Cerita  #10YearChallenge (Blog) Saya dan Suara Mileneal di Era Digital

Si Narablog Bocah

Semenjak awal tahun 2019 ini muncul sebuah tren di antara pelaku media sosial, tren tersebut adalah #10YearChallenge. Awalnya, itu adalah sebuah kilas balik (sejarah) tentang diri sendiri, yang menceritakan sebuah perubahan. Ketika tahun 2009 saya seperti ini, tahun 2019 sudah begini. Tapi semakin ke sini, tren tersebut meluas ke bidang apapun, termasuk di bidang teknologi informasi dan komunikasi. Dahulu tidak ada ponsel pintar seperti sekarang, yang ada barulah ponsel jadul seberat kapal perang. Ha ha ha. Oopss.

Well, jika orang lain boleh mengikuti kampanye #10YearChallenge itu, tentu saya juga boleh dong. Ya, kalau diingat-ingat kembali saya pertama kali belajar membuat blog itu sekitar tahun 2009. Saat itu saya masih duduk di bangku SMA, belum mengerti betul dengan dunia blog dan bagaimana menjadi seorang narablog yang keren. Alasan kenapa saya mulai ngeblog saat itu juga standar banget: karena ada sebuah lomba blog yang diadakan oleh kakak-kakak mahasiswa di kota saya. Kesudahannya saya buatlah sebuah blog dan yang saya percayai waktu itu adalah blog yang bagus adalah yang tampilannya bagus. Alhasil saya sengaja tidak habiskan uang jajan sekolah untuk pergi ke warnet (warung internet) sepulang sekolahnya.

 

Sumber gambar: Pixabay.com dengan pengubahan

Sebagai seorang blogger bocah yang tidak tahu apa-apa, saya merawat blog saya—yang masih numpang di platform blog gratisan pada saat itu. Saya isi dengan konten-konten ala ala anak sekolahan. Singkat dan gaje. Pada akhirnya, alhamdulillah karena takdir Allah juga, saya tidak berhasil menang—bahkan hadiah hiburan pun tidak. Anda pasti mengira saya terpukul? Ya, saya terpukul sekali. Hu hu hu. Terlebih ketika kakak ketua pelaksananya tidak membalas pesan saya ketika saya tanyakan siapa saja pemenangnya. Cuma di-read doang. Kaga dibales. Sakitnya tuh di … Ah, sudahlah. Beberapa hari setelah itu dia mengaku kalau sengaja tidak memberi tahu saya agar saya tidak bersedih.

Si Narablog yang Mulai Tumbuh

Kekalahan di masa lalu hendaknya tidak memupuskan semangat menyongsong masa depan. Sekiranya begitulah kata orang bijak. Saya mah tidak berputus asa, karena kebetulan saya dari kecil memang suka menulis. Nah, ini seperti kopi ketemu gula. Eh, pensil ketemu perawut. Atau apa saja lah. Yang jelas, kegemaran saya menulis akan terbantu dengan adanya blog. Alhasil, blog yang awalnya bertema “teknologi” saya ubah seluruhnya menjadi “sastra”. Saya publikasikan tulisan-tulisan saya yang pernah terbit di koran di blog. Info-info lomba menulis. Tips menulis dan sebagainya.

Awalnya saya coba-coba, ternyata menyenangkan. Apalagi ketika saya tahu kalau aktivitas nge-blog bisa menghasilkan uang. Tambah semangat saya waktu itu.

Saya mulai belajar buat blog dengan custom domain. Belajar buat konten yang lebih baik. Saya belajar tentang Search Engine Optimization (SEO). Saya belajar ini. Saya belajar itu. Alhasil saya punya ternak blog dengan custom domain dan bukan lagi di platform gratisan, alias sudah self hosted. Anda pasti mengira saya bangga? Ya, saya memang bangga pada awalnya. Tapi pada akhirnya saya kewalahan sampai akhirnya habis percuma investasi yang sudah jutaan (biar terkesan banyak, padahal paling banter abis 2 juta). Waktu itu saya bangga sekali karena punya blog yang pengunjungnya sudah ribuan per hari. Alexa rank yang sudah di bawah 500 ribu dan sebagainya.

Tapi, pada akhirnya saya merasa telah melangkah jauh dari tujuan saya di awal. Harusnya kegiatan nge-blog itu menyenangkan, tidak memusingkan seperti ini. Tidak harus ribet memikirkan keyword apa yang akan ditulis hari ini. Fetch url ke webmaster. Cari backlink ini dan itu. SEO on-page dan off-page. Inilah. Itulah. Akhirnya, semua blog saya dengan TLD yang sudah tahunan, hosting-an dan segala macamnya terbiarkan hangus percuma.

Anda pasti berpikir itu sayang sekali? Memang. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Nah, tambahkan saja kerupuk dan ayam biar masih enak dimakan. Hu hu hu.

Si Narablog yang Sudah Tercerahkan

Ada dua tipe orang dalam menyampaikan aspirasi atau pendapat atau suaranya. Tipe pertama adalah orang yang pintar berpendapat secara langsung, maksudnya orasi, contoh paling kece badai untuk ini adalah Bung Karno. Tipe kedua adalah orang yang pintar berpendapat secara tidak langsung, bisa disampaikan dengan literasi atau menulis, contoh paling mantul? Ya, Bung Hatta. Keduanya sama-sama baik, yang tidak baik adalah memilih diam saat anda punya media dan kemampuan untuk bersuara.

Era digital membawa sebuah perubahan yang sangat besar pada tatanan kehidupan manusia. Sekarang ini semua orang, khususnya kalangan mileneal, bisa menjadi media. Toh, hampir setiap kita punya paling tidak satu media sosial, bukan? Dan blog adalah salah satunya.

Menyuarakan pendapat dengan blog (sumber gambar: Pixabay.com)

Di era digital ini seorang pengguna media sosial apalagi narablog, katakanlah, dapat disejajarkan dengan jurnalis di media besar. Ada konsep yang namanya citizen jurnalism atau jurnalisme warga, di mana setiap orang bisa mengabarkan segala sesuatu dan itu sangat-sangat cepat karena dunia sekarang berada dalam genggaman.

Kembali ke cerita soal blog, di tahun ini saya kembali merenung. Merenungi klaim diri sendiri pada orang lain bahwa saya adalah seorang blogger. Tapi sayangnya blog tidak satupun yang aktif. Pada akhirnya saya beli domain baru, saya transfer semua postingan lama ke blog baru. Blog baru tapi isinya lama. Yah, tidak mengapa. Mulai tahun 2019 ini saya berusaha bagaimana agar kegiatan nge-blog itu bisa semenyenangkan dulu. Tidak ada beban. Tidak harus pusing. Bagaimana blog saya bisa menjadi ruang bagi saya menuliskan idealisme atau kebenaran yang saya pahami. Terlepas dari ada yang mau baca atau tidak, setiap tulisan pasti akan menemukan pembacanya, bukan?

Anda mungkin bertanya bagaimana resolusi saya ke depan? Yah, kalau pun anda tidak bertanya tidak mengapa, saya tetap akan memberi tahu. He he he.

Menjadi narablog adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi saya. Di dunia ini banyak orang yang bisa menulis, tapi tidak banyak yang berani menyebarkan tulisannya. Memiliki blog itu ibarat memiliki ruang bicara di dunia maya. Seorang bijak lagi pernah bilang, satu pedang hanya bisa menebas beberapa orang, tapi satu tulisan bisa menghujam jutaan kepala. Ya, benar sih katanya walaupun blog saya belum tentu akan dibaca oleh jutaan orang. Paling tidak, itu menjadi resolusinya. Bagaimana tahun 2019 ini, saya bisa mendapatkan lebih banyak pembaca dan mendapatkan teman sesama narablog untuk bertukar cerita. Mungkin dengan mengikuti lebih banyak kegiatan temu blogger atau lainnya. Semoga dimudahkan oleh Yang Masa Kuasa.

Bagikan Yuk!

Author: Fadli Hafizulhaq

Seorang kandidat doktor yang berasal dari kampung kecil di pinggiran pantai Sumatera Barat. Gemar menulis semenjak duduk di bangku Sekolah Dasar. Blog ini adalah catatan virtualnya yang mungkin saja penting atau tidak. Email: hafizulhaq.fadli@gmail.com

2 Replies to “Cerita  #10YearChallenge (Blog) Saya dan Suara Mileneal di Era Digital

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *