Meskipun saya adalah penduduk lokal, saya pernah iseng-iseng mengunjungi sebuah pusat oleh-oleh kota Padang, sebatas “survey harga”. Di kota kami sebenarnya banyak pusat oleh-oleh, hanya saja cuma beberapa yang cukup terkenal di masyarakat kota dan para pelancong. Sehingga muncul sebuah paradigma kalau mesti ke toko “itu”–nama sengaja disembunyikan biar tak kena delik aduan, hehe–untuk meyakinkan kerabat dan kolega “benar lho, saya kemarin ke Padang, ini saya bawakan oleh-olehnya”.

Well, sebenarnya saya sudah mengira bahwa harga oleh-oleh di toko “itu” akan lebih mahal dari produk yang sama di toko lainnya. Secara, toko tersebut adalah toko terbesar dan paling terkenal di antara lainnya. Cuma, ya cuma banget ini ya, saya tak menyangka kalau margin atau perbedaan harganya mencapai sekitar 50-70% untuk produk yang secara jenis dan berat sama dengan merek atau toko lainnya.

Kok bisa begitu? Tentu saja bisa, karena mereka tidak hanya menjual produk, tapi juga menjual brand alias merek.

Pentingnya Branding untuk Bersaing

Satu kalimat yang menurut saya cocok untuk menggambarkan ekosistem bisnis saat ini adalah : Persaingan bisnis sekarang ini benar-benar gila!

Kenapa saya mesti menggunakan diksi “gila”? Karena perkembangan teknologi (di era Revolusi Industri 4.0 ini) membuat sebuah produk mampu menjangkau lebih banyak konsumen di berbagai tempat. Bahkan untuk menjadi pebisnis, seseorang tidak perlu menjadi produsen, ada sistem dropshipping dan affiliate marketing yang bisa dia ikuti untuk berjualan tanpa stok produk dan tanpa gudang!

Selain itu, saat ini, seorang pihak ketiga bisa mendapatkan untung yang lebih banyak daripada produsen produk itu sendiri. Salah satu caranya tentu dengan memanfaatkan branding.

Sebagai contoh, pernahkah kamu melihat atau bahkan mengujungi restoran cepat saji McDonald’s? Apa yang kamu ketahui selain makanannya enak dan penyajiannya cepat?

Tak banyak orang yang tahu bahwa restoran terkenal itu telah “dirampas” dari pemilik aslinya. Dahulu McDonald’s dibangun oleh Dick dan Mac McDonald, hingga kemudian seseorang yang bernama Ray Croc membeli lisensinya dari dua bersaudara itu. Lewat sentuhan tangan Ray, merek McDonald’s dibesarkan dan dijadikan sebuah waralaba (franchise).

Sekarang aset McDonald’s sudah bernilai 46,467 milyar USD [1]. Sedangkan untuk jumlah outlet-nya, pada tahun 2004 saja, McDonald’s memiliki 30.000 rumah makan di seluruh dunia dengan jumlah pengunjung rata-rata 50.000.000 orang dan pengunjung per hari dan rumah makan 1.700 orang [2].

 

Kembali ke cerita tentang toko “itu” tadi, oleh-oleh yang dijual di sana tidak semuanya yang diproduksi sendiri, bahkan banyak produk UMKM yang dititip jualkan. Asbabnya ya, karena toko tersebut sudah memiliki merek, pelancong yang datang tidak lagi semata memikirkan “bagaimana rasa produknya” tapi sudah beralih untuk “membeli mereknya”.

Bahkan, yang lebih “gila”-nya lagi, toko tersebut juga menjual kardus/karton bermerek tokonya saja dengan harga 10-20ribu rupiah (saya lupa tepatnya berapa), sehingga meskipun pembeli mengisi produk yang bukan dari toko itu, orang akan tetap menyangka kalau oleh-olehnya dibeli di sana.

Sebenarnya, jika pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) bisa sedikit menaruh perhatian pada upaya branding ini, mereka bisa bersaing dengan toko besar. Selain itu, mereka bisa pede menjual produk mereka dengan merek sendiri, ketimbang menjual dengan sistem curah–lalu oleh orang lain dikemas dan dikasih merek sehingga harga jualnya meningkat fantastis.

For your information, apa sih sebenarnya keuntungan dari branding itu? Empat di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Menciptakan dan meningkatkan loyalitas konsumen
  • Memberikan dan meningkatkan image produk dan/atau bisnis kita
  • Meningkatkan kepercayaan pelanggan atau calon pelanggan
  • Menjadi identitas dari usaha yang bisa membuat konsumen membayangkan bisnis/produk kita

Pentingnya Website Bagi Bisnis

Ada sebuah anggapan tentang upaya branding ini, bahwa branding itu hanya membakar uang. Sebagian pesar pelaku bisnis–terutama yang berskala UMKM–berpikir bahwa upaya branding atau pengenalan merek ini tidak akan terlalu bermanfaat bagi kelangsungan bisnis mereka. Pertama, karena membutuhkan biaya ekstra dari mulai membuat logo, website dan sebagainya. Kedua, karena mereka masih fokus pada penjualan dengan sistem konvensional atau mainstream. Ketiga, karena memang tidak paham dengan hal begituan.

Apa yang dipahami oleh pelaku UMKM itu sebenarnya sah-sah saja, namun bagi mereka yang memiliki visi yang besar terhadap bisnisnya, mereka akan berpikir untuk invest dalam pembangunan merek ini.

Nah, untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya membangun merek tersebut, setidaknya kita perlu memberikan “bantahan” terhadap 3 ketakutan pebisnis di atas.

Butuh biaya ekstra untuk menyiapkan sarana branding

Jika kita menginginkan bisnis menjadi besar, tentu saja ada hal yang harus disiapkan dan “dibakar”. Pelaku bisnis yang paham bahkan mau jor-joran mengeluarkan biaya ekstra hanya untuk agar produknya dikenal oleh banyak orang. Sarana branding itu memang banyak, namun kita tidak perlu menghadirkannya sekaligus–bisa diangsur satu-persatu.

Hal yang paling mudah untuk disiapkan pada tahap awal adalah website–seiring dengan memiliki serangkaian akun media sosial untuk bisnis tersebut. Keberadaan sebuah website bisa memberikan dampak positif dalam keberlangsungan bisnis.

Kenapa website menjadi penting untuk sebuah bisnis? Selain untuk mencapai benefit dari branding seperti yang saya tuliskan sebelumnya, keuntungan tambahan dari adanya website bagi bisnis adalah sebagai berikut:

  • Meningkatkan kredibilitas bisnis, karena sekarang konsumen lebih sering mencari informasi di internet.
  • Membuat bisnis selalu terhubung dengan pelanggan, di laman website kita bisa menyertakan nomor kontak hingga alamat usaha sehingga mudah ditemukan.
  • Memudahkan akses calon pelanggan, gerai atau kantor luring (offline) punya jam kerja atau operasional sementara website tidak.
  • Sebagai katalog produk daring serta portofolio bagi layanan jasa, calon konsumen bisa dengan mudah menemukan produk dan portofolio di website.

Masih fokus pada penjualan sistem konvensional atau mainstream

Satu hal lain yang membuat seorang pelaku bisnis enggan melakukan upaya branding adalah karena masih fokus dengan sistem konvensional. Well, mungkin itu adalah alasan yang bisa diterima, tapi jika sebuah usaha punya website mereka bisa menerima pesanan bahkan sebelum produk dibuat.

Hal yang sangat penting untuk dipikirkan dalam sebuah manajemen bisnis, terutama makanan, adalah jumlah produksi. Sedapat mungkin tidak ada waste dalam produksi tersebut sehingga tidak ada kerugian.

Ketika sebuah bisnis punya website, mereka bisa membuat fungsi khusus bagi calon konsumen untuk melakukan pemesanan daring. Pemasaran online atau daring akan membantu pelaku bisnis mengefektifkan produksi karena memungkinkan pelanggan untuk melakukan pre-order, dan memungkinkan produsen (pelaku bisnis) untuk menerapkan manufacturing on demand.

Tidak paham dengan urusan website atau branding secara umum

The last but not least, seringkali seorang pelaku bisnis terhambat untuk melakukan branding karena memang tidak paham sama sekali dengan hal ini. Dimulai dari menyiapkan sarana/media branding sampai ke melakukan kampanye.

Para pelaku bisnis besar mungkin memiliki divisi khusus untuk melakukan hal-hal tersebut, namun bagaimana dengan bisnis yang masih dalam skala UMKM? Solusi terbaik untuk ini adalah mencari pihak ketiga yang bisa membantu pembuatan website usaha atau branding secara umum. Nah, penyedia layanan ini cukup banyak, kamu tinggal mencari mana yang cocok dengan bisnismu.

 

Saatnya Go Online dan Miliki Bisnis yang Berdaya Saing

Pada kenyataannya memang tak mudah membesarkan sebuah bisnis. Ada usaha besar yang dibutuhkan. Ada biaya tak sedikit yang dikeluarkan. Hanya saja, satu yang pasti, agar bisnis memiliki kelangsungan dan dapat bertahan, ia harus memiliki semua instrumen untuk bersaing. Website adalah salah satu instrumen yang dibutuhkan untuk bersaing di era Revolusi Industri 4.0 ini.

Jika dulu kita bisa berpuas dengan mengandalkan distribusi produk ke toko-toko atau tempat tertentu saja, hari ini barangkali kita harus memulai untuk go online terkait bisnis kita. Bisnis yang telah online–ditambah dengan sistem yang matang–akan lebih memudahkan pelakunya. Contohnya dengan mulai membuka pendaftaran reseller di seluruh Indonesia. Dan tentu saja hal ini akan lebih mudah dilakukan jika bisnis kita memiliki website yang baik.

——-

Rujukan:

[1] https://www.macrotrends.net/stocks/charts/MCD/mcdonalds/total-assets

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/McDonald%27s