Apa yang akan kamu lakukan jika mendapatkan segepok besar uang dalam satu waktu? Itulah pertanyaan yang tak berhasil saya jawab dengan baik dan benar beberapa tahun lalu, hingga akhirnya saya dirundung “bencana” finansial yang bikin kepala pusing luar biasa.

Sebagai seorang milenial yang memutuskan untuk melanjutkan studi, alhamdulillah saya diberikan Tuhan kesempatan untuk menjadi salah satu penerima beasiswa pascasarjana dari pemerintah. Tak tanggung-tanggung, dalam satu waktu, puluhan juta rupiah masuk ke rekening tabungan saya.

Senangnya luar biasa, tapi disitu lah awal bencana itu terjadi. Tidak hanya merundung saya, tapi masalah yang sama merundung hampir semua teman-teman satu angkatan beasiswa.

Dengan tanpa pikir panjang, kami menggunakan uang itu sesukanya. Laptop baru. Ponsel baru. Baju baru. Hampir semua baru, tanpa mengerti bagaimana seharusnya mengelola keuangan agar memiliki keuangan yang sehat.

Alhasil, uang beasiswa yang seharusnya digunakan untuk bertahan hidup setahun, sudah hampir habis di setengah perjalanannya. Tentu kamu bisa menebak apa yang terjadi setelahnya. Kembali missqueen. Menggembel. Terbuka peluang untuk berhutang–padahal belum punya pekerjaan tetap.

Mau bagaimana lagi ya, minta ortu malu. Kesudahannya ya, bertahan sajalah dan berjanji pada diri sendiri untuk lebih baik mengelola keuangan di masa yang akan datang. Tentu kamu tidak ingin mendapatkan masalah yang sama, bukan?

Milenial, Generasi “Termiskin” dan “Terkaya” Sekaligus

Well, kalau kita bicara soal finansial dan kaitannya dengan milenial, tahukah kamu bahwa milenial dikatakan sebagai generasi “termiskin” dan “terkaya” sekaligus? Kok bisa? Dan faktanya, para ahli membenarkan dua sematan gelar itu.

Sebuah studi yang dipublikasikan oleh the Federal Reserve (The Fed) melaporkan bahwa milenial memiliki lebih sedikit uang dibandingkan dengan generasi sebelumnya pada usia mereka–hal ini membuat mereka menjadi generasi “termiskin” dibanding lainnya.

Namun sebaliknya, masih menurut The Fed, rumah tangga milenial justru memiliki lebih banyak uang dibandingkan generasi sebelumnya di usia yang sama. Hal ini menjadikan mereka sebagai generasi “terkaya” dibanding lainnya.

Lantas, apakah milenial itu kaya atau miskin? Hmm, mereka kedua-keduanya. Namun, jika kamu adalah seorang milenial, kamu bisa memilih kok. Mau jadi miskin atau jadi kaya? Ya, pasti jadi kaya ya.

Dan tenanglah, untuk dapat menjadi kaya kamu tidak perlu buru-buru untuk berumah tangga, semuanya dapat dicapai dengan manajemen keuangan yang tepat.

Hindari Bencana Finansial dengan Bijak Mengelola Keuangan

Salah satu hal yang melekat pada kaum milenial yang bisa juga disebut sebagai dewasa muda adalah kerap dihantui oleh kegilasahan-kegelisahan tertentu, tak terkecuali kegelisahan tentang finansial.

Dulu saya benar-benar kurang update soal website ataupun portal edukasi dan literasi finansial. Andai waktu itu saya tahu dan mau membaca, mungkin saya bisa menghindari bencana finansial yang mengguncang kehidupan saya.

Faktanya, mendapatkan edukasi finansial sekarang ini mudah sekali, seperti baca-baca artikel, dengar podcast hingga ikut webinar di Finansialku.com. Sehingga bukan mimpi lagi milenial bisa mencapai kebebasan finansial.

Namun sebelum bisa mencapai itu, kita harus menghindari kesalahan pengelolaan keuangan di bawah ini.

#1 Tidak Memiliki Arah dan Tujuan Keuangan

Milenial kerap kesulitan untuk mendefinisikan tujuan mereka tentang keuangan. Alhasil, mereka mengelola uang dengan sekenanya saja. Padahal memiliki visi yang jelas tentang ini sangat membantu kita mendapatkan kebebasan finansial lho.

#2 Gagal Mengatur Arus Kas Uang

Hal yang terjadi pada saya di awal-awal menerima beasiswa dulu adalah gagal mengatur arus kas uang. Hal ini membuat uang saya cepat habis dan kesulitan buat “tracking” ke mana saja habisnya.

#3 Tidak mempersiapkan tabungan atau dana darurat

Perilaku konsumtif seringkali membuat kita, kaum milenial, lupa untuk menyisihkan uang untuk tabungan atau dana darurat. Tidak adanya tabungan ini membuat kita kesulitan ketika membutuhkan dana dadakan–sehingga besar kemungkinan untuk “ngutang”.

Hal di atas barulah 3 dari banyaknya kesalahan milenial dalam mengatur uang lho. Untuk mengetahui lebih banyak, kamu bisa baca artikel di tautan ini: https://www.finansialku.com/kesalahan-dalam-mengatur-keuangan-versi-generasi-milenial/

Yuk Hindari Bencana Finansial Bersama Aplikasi Finansialku

Bagi orang yang awam tentang ilmu finansial, seperti saya ini atau bahkan milenial pada umumnya, kebutuhan akan edukasi finansial bukan lagi di level “tersier” atau “sekunder” tapi sudah di tahap kebutuhan “primer”. Lebih-lebih di zaman sekarang ini yang kalau mau menghabiskan uang mudah luar biasa.

Selain edukasi, kita juga butuh alat untuk membantu mengelola keuangan kita. Nah, untuk memenuhi kebutuhan “primer” satu ini, Aplikasi Finansialku bisa menjadi teman terbaik mengelola keuangan kita.

Di kasus “bencana” finansial saya di atas misalnya, seharusnya itu tidak terjadi andai saya bisa membuat anggaran keuangan. Sehingga tak ada porsi tertentu yang membengkak atau ketimpangan antara anggaran yang satu dengan lainnya.

Salah satu fitur di Aplikasi Finansialku yang saya sukai adalah “Anggaran“. Di fitur ini kita bisa menganggarkan pemasukkan kita untuk berbagai porsi pengeluaran. Dimulai dari pajak, sedekah atau donasi, rumah tangga, cicilan dan utang hingga ke hobi dan sebagainya.

Khusus soal hobi misalnya, tak sedikit uang saya habiskan. Seperti beli hostingan dan domain blog, beli software sampai peralatan multimedia. Alhasil uang yang seharusnya saya pakai untuk hal lain seperti makanan dan sedekah jadi kurang dan mengundang masalah finansial–yang tentu saja akan sangat memusingkan.

Di Aplikasi Finansialku, fitur “Anggaran” tidak sendiri, ada banyak fitur bermanfaat lainnya seperti Transaksi, Transaksi Berulang, Rekeningku, Rencana Keuangan, Investasi, Produk Keuangan, Aset, Financial Health Check Up, Laporan Keuangan, dan Tanya Jawab.

Selain itu kita juga bisa membaca berbagai artikel menarik seputar keuangan, mengetahui event terdekat hingga kursus online. Tertarik untuk mencoba? Unduh Aplikasi Finansialku di Google Play Store, gak bayar kok!

Mau Jadi Milenial Miskin atau Milenial Kaya?

Bencana finansial memang bisa melanda siapa saja, tapi sebagai kaum dewasa muda, milenial adalah golongan yang akan kesulitan untuk melakukan “pemulihan” setelah bencana itu. Kalaulah di bencana alam ada edukasi tentang mitigasi bencana, di “bencana finansial” tentu berlaku hal yang sama.

Sebagai milenial kita memang bisa memilih menjadi “miskin” atau “kaya”, tapi pilihan tersebut tentu harus diiringi dengan usaha, bukan? Sekarang semuanya tergantung padamu. Jika kamu ingin menjadi milenial miskin, abaikan saja artikel ini. Namun jika kamu ingin menjadi milenial kaya, cermati baik-baik dan pastikan kamu mengunduh Aplikasi Finansialku sekarang juga.[]

Sumber refrensi:

  • Kurz, Christopher, Geng Li and Daniel J. Fine (2018). “Are Millenials Different?”, Finance and Economic Discussion Series 2018-080. Washington: Board of Governors of The Federal Reverse System, https://doi.org/10.17016/FEDS.2018.080.
  • Fransiska Ardela. 5 Agustus 2019. Hindari! Gaya Hidup Ini Tidak Membuat Milenial Bebas Keuangan. Finansialku.com – https://www.finansialku.com/milenial-bebas-keuangan/