SDM Unggul: Kunci Memajukan Indonesia dan Mewujudkan Bonus Demografi

oleh | Des 13, 2019

Tidak sekali dua kali saya menemukan konten yang membandingkan antara pendidikan kita di Indonesia dengan negara lain di luar sana. Sebagai contoh, sistem pendidikan Finlandia. Dengan nada kagum, si kreator atau penyebar konten bertanya “kapan pendidikan Indonesia bisa seperti ini?”.

Melihat itu, rasanya saya ingin menuliskan sebuah komentar yang lantang: “Ya, gak bisa dibandingin, Bambang!”. Tapi niat itu saya urungkan, karena mereka bakal membalas dengan reaktif pula: “Ya, gak usah ngegas juga dong!”.

Jika kita melihat data, tak bisa dipungkiri Finlandia memang lebih baik dari Indonesia. Ranking Indeks Pembangunan Manusia (IPM) negara Eropa ini berada di peringkat ke-12 dunia, sedangkan IPM Indonesia masih di peringkat ke-111 dunia. Dari segi Pendapatan Domestik Bruto (PDB) per kapita, merujuk pada data Bank Dunia, PDB per kapita Finlandia berada di atas Indonesia dengan 49.648 USD per tahun, sedangkan PDB per kapita Indonesia baru 3.893 USD per tahun.

Ini menjadi alasan mengapa membandingkan Indonesia dengan Finlandia itu tidak tepat—bahasa kerennya adalah not apple to apple comparison. Sebagai negara berkembang, Indonesia masih berjuang untuk bisa mencapai tingkat di mana Finlandia berada.

Satu hal lagi yang membuat akselerasi IPM Indonesia lebih sulit, adalah karena Indonesia bangsa yang besar. Dengan total penduduk hampir 270 juta jiwa, tentu saja perlu kerja besar untuk meningkatkan kualitas pembangunan manusia—sementara Finlandia hanya dihuni oleh 5 jutaan jiwa.

Lantas, apakah ada harapan Indonesia menjadi bangsa yang tidak hanya besar secara kuantitas tapi juga kualitas? Mungkinkah menjadi salah satu negara maju yang produktif? Tak ada yang tidak mungkin, hal itu bisa dicapai jika dan hanya jika semua elemen bangsa mampu mendorong terbentuknya sumber daya manusia yang unggul—tentu di samping ketersediaan infrastruktur yang unggul pula.

Sumber Daya Manusia yang Unggul adalah Kunci Kemajuan Suatu Bangsa

Secara tak sengaja, saya mencuri dengar percakapan profesor saya dengan kolega dosennya beberapa bulan yang lalu. Beliau mengapresiasi gagasan besar Presiden RI untuk mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM) jika diamanahkan untuk memimpin di periode kedua—waktu itu masih di periode kampanye sebelum hari pemungutan suara. Sebagai seorang pendidik, agaknya beliau menaruh harapan besar dengan ini. Dan sebagaimana beliau saya pun demikian, sebab bagaimana pun SDM yang unggul adalah kunci kemajuan bangsa, bukan?

Adapun visi Presiden RI, Joko Widodo, terhadap pembangunan SDM ini kembali beliau tegaskan dalam pidato politiknya pasca terpilih di Pilpres 2019.

Tepatnya pada poin kedua pidato yang disampaikan di Sentul International Convention Center (SICC) Bogor pada Minggu 14 Juli 2019 lalu. Pembangunan SDM, kata beliau, menjadi kunci Indonesia ke depan dan mesti dimulai dari menjamin kesehatan ibu hamil, masa balita anak dan seterusnya.

Visi yang terang-benderang terhadap pembangunan SDM unggul tentulah harus diwujudkan dengan misi yang nyata, terukur dan applicable atau dapat diaplikasikan.

Saya yakin pemerintah sudah memiliki grand design untuk hal ini, hanya saja sebagai seorang narablog (blogger) tak ada salahnya untuk menulis sebuah opini, bukan?

Langkah Nyata Menciptakan SDM yang Produktif, Unggul dan Berdaya Saing

Rasanya tidak adil jika saya terus mengambil Finlandia sebagai contoh dalam tulisan ini, pasalnya Finlandia tercatat menjadi bagian dari Blok Sekutu di Perang Dunia II (PD II) yang keluar sebagai pemenang perang.

“Lho, apa hubungannya?” mungkin begitu pikir pembaca.

Tapi bagaimana pun negara-negara yang menjadi pemenang perang memiliki sumber daya yang lebih untuk membangun negaranya.

Lantas, bagaimana dengan negara yang kalah? Jelas saja, mereka butuh usaha yang sangat keras untuk memulihkan kondisi negaranya. Lebih dari itu, mereka juga punya beban berat untuk membangun sumber daya manusia (SDM) yang unggul—sebab harus berperang dengan kenangan pahit di masa lalu.

Satu negara yang menerima pengalaman pahit itu adalah Jepang. Sedikit banyaknya saya rasa kita telah mengetahui sejarah kekalahan mereka, di buku-buku teks sejarah saat sekolah kita diberitahu Jepang porak-poranda setelah hancurnya Nagasaki dan Hiroshima.

Namun hebatnya, Jepang modern telah keluar dari kekelaman masa lalu dan muncul kembali sebagai salah satu dari negara maju. IPM negara matahari terbit ini berada di peringkat ke-19 dunia—sedangkan Prancis sebagai salah satu pemenang PD II hanya berada di peringkat ke-26. Ini menjadi bukti bahwa pembangunan SDM yang baik menjadi kunci dari kemajuan sebuah bangsa.

Dan, sekali lagi, jangan coba bandingkan antara Indonesia dengan Jepang, sebab itu not apple to apple. Hanya saja, sebagai negara berkembang, kita bisa belajar dari Jepang atau negara maju lainnya. Dan menurut hemat saya, setidaknya ada beberapa langkah dalam mewujudkan SDM yang unggul itu. Izinkan saya untuk menyampaikan opini tentang rumusan langkah itu.

#1 Membangkitkan Moral Bangsa Bahwa Kita Bisa

Hampir di setiap seminar atau pun materi motivasi, saya selalu “didoktrin” bahwa saya bisa jika saya percaya pada kemampuan diri saya. Katanya, kekuatan moral menjadi sumber utama dalam mencapai sebuah kesuksesan. Hei, bukankah bangsa ini bisa merdeka dari penjajah karena moral perjuangan itu

Agaknya begitu pula dalam membangun SDM unggul, hal pertama yang perlu dilakukan adalah menumbuhkan semangat dan kepercaya-dirian di tubuh bangsa kita, bahwa kita bisa. Nah, upaya membangkitkan moral bangsa ini bisa dilakukan di berbagai kesempatan dan di jenjang mana pun. Bisa melalui materi di jenjang sekolah, pelatihan ekstrakurikuler dan sebagainya.

#2 Meningkatkan Kualitas Pendidikan

Tepat hari Rabu 11 Desember 2019 ini, berkat izin Allah, saya berhasil meraih salah satu pencapaian terbesar di hidup saya. Sebuah gelar akademik tertinggi di kampus sudah berhasil saya dapatkan. Melalui sebuah beasiswa yang dikelola oleh pemerintah (dalam hal ini DIKTI), saya berhasil meraih gelar doktor (Dr) di usia yang terbilang muda (27 tahun).

Jika diingat-ingat, latar belakang mengapa program beasiswa ini diadakan tidak lain untuk meningkatkan jumlah doktor di Indonesia. Dan ternyata memang DIKTI, melalui beasiswa PMDSU yang saya adalah salah satu penerimanya, berhasil memacu jumlah doktor dan jumlah publikasi ilmiah berstandar internasional Indonesia.

Tak bisa dipungkiri bahwa program beasiswa doktoral seperti ini meningkatkan kualitas SDM Indonesia, tapi tentu upaya ini tidak cukup dengan jenjang tertentu saja. Peningkatan kualitas pendidikan mesti dilakukan di semua jenjang pendidikan. Dengan demikian, tingkat pendidikan rata-rata bisa lebih diangkat lagi.

#3 Pendidikan Politik yang Baik, Khususnya Bagi Generasi Muda

SDM Indonesia, utamanya generasi muda, juga mesti diasup dengan pendidikan politik yang layak dan cukup. Pasalnya, mereka adalah generasi penerus yang akan menentukan nasib bangsa dan negara ini di masa yang akan datang. Yah, paling tidak diberikan pemahaman bahwa politik itu tidak selamanya kotor. Justru, politik menjadi salah satu jalan untuk mencapai kemajuan bangsa.

Ketika pendidikan politik terhadap generasi muda baik, harapannya lebih banyak generasi muda yang ikut membantu pemerintah dengan gagasan dan tenaganya yang segar. Jika pun tidak di dalam pemerintahan, bisa dari luar. Pemerintah di era ini juga sudah mulai memberi perhatian dan wadah bagi generasi muda untuk berkiprah di perpolitikan nasional. Buktinya dengan adanya sederet menteri hingga staf khusus kepresidenan yang merupakan bagian dari generasi milenial.

#4 Menyemarakkan Pelatihan yang Berkaitan dengan Keahlian Khusus

Ada satu bagian yang menarik untuk  diulas dalam pidato politik Presiden RI yang sempat saya singgung tadi. Bagian itu adalah disebutkannya pendidikan vokasi sebagai hal yang penting dalam membangun SDM Indonesia. Saya setuju sekali dengan ini karena memang sebuah bangsa tidak bisa dibuat maju oleh akademisi saja, melainkan juga dengan adanya para praktisi profesional di bidangnya masing-masing.

Pendidikan vokasi dalam bentuk pelatihan atau apa pun formatnya memberi peluang bagi warga Indonesia untuk menjadi terampil di bidang-bidang khusus. Sehingganya hal seperti ini perlu disemarakkan. Terlebih saat teknologi terus berkembang hingga memasuki era Industri 4.0. Banyak kemampuan-kemampuan baru yang harus dipelajari. Beruntung pemerintah sebagai pemangku kepentingan telah mulai memfasilitasi pelatihan-pelatihan itu.

Sebagai contoh, baru-baru ini Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) memberikan “Pelatihan Digital Interaktif Marketing Tools” yang merupakan salah satu kemampuan yang sangat dibutuhkan di era Industri 4.0 ini. Dan, tentu saja itu bukan satu-satunya pelatihan yang diselenggarakan oleh Kadin Indonesiakhususnya di bidang yang berkenaan dengan perdagangan dan perindustrian. Begitu pula dengan instansi pemerintah yang lainnya.

#5 Sinergisitas Antara Pemerintah dan Masyarakat

The last but not least, upaya membangun SDM unggul tidak bisa kita tumpukan pada pemerintah saja. Semua pihak mesti mengambil peran dalam membangun SDM unggul untuk Indonesia maju. Baik itu pihak swasta melalui program/dana corporate social responsibility (CSR) mereka, lembaga swadaya masyarakat hingga ke level keluarga dalam mendidik anak-anak mereka.

Sinergisitas antara pemerintah dan masyarakat dapat menjadi “katalis” dalam mempercepat terbangunnya sumber daya manusia Indonesia yang unggul dan berdaya saing. Terutama dalam mewujudkan bonus demografi di tahun 2030 yang tak akan lama lagi bisa dipetik oleh bangsa dan negara ini.

SDM Unggul adalah Kunci Pintu Bonus Demografi dan Kemajuan Indonesia

Di akhir tulisan ini, izinkan saya untuk menjemput dua negara yang kita jadikan contoh tadi. Baik Finlandia maupun Jepang, kedua negara ini saat ini memang maju dalam ekonomi dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), tapi keduanya akan menghadapi masalah yang sama. Masalah itu adalah tingkat kelahiran per perempuan di kedua negara itu lebih rendah dari Indonesia. Hal ini membuat kedua negara tadi, terutama Jepang, dapat berhadapan dengan masalah demografi—yang justru menjadi peluang bagi Indonesia untuk mendapatkan bonus dari demografi itu.

Dalam sebuah berita yang ditulis di laman Kominfo, Indonesia diprediksi akan mengalami bonus demografi pada tahun 2030. Pada tahun itu jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) diprediksi lebih besar dari penduduk usia tidak produktif (di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun). Besarnya tak tanggung-tanggung, 64% dari total penduduk Indonesia akan berada di usia produktif. Nah, penduduk usia produktif ini diharapkan dapat mengisi pos-pos kosong di dunia kerja di belahan bumi mana pun.

Sejurus hal di atas menjadi kabar baik, bukan? Tapi prediksi di atas hanya akan menjadi sebatas mimpi jikalau Indonesia tidak bisa menyiapkan SDM yang unggul mulai dari hari ini. Artinya, banyaknya penduduk usia produktif tidak akan berarti apa-apa jika tidak dibekali dengan kemampuan yang cukup untuk menghadapi tantangan lokal maupun global. Terlebih kita memiliki visi besar lainnya yaitu Indonesia Emas 2045.

Kesudahannya, bagaimana pun, membangun SDM yang unggul itu bukanlah perkara yang mudah. Oleh karenanya, kita perlu bahu-membahu untuk mewujudkan itu demi Indonesia maju dan produktif.

Faktanya, bangsa dan negara ini diwariskan oleh pendahulu kita bukan untuk segelintir orang yang dipercayakan sebagai pemerintah saja, melainkan untuk seluruh rakyat Indonesia. Maka dari itu, yuk berkontribusi untuk negeri ini, sebab sejatinya kemajuan Indonesia adalah harapan dan cita-cita kita bersama.[]

Referensi:

United Nation Development Programme. Human Deveploment Report 2019. http://hdr.undp.org/sites/default/files/hdr2019.pdf

World Bank. GDP Per Capita. https://data.worldbank.org/indicator/NY.GDP.PCAP.CD

Pidato Lengkap Visi Indonesia Presiden Jokowi. https://medcom.id/nasional/politik/xkE3njxN-pidato-lengkap-visi-indonesia-presiden-jokowi

Kominfo. Dari Bonus Demografi, Digital Talent Scholarship, Hingga Palapa Ring. https://www.kominfo.go.id/content/detail/16370/dari-bonus-demografi-digital-talent-scholarship-hingga-palapa-ring/0/artikel

error:
Copy link
Powered by Social Snap
%d blogger menyukai ini: