Belajar dari BSSA dan Zero Waste Cities dalam Penuhi Siklus Material di Kawasan

Beberapa hari yang lalu, saya menyadari dengan sangat bahwa lama bertugas di kampus tidak akan membuat kita paham dengan apa yang sesungguhnya terjadi di lapangan. Tepatnya hari Sabtu (5/2) saya menyempatkan diri mengunjungi seorang teman yang bertitel sarjana teknik lingkungan–seorang yang dengan bangga menyebut dirinya “tukang sampah”.

Memang ketika menulis disertasi dulu, saya menjadikan permasalahan sampah plastik sebagai latar belakang. Namun, sebanyak dan seilmiah apapun literatur yang saya sitasi dan tulis, itu tidak berdampak langsung pada pengelolaan sampah di lapangan–di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Beda hal dengan apa yang teman saya dan timnya lakukan.

“Uda kalau ditanya sama orang ‘Ekho kerjanya apa’, uda jawab tukang sampah….” terangnya sembari mengambil jeda.

“…..serius Fadli! Abis itu mereka yang nanya diam begitu saja” lanjut Ekho Kurniawan, teman atau senior saya di kampus.

Yah, meski terdengar bercanda, tapi saya bisa menilai seberapa serius ia mengedukasi masyarakat yang ia dampingi di Bank Sampah Sahabat Alam (BSSA), Kampung Apar, Kota Pariaman.

Selain dirinya, saya juga berkesempatan untuk bertemu dengan seorang pentolan BSSA lainnya, yaitu Imran (biasa dipanggil Baim). Ia adalah orang penting di dusun sekitar. Ketika saya datang, Uda Ekho dan Bang Baim tengah khidmat memperhatikan maggot atau larva black soldier fly (BSF) ternakan mereka.

Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, kapan lagi saya bisa “kuliah lapangan” dan belajar mengenai realita–ketimbang membaca-baca jurnal ilmiah saja. Nah, lantaran ingin menggali sebanyak mungkin informasi, saya beranikan melempar berbagai pertanyaan yang dijawab dengan tuntas oleh mereka.

“Kami datangi rumah warga satu-persatu, kami sampaikan soal bank sampah dan mengajarkan mereka memilah sampah,… sampah yang sudah dipilah itulah yang kami jemput.” terang Baim kepada saya, menerawang awal-awal perjuangan BSSA yang masih 6 bulanan usianya.

Pemilahan, Kunci Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

Di depan saya tertonggok manis air mineral kemasan gelas, sebagian versi normal dan lainnya versi dinginnya. Embun menempel di dinding-dinding gelas itu. Sungguh tawaran yang tepat sasaran! Cuaca saat itu cukup panas, tapi bagian dalam diri saya lebih “panas” lagi, karena dijamu sedang saya tidak membawa apa-apa selain “gagasan”.

Saya pandangi lagi sekawanan minuman kemasan itu. Minuman bergelas plastik itu memang baru saja keluar dari warung warga setempat. Saya tak sempat melihat bagian bawah gelas untuk sekadar mengecek apakah ia dibuat dari dari Polyethylene Terephthalate (PET) atau Polypropylene (PP). Yang jelas, gelas kosong minuman itu masih bernilai jual karena siklus materialnya bisa berkelanjutan. Sama halnya dengan percakapan kami–akan terus berkelanjutan andai tidak dibatasi waktu Maghrib.

“Warga memilah sampah dari rumah, sampah yang bernilai kami jemput” terang para pentolan BSSA itu.

BSSA sendiri memang memiliki beberapa program yang berkaitan erat dengan sampah hasil pilahan warga. Upaya masyarakat dalam memilah sampah tentu harus disambut dengan “upah” yang menarik. Artinya, harus ada yang mereka (BSSA) berikan yang menjadi alasan kuat masyarakat untuk meninggalkan kebiasaan lama: membakar sampah.

Kepada saya, BSSA mengaku menawarkan sayur dan pahala sebagai imbalan dari sampah yang dipilah dan disetorkan masyarakat.

Sayur didapatkan oleh masyarakat ketika mereka menyetorkan sampah dapur pada BSSA, sedangkan pahala didapatkan sebagai imbalan dari penyetoran sampah anorganik yang bernilai.

Tunggu,… tunggu. Pembaca mungkin masih menerima jika imbalannya berupa sayur, tapi bagaimana ceritanya sampah anorganik bernilai “cuma” diganjar “pahala”?

Usut punya usut ternyata sampah anorganik bernilai masuk ke dalam program yang mereka namakan “Sedekah Hijau”.

Konsepnya sederhana tapi mengayomi. Sampah anorganik yang telah dikumpulkan akan dijual oleh BSSA ke pengepul. Sebagian uang dari penjualannya akan didistribusikan pada masyarakat sekitar yang kurang beruntung secara finansial. Artinya ada alur bantu-membantu antar masyarakat melalui program BSSA itu. Penyetor memang tidak mendapatkan untung secara materil, tetapi mendapatkannya dalam bentuk moril dan pahala di mata Sang Pencipta.

“Wah mantap itu, Da” pekik saya setelah mendengar penjelasan dari Uda Ekho.

Sementara sampah dapur yang dikumpulkan, dengan menukarnya dengan sayur, diolah untuk dijadikan makanan bagi maggot BSF yang dipelihara oleh BSSA. Nah, bagian ini yang sangat berkesan bagi saya pribadi, sebab Sabtu itu saya diberikan kesempatan untuk melihat peternakan maggot mereka. Saya juga mendapatkan wawasan tentang pemeliharaan maggot hingga menyentuhnya dengan tangan meski awalnya cukup geli.

Lebih lanjut, Ekho menyatakan bahwa maggot mereka hanya diberi makan sampah dapur dan sayur-sayuran saja, itupun lebih banyak sayur-sayuran yang diolah dengan sedemikian rupa agar tidak bau. Dan benar saja, awalnya memang saya sangsi mencium rak berisi maggot dan sampah organik, tapi memang tidak busuk sama sekali.

Selain itu, saya juga diminta membaui pupuk organik cair (POC) dari air hasil penirisan cacahan sampah organik. Tidak bau, malah tercium seperti aroma madu.

Ketika saya tanya rahasianya, awalnya pihak BSSA tidak mau buka suara, hingga akhirnya mereka berkata bahwa belajar mengelola maggot dari seorang pakar yang telah meneliti maggot selama 15 tahun.

“Pantas saja!” batin saya.

Saya sempatkan juga bertanya berapa harga jual maggot di pasaran setempat. Konon katanya maggot dalam bentuk larva bisa dijual dengan harga 9.000 rupiah per kilogram, sedangkan yang telah masuk ke fasa pupa (kepompong) mampu terjual hingga 100.000 per kilogram karena ditujukan untuk indukan.

Dari “kuliah lapangan” singkat saya sore itu, mata saya jadi lebih terbuka bahwa sampah kalau dipilah dan dikelola dengan baik bisa mendatangkan keuntungan dan menyejahterakan masyarakat. Dengan kata lain, pemilahan sampah menjadi kunci pengelolaan sampah berkelanjutan.

“Ah, Fadli, ke mana saja Anda selama ini?” tanyaku pada diriku sendiri.

Sederet Alasan Mengapa Memilah Sampah Itu Penting

Omong-omong, setelah membaca narasi di atas, saya percaya kalau teman-teman pembaca pasti sudah menangkap manfaat dari pemilahan sampah. Hanya saja, membahasnya lebih detail tentu akan memberikan pengetahuan yang lebih. Sebab bagaimanapun permasalahan sampah, tanpa bisa disangkal, adalah masalah turun-temurun yang harus diselesaikan dengan ilmu dan pengetahuan, bukan?

Berikut beberapa alasan mengapa memilah sampah itu penting, pakai banget.

Menghindari Pencemaran

Pengelolaan sampah yang buruk bisa jadi awal dari malapetaka. Sebagaimana yang kita ketahui, beberapa jenis sampah tertentu butuh waktu hingga puluhan tahun untuk terurai secara alami. Beberapa orang mungkin punya caranya masing-masing dalam “mengelola” sampah sulit terurai itu, tapi cara-cara itu kebanyakan menjadi penyebab pencemaran.

Sebagai contoh sampah yang ditimbun atau dikubur di dalam tanah, meskipun kita kerap mendengarkan saran melakukan itu demi mencegah penyakit semacam demam berdarah (DBD) tapi tetap saja penimbunan sampah akan mencemari air tanah.

Pembakaran sampah pun juga dapat mencemari udara karena zat-zat tertentu seperti dioksin yang beracun. Apalagi jika sampah tersebut dibuang ke kali atau sungai. Selain menghambat aliran air dan membuat banjir, sampah yang akhirnya bermuara di laut pun akan mencemari dan merusak ekosistem laut. Dan parahnya, menurut sebuah publikasi ilmiah bertajuk “Plastic waste inputs from land to ocean”, Indonesia menjadi peringkat 2 sebagai negara yang paling banyak membuang sampah ke lautan.

Menjaga Kesehatan Lingkungan

Pemilahan sampah juga akan membantu menjaga kesehatan lingkungan. Sampah yang tidak dipilah dan dibiarkan begitu saja bisa jadi tempat bersarangnya nyamuk pembawa penyakit. Selain itu, seperti yang saya tuliskan tadi, pembakaran sampah juga akan menghasilkan senyawa dioksin.

Pertanyaannya, seberapa bahaya dioksin itu?

Senyawa tersebut termasuk dalam golongan senyawa karsinogen atau bahan penyebab kanker. WHO bahkan mengatakan bahwa dioksin memiliki potensi racun yang mempengaruhi beberapa organ dan sistem tubuh, mengganggu sistem saraf, sistem endokrin dan fungsi reproduksi. Itu belum termasuk gas metana dari pembusukan sampah yang juga buruk bagi kesehatan manusia.

Menyejahterakan Masyarakat

Pemilahan sampah yang baik juga dapat mendorong kesejahteraan masyarakat lho. Apa yang sudah saya ceritakan tentang program BSSA di atas agaknya cukup menjadi contoh tentang bagaimana sampah dapat diberdayakan untuk mendorong perekonomian.

Selain itu, sampah juga bisa digunakan ulang (reuse), baik digunakan secara langsung seperti botol plastik minuman yang bisa jadi pot bunga, atau juga diulah menjadi beragam kerajinan tangan untuk meningkatkan nilai ekonomisnya.

Peternakan maggot BSSA (dok. pribadi)

Meningkatkan Kebersihan Lingkungan

Tak pelak lagi bahwa kebersihan lingkungan akan tercapai jika sampah dapat dipilah dan dikelola dengan baik. Lingkungan yang bersih tentu akan memberikan pemandangan yang indah. Selain itu, kebersihan lingkungan juga berbanding lurus dengan kesehatan penduduk di lingkungan tersebut. Tidak hanya manusianya, tetapi juga makhluk hidup lainnya seperti hewan dan tumbuhan.

Menghidupkan Siklus Material

The last but not least, pemilahan sampah dengan benar tentu juga akan memicu hidupnya siklus dari suatu material. Sebagian besar sampah masih memiliki daur atau siklus yang panjang atau bahkan berulang. Semisal botol plastik yang terbuat dari PET dan PP. Sampah plastik tersebut bisa didaur ulang sehingga bisa dibuat kembali menjadi produk yang sama atau berbeda.

Sampah organik juga memiliki siklus yang berkelanjutan. Sampah organik bisa dijadikan kompos, baik dengan pengkomposan langsung atau dengan media perantara seperti maggot yang juga sudah saya ceritakan tadi. Sisa makanan dari maggot akan menjadi kompos. Pupuk kompos dapat digunakan kembali untuk menanam sayuran atau tumbuhan lainnya.

Setelah semua alasan dan manfaat memilah sampah itu, tentu tidak ada salahnya jika kita belajar lebih jauh tentang pemilahan sampah dan siklus material, bukan? Kabar baiknya, konsep tentang ini diedukasikan dengan baik dalam kampanye Zero Waste Cities–sebuah program yang akan kita bahas lebih lanjut setelah ini.

Peran Program Zero Waste Cities dari YPBB dalam Hidupkan Siklus Material di Kawasan

Pernahkah Anda mendengar istilah Zero Waste Cities? Sebelum kita lanjutkan pembahasan, yuk kita kenali dulu gerakan satu ini.

Dikutip dari laman blog YPBB, Zero Waste Cities (ZWC) adalah sebuah program kolaborasi antara GAIA Asia Pacific dengan YPBB yang bertujuan untuk mengangkat salah satu kota di Indonesia untuk mewujudkan komitmen nyata menjadi kota zero waste. Adapun kota yang menjadi mitra YPBB dalam mengembangkan program ZWC ini adalah Kota Bandung.

Konsep yang diusung YPBB dalam ZWC layak untuk diacungi jempol. Pasalnya ZWC dijalankan dengan beragam kegiatan penuh manfaat seperti kajian kondisi kelurahan, kosultasi dengan pemangku kepentingan, pembentukan Dewan Pengelola Sampah Kelurahan, pengembangan sistem pengelolaan sampah, pelatihan untuk petugas pengelola sampah, edukasi pintu ke pintu dan sebagainya.

Semua program di atas dilakukan demi mencapai tujuan dari ZWC itu sendiri, yaitu membuat model sistem pengelolaan sampah terpadu dan terdesentralisasi, merubah paradigma masyarakat tentang prinsip pengelolaan sampah, serta penerapan dari metode pengolahan sampah yang sesuai dengan kondisi kawasan.

Lantas, bagaimana ZWC mampu menghidupkan siklus material di kawasan?

Beberapa aksi nyata yang telah dilakukan adalah pengadaan bata terawang dan tong komposter untuk pengomposan sampah organik. Selain itu, pemprosesan sampah organik daerah ZWC binaan YPBB juga dilakukan melalui media lubang kompos atau biopori. Tidak hanya itu, YPBB dalam program ZWC juga mendorong tersedianya biodigester di beberapa lokasi serta peternakan maggot di Jatisari, Kabupaten Bandung.

Program-program ZWC di atas menghidupkan siklus material dari sampah organik untuk menghasilkan produk lanjutan yang bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan.

Biodigester RW 11 Babakansari Bandung (dok. YPBB)

Berbagai kegiatan tadi tentu harus didukung dengan pengumpulan sampah terpilah dari kawasan. Hasil pilahan sampah akan memudahkan pemprosesan sampah dalam siklus materialnya. Di samping itu, pemilahan sampah juga akan membuat pekerjaan petugas jadi lebih mudah. Nah, di saat itulah konsep pengelolaan sampah terpadu bisa dicapai dengan baik.

YPBB sudah menorehkan kontribusi mereka bersama dengan para relawan dan petugas dalam memberikan edukasi serta menciptakan sistem pengolaan sampah yang berorientasi pada penghidupan siklus material di kawasan. Bahkan saat pandemi ini pun, YPBB tetap menjalankan program edukasi melalui berbagai perangkat digital seperti WhatsApp, Google Meet dan lainnya.

Ini menjadi bukti bahwa mimpi mengentaskan permasalahan sampah yang sudah turun-temurun di negeri ini bukan hal yang mustahil. Tentu selama kita memiliki niat untuk melakukannya. Saya pribadi mengikuti beberapa publikasi dari YPBB tentang ZWC dan belajar banyak darinya. Saya jadi berharap andai program yang sama ada di daerah saya. Bagaimana dengan Anda? Eh, tapi dari pada sekadar berharap tentu akan lebih baik jika kita menginisiasinya, bukan?

Pengelolaan Sampah Tanggung Jawab Kita Bersama

Baik BSSA yang sudah saya kunjungi dan ulas ataupun YPBB, yang bergerak lebih masif dan meluas melalui program Zero Waste Cities tadi, tentu memiliki keterbatasan dalam beberapa hal tertentu. Apalagi persoalan sampah bukanlah masalah sektoral yang hanya ada di daerah tertentu saja. Sampah bukanlah masalah sektoral, melainkan nasional dan bahkan global.

Pengeloaan sampah yang baik akan dapat terwujud jika semua kita, masyarakat, ikut serta dalam menyukseskannya. Hal pertama yang perlu dilakukan, menurut hemat saya, adalah menimbulkan kesadaran dari diri sendiri untuk memperlakukan sampah sebagaimana mestinya. Yaitu dengan memilah dan membuang/menyetor sampah pada tempatnya. Bukan malah membuangnya sembarang, mengubur, membakar apalagi membuangnya ke jalanan saat tengah naik kendaraan. Eh.

Ah. Saya jadi ingat kenangan menjengkelkan saat mengendarai motor di jalanan. Tidak sekali dua kali saya mendapati orang membuang sampah ke jalanan saat kendaraan mereka masih melaju. Saya hanya bisa mengurut dada melihat itu. Mohon maaf curcol sedikit di akhir tulisan. He he.

Apapun itu, kesudahannya, saya mengajak teman-teman pembaca semua untuk mengambil tanggung jawab bersama. Pengelolaan sampah bukan hanya tanggung jawab BSSA, YPBB atau petugas sampah dan pihak-pihak terkait lainnya. Pengelolaan sampah adalah tanggung jawab kita bersama. Mari kita adopsi semangat program Zero Waste Cities terlepas dari ada atau tidaknya program serupa di kawasan kita. Yuk pilah sampah dan hidupkan siklus material di kawasan kita. Semoga dengan begitu, kita semua bisa menikmati kualitas hidup yang lebih baik.[]

Referensi :

  • Laman blog YPBB di http://ypbbblog.blogspot.com/
  • Nur Faizah A B B. Ini Dampak Penimbunan Sampah Terhadap Air Tanah. Tersedia di https://ekonomi.bisnis.com/read/20190221/99/891614/ini-dampak-penimbunan-sampah-terhadap-air-tanah
  • J R Jambeck., dkk. Plastic waste inputs from land into the ocean. Science 347.6223 (2015): 768-771.
  • Ellyvon Pranita. Jangan Sembarang Bakar Sampah Plastik, Bahaya Dioksin Mengancam. Tersedia di https://sains.kompas.com/read/2019/12/04/080341723/jangan-sembarang-bakar-sampah-plastik-bahaya-dioksin-mengancam

16 pemikiran pada “Belajar dari BSSA dan Zero Waste Cities dalam Penuhi Siklus Material di Kawasan”

  1. Program seperti ini semoga berkelanjutan ya. Untuk di beberapa tempat sayangnya belum ada yang mau menyediakan pengelolaan sampah seperti ini, beberapa waktu lalu di tempatku ada model bank sampah tapi sayangnya enggak bertahan lama. Seringnya, sampah yang sudah dipisah pun oleh petugas kebersihan rutin akan dicampur kembali. Karena memang berakhir langsung di TPA dan enggak ada tim pengelola sampah khusus.

    Balas
  2. Kebanyakan kalau di sekitar saya sampahnya dibakar kak. Jadi di belakang rumah ada semacam tempat khusus buat bakar sampah rumah tangga. Mungkin enggak banyak, tapi setiap sore selalu jadi rutinitas untuk bakar sampah. Enggak bagus sebenarnya, tapi sudah jadi kebisaan dan sangat sulit untuk diubah.

    Balas
  3. saya juga udah mulai memilah sampah, dan ajarkan ke anak-anak kalau buang sampahnya pada tempat yang telah disediakan.
    sampah limbah dapur juga pengennya sih buatkan tempat khusus juga (semacam biopori buatan atau seperti itulah) tapi belum kesampaian, huhuh.
    yang program sedekah sampah itu, disini juga udah mulai ada NGO yang menerapkan seperti itu.

    Balas
  4. Keren banget ini programnya
    Semoga makin banyak yang menjalankan juga
    Mulai dari diri sendiri, mulai dari skala kecil di rumah tangga
    Yuk pilah sampah kita, terapkan zero waste
    Untuk bumi yang lebih sehat

    Balas
  5. Wah enak dong ya, ngasih sampah dapur, dapatnya sayur. Selain itu juga dapat pahala kalo ngasih sampah anorganik. Kalau saya mau setor sampah masyarkat, kira-kira saya dapat imbalan apa UDA?? hahaha…

    Dengan cara ini, warga jadi semangat untuk memilah sampah nih. Bagus nih program BSSA, kalo banyak BSSA-BSSA yang lainnya, bisa benar-benar zero waste. Gak ada lagi yang namanya bakar sampah segala. Gak ada lagi yang namanya masalah di TPA

    Balas
  6. Saya berharap sih edukasi pengolahan sampah ini digalakkan sama pemerintah dan di setiap area lingkungan RT RW ada unit pengolahan sampahnya, jadi zero waste cities sangat mungkin terwujud

    Balas
  7. MasyaAllah luar biasa mas ekho. Banyak banget mengedukasi masyarakat serta mengajak serta berbuat kebaikan.
    Pertama kebaikan karena pemilahan sampah dan kedua karena turut serta berbuat pahala dengan sedekah.
    Semoga semakin meluas nih program mas ekho.. aamiin.

    Balas
  8. Sejak saya SD, saya sudah tahu Pariaman itu dijuluki kota paling bersih di Sumatera Barat. Semoga masih tetap dipertahankan dengan keberadaan tempat pengolahan sampah yang terintegrasi seperti BSSA ini ya uda.

    Balas
  9. Ini arah mata angin kemarin. Hehe…Keren ya BSSA. Yakin banget ini menjadi solusi mengurangi masalah volume sampah yang semakin menjadi masalah. Perlu banget didukung pemerintah nih…mantap Uda…

    Balas
  10. Bank sampah solusi terbaiknya ya. sampah dipilah dan diolah menjadi sesuatu yang baik. pengirim sampah pun mendapat imbalan dr setoran sampahnya. masalah sampah memang gak ada habisnya. Tapi kalau kita menyikapi dengan bijak, pasti banyak untungnya. eh interupsi dong uda. itu kok ada gambar ulet sih, atau bahasa jawanya set. hiiii… aku takuuut….

    Balas
  11. Imbalan, ini yang masih sering diharapkan masyarakat. Emang perlu terus ada upaya untuk menyadarkan masyarakat untuk memilah sampah walau tanpa imbalan.

    Pengalaman di kampung saya, waktu ada program dari ibu-ibu pkk untuk memilah sampah dengan ada imbalan, maka semua warga mau memilah sampahnya. Lama-kelamaan, imbalan diperkecil nilainya, karena penyelenggara program menganggap memilah sampah ini sudah jadi kebiasaan. Eh begitu imbalan dihilangkan, maka kebiasaan memilah sampah juga hilang

    Balas
  12. Memilah sampah ini sebenarnya adalah kunci untuk pengelolaan sampah, terutama sampah rumah tangga. Tapi, seringnya sih tempat sampah itu dijadikan satu semua. Mau dipilah lagi, sudah malas saja. Akhirnya, itu tidak hanya satu rumah, berumah-rumah tanpa dipilah lagi, menumpuk dan makin menumpuk. Hadeh…

    Balas
  13. kayak sistem barter yakak, masyarakat memberikan sampah sayuran lalu akan mendapatkan sayuran baru. jadi nggak ada lagi sampah sayuran membusuk di tempat sampah, semua diolah menjadi pupuk, keren banget kak

    Balas
  14. Salut banget dengan pemuda yang punya kepedulian tinggi dengan sampah sampai tak malu mengaku sebagai Tukang Sampah. Justru aktivitasnya bergelut dengan dunia sampah dengan mendirikan Bank Sampai ini patut diapresiasi ya Bang.

    Kalau semakin banyak warga yang sadar bahwa sampah baik yang organik maupun an organik bisa dikelola dengan baik bahkan masih bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat lagi pastinya masalah sampah bakal teratasi dan nggak jadi momok lagi

    Balas

Tinggalkan komentar

error: