Suatu sore, bakda ashar, ketika itu saya ingin memasang sepatu selepas melaksanakan sholat di mesjid kampus. Saya menghenyakkan pinggul di sebuah bangku semen panjang di sisi mesjid. Di sudut bangku yang lain, dua orang siswa SMA–mereka menggunakan pakaian putih abu-abu–tengah asyik sendiri. Yang satu memegang ponsel pintar, sedang satu lagi memegang mushaf Qur’an. Keduanya sama-sama sibuk, sama-sama sibuk membaca Al Qur’an.

Saya takjub. Tak banyak anak muda yang berani menampilkan ritual ibadahnya di depan umum. Rasanya ingin saya foto mereka berdua lalu dijadikan pelengkap yang manis untuk tulisan ini atau dipajang di media sosial dengan kepsyen “Mileneal islami, begini seharusnya generasi muda Islam masa kini”. Tapi ya, saya segera mengurungkan niat itu. Saya tak pandai mencuri-curi foto, dan saya tak ingin mereka terusik.

Di samping memang, saya juga malu karena saya pribadi belum sebaik itu.

Usia yang sudah lanjut bukanlah ukuran kedewasaan, sebab dewasa adalah sikap sementara tua barulah fisik. Sebagaimana kedewasaan, kemuliaan juga tidak bisa diukur dengan parameter yang tampak. Seseorang yang telah lama hidup belum tentu lebih mulia dari yang belum. Seseorang yang belajar di sekolah agama, belum tentu lebih mulia dari yang tidak.

Di samping itu, ukuran kemuliaan yang sejati tidak bisa dinilai oleh diri sendiri. Pun ia bisa dinilai oleh orang lain, penilaian manusia tidak luput dari kesalahan. Maka Allah lah sejatinya penilai yang baik. Nilai yang diberikan-Nya adalah nilai yang undebatable alias tidak mampu ditebak.

Seketika melihat dua anak sekolah itu, saya merasa mungkin mereka lebih mulia dari saya. Saya sudah hidup lebih lama dari mereka, tentu juga saya punya dosa yang lebih banyak pula. Serasa ditampar, kehadiran dua anak muda itu membawa saya kembali teringat pada masa di mana saya seumuran dengan mereka. Dan itu, buruk.

Kata orang bijak “Bumi Allah itu luas, dan ilmu tersebar di mana-mana”. Orang Minangkabau pun ikut membuat falsafah yang kurang lebih berarti sama “Alam takambang manjadi guru”. Sebenarnya jika kita renungi, segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini selalu disertai dengan hikmah di dalamnya. Ada pelajaran yang bisa diambil. Kita bisa belajar dari apa saja. Belajar dari siapa saja. Karena pelajaran itu bisa datang dari mana saja. Dan orang baik adalah orang yang senantiasa belajar dalam sepanjang kehidupannya: belajar menjadi pribadi yang baik, tidak hanya di mata manusia tapi juga di mata Sang Pencipta.[]