman-teman pembaca budiman, apa pesan yang bisa kita dapatkan dari sepotong kisah Kancil dan Pak Tani tadi?

Yak, PASS!! Ceritanya ditulis ulang dengan lebay!

Gak. Gak. Gak. Terlepas dari konten ceritanya, menghadirkan kisah kancil sebagai bacaan anak sekolahan tingkat dasar (SD) pada zaman itu adalah bentuk pilihan yang tidak diambil dengan penuh kesadaran. Kecerdikan kancil dicitrakan dengan perbuatan-perbuatan yang salah sehingga itu memberikan amanat yang salah pada pembaca: tirulah kancil yang cerdik yang punya sekian muslihat untuk memuaskan keinginan pribadinya. Pilihan yang salah ini kemudian membangun mental yang bobrok pada anak-anak kecil pada saat itu (era 90-an) yang kini telah dewasa–dan salah satu anak itu adalah saya atau mungkin juga kamu.

Cerita yang saya tuliskan tadi masih sepotong, sepotongnya lagi adalah cerita bagaimana Kancil menipu Anjing untuk menggantikannya di dalam kurungan.

“Duhai Kancil, apa yang kamu lakukan di dalam kurungan itu?” tanya sang Anjing.

“Siapakah itu, oh ternyata kau, Anjing” jawab sang Kancil.

“Woy, selow dong, gak usah pakai nge-gas ngapa…”

“Kau kan memang anjing, dungu!”

“Eh, iya iya”

Kancil menghela napas panjang dan memasang wajah ceria.

“Kau tidak tahu ya? Pak Tani akan menjamuku. Ia akan memberikanku makanan yang banyak. Ia akan memakaikanku pakaian yang bagus.” tipu si Kancil.

“Benarkah itu? Aku sudah lama menjadi peliharaannya tapi tidak pernah dapat makanan enak. Aku hanya dapat makanan sisa.” terang Anjing.

“Itulah bedanya kau dengan aku, aku ini spesial gitu lho….” tipu Kancil lagi, Anjing tertunduk lesu. “…tapi karena aku baik, dan kau lebih pantas menerima penghargaan itu, ini jika kau mau saja ya”

“Apakah itu Kancil?”

“Aku ikhlas untuk kau gantikan di dalam kurungan ini, biarlah aku kembali ke hutan, tempat di mana aku berada” olah si Kancil.

Kesudahannya? Ya, akhirnya anjing tadi bertukar tempat dengan kancil. Dan seterusnya. Dan seterusnya.

Pilihan dan Konsekuensi

Sejatinya dalam hidup setiap pilihan membawa serta konsekuensi dan tanggung jawab di belakangnya. Gak ada tuh pilihan yang kalau dipilih ia tidak memberikan sesuatu. Karena begitulah hidup bekerja. Dan karena hidup itu keras, kita seringkali tidak dibiarkan dapat memilih tanpa halangan dan beban pikiran yang seabrek jumlahnya. Selalu ada saja yang menghalangi dan mampu mengubah pilihan kita.

Parahnya lagi, terkadang kita terjerumus pada pilihan yang kita anggap benar tapi sebenarnya salah. Mungkin karena kita dibohongi, atau justru kita yang membohongi diri sendiri. Seperti kisah anjing yang ditipu oleh kancil tadi.

Artinya, memilih mesti dengan kesadaran. Pasalnya, ada hal yang menurut kita baik tapi menurut Tuhan tidak baik, sebaliknya ada hal yang menurut kita tidak baik tapi menurut Tuhan baik. Kita hanya manusia yang memiliki keterbatasan sehingga butuh usaha lebih untuk menyadari baik dan buruk. Oleh karena itu kita perlu membangun kesadaran untuk semua pilihan yang dihadapkan pada kita.

Dalam mengerjakan sebuah Tes Potensi Akademik, seorang peserta akan dihadapkan pada beberapa deret bilangan. Dalam deret itu ada satu atau dua bilangan yang hilang. Tugas peserta adalah memilih bilangan mana yang hilang dan pilihannya tertera pada pilihan ganda. Nah, agar dapat memilih bilangan yang benar, kita harus menghadirkan kesadaran akan pola deret bilangan yang kita hadapi sehingga kita mampu untuk menentukan jawaban dari pertanyaan atau soal secara benar. Dengan kata lain, kesadaran dibutuhkan agar kita bisa memilih dengan benar.

Pada cerita Kancil tadi misalnya, Kancil terjebak oleh orang-orangan sawah bikinan Pak Tani karena kesadarannya tidak terbangun disebabkan kepongahannya. Anjing ditipu oleh Kancil karena kesadarannya tidak terbangun karena kebodohannya.

Lho, kok kasar banget pilih diksi “kebodohan”?

Ya, karena kemampuan dalam mengenali kebenaran dari hubungan suatu pola atau mengenali kebenaran dari suatu fenomena ilmiah itulah yang disebut dengan kecerdasan.

Jika kancil cukup cerdas maka dia akan berpikir kenapa Pak Tani memasang orang-orangan setelah semua jebakannya gatot alias gagal total. Kalau anjing cukup cerdas harusnya dia pikir kalau memang akan diberikan kesenangan mengapa kancil justru di kurung.

Kisah Kancil, Pak Tani, dan Anjing tadi memanglah sebuah karya fiksi. Tapi seringkali fiksi hadir sebagai representasi fenomena di kehidupan nyata. Faktanya memang kehidupan kita penuh dengan berbagai jebakan dan tipu daya. Dan dibutuhkan kesadaran agar dapat menjalani hidup dengan baik dan benar.

Yah, lagi-lagi diksi “kesadaran” yang keluar. Pada akhirnya tulisan yang cukup panjang ini bermuara pada sebuah anjuran agar kita hati-hati dalam menentukan pilihan. Pastikan kita sadar secara penuh dalam memilih, karena banyak pilihan dalam kehidupan ini yang dapat memberikan dampak besar pada kehidupan kita setelahnya. Memilih membaca tulisan ini hingga selesai dan menyebarkannya, misalnya. Memilih presiden pada pemilu 2019 nanti. Hingga memilih kamu sebagai teman hidupku.

Semoga kita diberikan petunjuk agar tidak jatuh pada pilihan yang salah. Aamiin.[]

Bagikan Yuk!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *