Budidaya Maggot, Pilihan Green Jobs Potensial Untuk Kalangan Milenial

Seorang teman meminta saya untuk menyentuh larva-larva dari sejenis lalat, dan sejujurnya itu menggelikan.

Sore itu, Sabtu (5/2), cukup cerah. Tidak terlalu panas dengan semilir angin–cuaca yang sangat baik untuk sebuah perjalanan mencari ilmu baru. Saya memacu sepeda motor menyisiri jejalanan kota. Tempat tujuan saya hanya beberapa kilometer dari rumah mertua, sekitar 10-15 menit perjalanan. Saya ingin menemui seseorang saat itu, tepatnya senior saya di kampus yang merupakan sarjana teknik lingkungan.

Namanya Ekho, lulus dari jurusan teknik yang berkaitan dengan ekologi dan akhirnya bergiat membina masyarakat di bidang ecoprenuer. Sebuah linearitas yang membuat saya takjub dari pemuda yang menuju 30 tahun ini. Ia mengenalkan saya pada maggot, agen kecil yang menjadi penyelamat bumi berkat kemampuannya mengurai sampah organik.

Hari-hari, Ekho dan teman-temannya rutin mengumpulkan sampah organik untuk diolah. Sampah-sampah tersebut ia cacah dan tiriskan sebagai makanan bagi larva bernilai ekonomis itu. Sedang air tirisannya ia fermentasikan menjadi pupuk organik cair. Ia mencoba menggali potensi ekonomi dari limbah organik di kota kami. Tapi yang tak kalah penting dari aspek ekonomi itu, ternyata maggot juga berperan dalam menahan laju pemanasan global.

“Serius?” tanya pembaca.

Iya, saya akan ajak kamu membahas ini nanti. Yah, meskipun mungkin ada orang-orang yang berpikir berternak maggot itu adalah pekerjaan yang “menjijikkan”, nyatanya ia termasuk salah satu pekerjaan masa depan. Satu dari sekian banyak pekerjaan dalam kategori Green Jobs.

Ekho (kiri) dan Baim (kanan) mengecek kondisi maggot ternakan mereka (Dok. Pribadi)

Maggot BSF dan Partisipasinya Menyelamatkan Lingkungan

Makhluk kecil itu bergerak-gerak tatkala kami menyibak potongan sayur-mayur dan limbah dapur yang menutupi mereka. Menggelikan. Itulah kesan pertama yang saya rasakan terhadap maggot atau larva dari black soldier fly (BSF) yang dikembangkan oleh Ekho dan kawan-kawan.

Menangkap kesangsian saya, Ekho menjelaskan bahwa BSF adalah lalat yang bersih. Usia BSF dewasa pun terbilang pendek, hanya sekitar 6 hari. Itu pun mereka habiskan untuk kawin dan bertelur, mereka hanya meletakkan telur, tidak menghuni sampah seperti lalat hijau. Penjelasan demi penjelasan ia sampaikan hingga saya berani meletakkan tangan di koloni larva BSF itu.

“Gimana, hangat kan?” tanya Uda Ekho pada saya yang diikuti dengan anggukan.

Usut punya usut, ternyata larva yang saya sentuh itu sedang berada pada fase makan sangat aktif, daya makannya yang luar biasa meningkatkan suhu media. Pantas saja, ada penelitian yang menyatakan bahwa kemampuan larva BSF dalam mereduksi sampah organik bisa mencapai 85%. Nah, kemampuan mereduksi sampah organik inilah yang membuat maggot BSF menjadi penyelamat lingkungan.

Oh ya, meskipun yang bisa diproses maggot hanya sampah organik tapi jangan salah-salah. Sampah organik yang tidak terkelola juga merupakan salah satu penyebab meningkatnya suhu global yang berujung pada perubahan iklim. Hal itu dikarenakan sampah organik bisa menghasilkan gas metana (CH4) yang termasuk gas rumah kaca perusak lapisan ozon.

Sampah organik yang telah dicacah sebagai makanan maggot BSF (Dok. Pribadi)

Sampah organik yang dibiarkan begitu saja akan terdekomposisi secara anaerobik sehingga menghasilkan bau busuk dan pelepasan gas CH4 ke atmosfer. Nah, cara mengurangi pelepasan gas metana ini adalah dengan mengubah dekomposisi anaerobik tadi menjadi aerobik. Cara konvensionalnya adalah dengan menggunakan mikro organisme efektif sehingga sampah organik bisa menjadi kompos. Namun cara ini punya efek samping pelepasan gas karbondioksida (CO2) ke atmosfer.

“Lho, bukannya CO2 juga termasuk gas rumah kaca (GRK)?”

Yap, CO2 juga termasuk gas rumah kaca, tapi efek pemunculan pemanasan globalnya 21 kali lebih rendah daripada CH4.

“Kalau begitu, di mana peran serta maggot BSF dalam menyelamatkan lingkungan?”

Nah, begini ceritanya,….

Adelina Mertenat, dkk, kelompok peneliti dari Swiss Federal Institute of Aquatic Science and Technology meneliti sebuah fasilitas peternakan maggot BSF di Sidoarjo pada Juni 2016 lalu. Hasil penelitiannya itu dipublikasikan dalam jurnal Waste Management, sebuah jurnal dari penerbit besar Elsevier, dengan judul “Black Soldier Fly biowaste treatment – Assessment of Global waring potential”.

Adelina dkk menemukan fakta menarik tentang bagaimana BSF berkontribusi menyelamatkan lingkungan dengan mengurangi GRK dari sampah organik. Metode pengomposan dengan bantuan BSF mampu menurunkan jumlah emisi CO2 47 kali lebih rendah daripada metode pengomposan biasa.

Lebih lanjut nih, ketika maggot BSF diproduksi untuk menggantikan pakan ikan konvensional, hal itu mereduksi potensi pemanasan global atau global warming potential (GWP) hingga 30%. Mereka menyimpulkan bahwa peternakan BSF menjadi solusi yang sangat baik dalam menangani limbah organik.

Pupuk organik dari fermentasi air tirisan cacahan sampah organik (Dok. Pribadi)

Dari semua penjelasan di atas, tentu kita sudah bisa bersepakat bahwa beternak maggot BSF adalah salah satu usaha berorientasi lingkungan (ecoprenuer) yang bisa menyelamatkan lingkungan, bukan? Bagaimana tidak, ia menjadi solusi pengolahan sampah organik yang bisa menekan laju pemanasan global ditambah bisa mendatangkan keuntungan ekonomi.

Oh ya, karena sejauh ini kita belum membahas aspek ekonominya, setelah ini kita akan bahas itu agar kamu semakin yakin bahwa budidaya maggot BSF adalah salah satu usaha potensial bagi milenial.

Mengintip Potensi Ekonomi dari Maggot BSF

Pada kunjungan Sabtu itu, saya juga menyempatkan diri untuk bertanya nilai ekonomis dari maggot BSF tersebut. Ekho mengaku bahwa maggot hidup atau basah BSF bisa dijual dengan harga Rp. 9.000 per kilogram. Harga maggot kering tentu lebih mahal lagi. Selain itu, prepupa (calon kepompong) dari BSF dapat laku hingga Rp. 100.000 per kilogramnya karena digunakan sebagai indukan.

Rasa penasaran membuat saya melakukan riset lebih jauh tentang potensi pasar dari maggot ini. Kandungan protein di tubuh maggot BSF berkisar di angka 40%. Jika dibandingkan dengan pakan ikan berupa pelet dengan kandungan protein yang sama, harganya bisa mencapai Rp. 25.000 per kilogramnya. Dengan hitungan kasar, menggunakan maggot sebagai pakan ikan tentu bisa menghemat Rp. 14.000 per kilogram.

Prepupa BSF (Dok. Pribadi)

Memang ikan juga butuh karbohidrat yang ada di dalam pelet, namun jika pakan dikombinasikan antara maggot dengan pelet ikan, berdasarkan sebuah riset lainnya, biaya pakan untuk ikan lele bisa ditekan hingga 22,74%. Tentu itu akan menguntungkan bagi peternak lele atau ikan lainnya, bukan?

Ditambah lagi selama ini bahan pakan ikan masih banyak diimpor. Pada tahun 2016 saja, data dari Direktorat Jendral Perikanan Budidaya, mengungkapkan bahwa total impor bahan baku pakan ikan (tepung ikan) mencapai 221.564 ton. Impor ini terjadi karena sulitnya mendapatkan sumber protein hewani yang cukup di pasar lokal. Bayangkan, jika budidaya maggot dapat dikembangkan dengan lebih baik, tentu ada alternatif untuk mengatasi impor tersebut.

Hebatnya lagi, biaya produksi maggot tidak terlalu tinggi. Pakan maggot BSF bahkan bisa didapatkan dengan gratis. Teman yang saya ceritakan di atas bahkan hanya perlu ke pasar untuk menjemput sisa-sisa sayur dan bahan organik secara gratis. Potensi sampah organik di kota kami sangat besar, menimbang cukup banyak pasar atau balai yang bisa didatangi. Justru malah Ekho dan tim yang tidak bisa menjemput lebih banyak sampah organik untuk dicacah dan dijadikan pakan bagi maggot BSF peliharaan mereka.

Maggot BSF pada media (Dok. Pribadi)

Jika di kota kecil kami saja limbah organik melimpah, tentu di Indonesia juga sama. Dikutip dari bisnis.com, Indonesia diperkirakan menghasilkan 64 juta ton sampah setiap tahun dan 50% darinya adalah sampah organik. Itu artinya, sampah organik kita melimpah dan sangat perlu untuk diolah.

Beternak maggot BSF menjadi salah satu solusi jangka panjang dalam pengolahan sampah organik untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai jual. Bahkan bisa dibilang maggot BSF adalah salah satu sumber protein hewani yang sustainable. Maka tidak ada keraguan untuk menyebut bahwa budidaya maggot adalah salah satu dari green jobs yang sangat potensial di masa depan, terutama jika yang mengambil peran di sana adalah kalangan milenial.

Green Jobs, Peluang Kerja Milenial untuk Indonesia Lebih Bersih

Omong-omong, pernahkah kamu mendengar istilah Green Jobs? Dari tadi saya menyebutkan green jobs beberapa kali, tapi saya baru bisa menjelaskan dengan lebih lanjut di segmen ini.

“Kok tidak dari tadi saja sih?” tanya pembaca.

Bukannya tidak mau menjelaskan di awal, tapi saya ingin menunjukkan, bukan sekadar menjelaskan. Kalau dalam istilah penulisan kreatifnya “show don’t tell”, hehe.

Nah, dari cerita saya mengenai budidaya maggot BSF yang jadi penyelamat lingkungan tadi, agaknya kamu sudah mendapatkan makna dari green jobs itu, bukan?

Dikutip dari laman coaction.id, green jobs dapat diartikan sebagai pekerjaan ramah lingkungan. Pekerjaan ini meliputi industri-industri yang mendukung aspek ramah terhadap lingkungan atau juga wirausaha/bisnis yang bisa memberikan dampak positif pada lingkungan.

International Labour Organization (ILO) bahkan menyebutkan bahwa green jobs atau pekerjaan ramah lingkungan menjadi lambang dari perekonomian yang lebih berkelanjutan dan mampu melestarikan lingkungan, baik untuk generasi sekarang maupun untuk generasi yang akan datang.

Budidaya maggot BSF yang sudah saya jelaskan di atas termasuk ecopreneur yang merupakan salah satu dari contoh green jobs yang ada. Ecopreneur sendiri bisa dikatakan sebagai wirausaha atau bisnis yang berorientasi pada lingkungan, katakanlah kebersihan dan keberlangsungan lingkungan yang lebih baik.

Selain ecopreneur, masih banyak lho contoh green jobs yang lain. Sebut saja, eco design architect, eco fashionpreneur, electric car technician, energy startup, organic foodpreneur, solar panel technician, urban farmer dan waste management startup.

Semua pekerjaan ramah lingkungan di atas itu sangat cocok lho untuk dijalani milenial. Kenapa? Alasannya tidak lain karena karakteristik bawaan kaum milenial yang kreatif dan mampu berpikir kritis. Permasalahan lingkungan memang tidak bisa untuk sekadar diketahui saja, melainkan harus diperbaiki dan diatasi dengan aksi nyata. Di situ, tentu saja, sangat dibutuhkan golongan muda yang bertenaga dan punya waktu yang bisa mereka gunakan untuk menyelematkan dunia.

Yap, green jobs adalah pekerjaan yang tidak mendatangkan manfaat secara ekonomis, tetapi juga memberikan kontribusi nyata pada upaya manusia dalam menyelamat bumi, tempat tinggal mereka. Dalam skop Indonesia, green jobs tak pelak lagi adalah peluang kerja bagi kita, kaum milenial, untuk Indonesia yang lebih bersih.

Tertarik untuk mempelajari green jobs lebih jauh? Kabar baiknya, kamu bisa dengan mudah mempelajari itu melalui konten-konten atau agenda yang diadakan oleh Coaction Indonesia (Koaksi Indonesia). Yuk partisipasi dalam gerakan menyelamatkan bumi, bersama Koaksi. Kenali lebih jauh melalui kanal Instagram di coaction.id.[]

Infografis tentang Green Jobs (sumber coaction.id)

Referensi :

  • Lena Monita, dkk. Pengolahan Sampah Organik Perkotaan Menggunakan Larva Black Soldier Fly (Hermetia illucens). Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Vol. 7 No. 3 (Desember 2017): 227-234
  • I gusti Ngurah Puger. Sampah Organik, Kompos, Pemanasan Global, dan Penanaman Aglaonema di Pekarangan. Agro Bali Vol. 1 No. 2, Desember 2018: 127-136
  • Rizal Ula Ananta Fauzi dan Eka Resty Novieta Sari. Analisis Usaha Budidaya Maggot Sebagai Alternatif Pakan Lele. Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Vol. 7 No. 1 : 39-46 (2018)
  • Adelina Mertenat, dkk. Black Soldier Fly biowaste treatment – Assessment of global warmingpotential. Waste Management 84 (2019): 173-181
  • Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh. Timbulan Sampah Nasional Capai 64 juta ton per Tahun. Tersedia di https://ekonomi.bisnis.com/read/20190221/99/891611/timbulan-sampah-nasional-capai-64-juta-ton-per-tahun
  • Coaction Indonesia. Green Jobs. Tersedia di https://coaction.id/green-jobs/

20 pemikiran pada “Budidaya Maggot, Pilihan Green Jobs Potensial Untuk Kalangan Milenial”

    • S3 Pertanian kan secara umumnya Da, kalau topik penelitian yang dikaji lebih spesifik dan kebetulan bukan maggot melainkan bengkuang, hhe

      Balas
  1. Profesi baru di dunia kerja kaya gini harus disebarkan nih. Biar anak-anak kekinian enggak bingung lagi abis kuliah mau ngapain? Karena, usaha seperti ini kan salah satu bagian dari penyeimbangan ekosistem juga ya. Semoga aja semakin banyak yang melek terhadap green job ini. Biar Bumi enggak semakin rusak

    Balas
  2. Wah membaca postingan ini membuat saya flashback sama materi kuliah tentang persampahan. Keren ya budidaya maggot ini, udah bisa berperan untuk mengurangi sampah organik yang dari wkatu ke waktu semakin banyak. Green Jobs ini juga gak kalah keren, bisa menjadi wadah untuk millenial bekerja sambil memperhatikan aspek-aspek peduli lingkungannya.

    Balas
    • Ternyata sampah organik yang diolah selain untuk makanan larva bisa menjadi pupuk organik cair yang sekaligus dapat menahan laju pemanasan global.
      Salut buat pak Ekho ini,dimana mungkin sebagian orang akan enggan melakukan pekerjaan membudidayakan Maggot atau larva ini, yang emang kalau dilihat sedikit menggelikan. Tapi usaha beliau patut di apresiasi.

      Balas
  3. Pertama, baru tahu ini namanya maggot. Entah kenapa jadi ingat Harry Potter hehe.
    Kedua, belum pernah terpikirkan ternak Maggot bisa menjadi ladang usaha yang ternyata berdampak baik juga dengan lingkungan.

    Keren nih sebagai solusi kedepannya di kalangan millenial. Tidak terlalu banyak modal tapi bisa menghasilkan sekaligus merupakaan salah satu pilihan green jobs. Asal berani megang hehe

    Balas
  4. Oh Tuhaaaan untung maggotnya hadir gak dalam bentuk video ya
    Kalau hanya foto gak geli sih, soalnya dia gak gerak-gerak haha
    Tapi keren lho ini, aku gak nyangka ada yang budidaya maggot gini
    Dan ternyata ini masuk kategori green jobs juga ya
    Mantaaab

    Balas
  5. Mas Fadli apakah boleh tahu kontaknya mas Ekho? Pengen belajar lebih lanjut soal budidaya maggot ini.

    Kebetulan saya lagi mencoba budidaya lele dalam terpal, selama ini di kasih makan pelet sama sisa-sisa sayuran aja secara langsung.

    Balas
  6. Saya sih bakalan bergidik sih Da kalo liat or even nyentuh itu maggot yang uget-uget, ampun bang jago deh, tapi salut sih kalo banyak milennial yang mau budidaya maggot krn ini termasuk green jobs yang kelak akan menyelamatkan bumi kita tercinta

    Balas
  7. Keinginan saya dulu berkecimpung di dunia begini. Dulu sempat ikut-ikutan sama tetangga yang insinyur tapi dia ternak cacing. Tapi ya sebatas ikut-ikutan.

    Sekarang kondisi rumah belum menungkinkan buat bikin semacam budidaya maggot ini. Pengin balik ke kampung tapi disana gak kejangkay biznet 😂

    Balas
  8. Aku tadi berpikir maggot itu semacam tumbuhan sihir di Harry Potter hahaha.
    Oh ternyata begini bentuknyaa.
    Pengetahuan baruu buatku. Seneng banget bisa baca2 artikel soal lingkungan kek ginii

    Balas

Tinggalkan komentar

error: