Sadar atau tidak sadar, sebenarnya kita ini adalah makhluk yang terlahir untuk menjadi pemimpi. Ya, banyak sekali mimpi yang sampai saat ini terus kita pelihara—terlepas dari banyak atau tidaknya usaha untuk mewujudkannya.

Hei, bukankah kamu adalah orang yang bermimpi untuk dapat hidup senang? Mendapatkan prestasi gemilang, pasangan yang sempurna hingga pengakuan dari orang banyak? Itu adalah hal yang wajar, bukan sebuah aib melainkan sebuah keniscayaan yang memang begitulah manusia seharusnya.

Konon, “kasta” manusia bisa digolongkan berdasarkan tingkat motivasinya. Menurut Maslow, seorang psikolog ternama, keinginan untuk memenuhi kebutuhan fisik barulah tingkat terendah dari motivasi manusia. Tingkat tertinggi dari “kasta” itu bagaimana seorang manusia bisa mengaktualiasikan dirinya.

Tapi tentu setiap tingkatan itu membutuhkan pengorbanan yang berbeda-beda. Yang tidak mungkin bisa dicapai tanpa tekad yang kuat dan ketegasan untuk berani menampar diri sendiri. Menampar? Iya, setidaknya ada 5 alasan mengapa kamu harus menampar diri sendiri.

#1 Terlalu lama bermimpi hingga tak mau bangun

Apa yang kamu ketahui tentang bermimpi? Yang saya tahu, mimpi itu barulah sebatas angan-angan. Mimpi adalah sesuatu yang belum terjadi—atau bahkan tak akan pernah. Ia bisa terwujud ketika diusahakan, dan usaha pertama adalah bangun dari mimpi itu—meski seindah apapun.

Kembalilah ke dunia nyata untuk mewujudkannya. Jika kamu kesulitan untuk bangun dari mimpi indahmu, bukankah menampar diri sendiri cukup bisa untuk membuatmu tersentak dan sadar bahwa itu belum sebuah kenyataan?

#2 Terlalu mementingkan gengsi hingga tak tahu diri

Di beberapa waktu saya menjadi pemateri acara-acara mahasiswa, saya kerap menyampaikan bahwa salah satu cara untuk bisa sukses di kampus adalah sering-sering ngaca. Lho, kok ngaca? Iya, sebab kita kerap terjebak dengan gengsi kita sendiri sehingga lupa siapa kita sebenarnya.

Setiap orang terlahir dengan sumber daya yang berbeda. Ada yang lahir dari keluarga kaya, ada pula yang lahir dari keluarga biasa-biasa saja. Dengan latar belakang yang berbeda, tentu seseorang mesti menjalani hidup dengan cara yang berbeda pula.

Percayalah, gengsi tidak akan mengangkatmu, ia justru malah membenamkanmu. Membenamkanmu dalam delusi sehingga kehilangan jati dari. Tarik dirimu keluar dari delusi itu, beri tamparan keras agar kamu tersadar lekas.

#3 Terbiasa mendahulukan keinginan dari kebutuhan

Yang membedakan manusia dengan hewan adalah akalnya. Kedua makhluk ini sama-sama punya nafsu, tapi yang satu tidak bisa mengendalikan nafsunya, sedang yang lain punya daya untuk itu.

Bukankah kambing memakan apa saja yang diinginkannya tanpa tahu itu milik siapa? Bukankah ketika datang musim atau keinginan untuk kawin, hewan bisa mendatangi betina mana saja? Tapi manusia tidak bisa seperti itu. Memang di dalam diri kita ada nafsu yang membuat kita menginginkan “ini” dan “itu”, namun orang yang menggunakan akalnya akan berusaha sekuat tenaga menahan diri untuk mendahulukan kebutuhan dari keinginan itu.

#4 Tidak berpikir panjang tentang kehidupan

Betapa banyak orang yang menjalani kehidupannya seakan ia hanya hidup untuk hari ini saja. Ia menjalaninya tanpa memikirkan apa yang akan terjadi di esok hari. Sementara apa yang dilakukan hari ini sangat menentukan apa yang akan terjadi besok dan setelahnya. Ketika hal ini mulai mengjangkitimu, jangan biarkan dirimu tertarik lebih lama. Memberikan sentakan pada diri dengan sebuah tamparan akan cukup berguna.

#5 Merasa cukup dengan prestasi biasa

Salah seorang psikolog lainnya, McClelland, memasukkan need for achievement sebagai salah satu poin dalam teori motivasi buatannya. Hal ini tentu didasarkan pada kecenderungan manusia untuk memperoleh prestasi—katakanlah menjadi lebih baik dari orang lain. Sehingganya wajar kalau banyak kita temukan dalam kehidupan ini manusia saling berlomba untuk mencapai sesuatu.

Pada akhirnya mungkin kita bisa mendapatkan apa yang kita impikan. Hanya saja, saat kita merasa cukup dengan prestasi yang biasa itu, itulah saat kita perlu menampar diri kita sendiri. Ini bukan soal “haus prestasi” tapi bagaimana menjadi orang yang lebih baik. Ketika kamu memiliki prestasi yang lebih, kamu dipastikan punya pengaruh yang lebih pula di dalam masyarakat.

Baca juga: Rahasia Agar Perkataanmu Mempengaruhi Orang Lain

Kesudahannya…

Bertegas-tegas pada diri sendiri bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, tapi kamu harus melakukannya jika ingin mewujudkan mimpi-mimpi yang mungkin sudah kamu pelihara hingga hari ini. Percayalah, setiap kemajuan besar yang telah terjadi saat ini dimulai dari mimpi yang tak jarang mendapat cemoohan karena nyaris tak mungkin diwujudkan. Siapa yang dulu pernah berpikir seonggok besi bisa terbang? Dan beberapa hal lainnya.

Setelah ini yuk kita sama-sama belajar, untuk berdiri di hadapan cermin, berkaca tentang diri kita lalu menamparnya jika perlu. Tak mesti melakukannya dengan tamparan fisik, itu hanyalah sebuah pengandaian untuk segala hal yang bisa menyadarkan kita dari keterlalaian. Keberhasilan adalah milik orang yang berusaha.[]