Saya bergidik ketika seorang teman yang berprofesi sebagai seorang dokter bercerita bahwa–semalam sebelum pertemuan kami–ia baru saja menghadapi seorang pasien perempuan yang memiliki tumor sebesar buah kelapa di dadanya. Ketika kami tanyakan apakah itu kanker, si dokter ini bilang belum bisa dipastikan karena harus dilakukan pengujian laboratorium terlebih dahulu. Tentu saja ia tidak bisa menjustifikasi secara langsung tanpa bukti empiris—saya rasa dia bersikap sebagaimana seharusnya seorang dokter.

Ngomong-ngomong, soal tumor dan kanker itu memang sedikit berbeda. Tumor bisa jadi bukan kanker, kecuali jika tumor itu adalah tumor ganas. Ketika hasil uji laboratorium mengatakan bahwa sebuah tumor adalah tumor ganas, barulah setelah itu ia bisa dikatakan kanker. Lalu, tentang kanker itu, sederhananya ia adalah sebuah penyakit yang timbul karena pertumbuhan sel yang abnormal tak terkendali dan menghancurkan jaringan tubuh.

Oh ya, ketika mendengar cerita tentang pasien dengan tumor sebesar kelapa di dadanya itu, pikiran awam saya langsung terarah kepada kanker payudara.

Konon, kanker payudara termasuk salah satu penyakit yang paling banyak membunuh perempuan di dunia. Selain itu, mengutip informasi dari laman World Health Organization (WHO), kanker payudara bersama dengan kanker paru-paru menjadi jenis kanker yang paling banyak menyebabkan kematian di seluruh dunia pada tahun 2018 lalu—jumlahnya mencapai 2,09 juta kasus. Selanjutnya diikuti oleh kanker kolorektal (usus besar), prostat, kulit dan perut.

Di Indonesia sendiri, kasus kanker cukup memprihatinkan. Dilansir dari rilis yang dipublikasikan oleh Kemenkes di laman web mereka, setidaknya penyakit kanker ditemukan pada rasio 136,2/100.000 orang penduduk Indonesia. Rasio ini menjadikan Indonesia berada di urutan ke-8 di Asia Tenggara dan ke-23 di Asia. Kasus kanker paling umum untuk laki-laki adalah kanker paru-paru, sedangkan untuk perempuan adalah kanker payudara.

Tentu saja dengan jumlah kasus dan angka kematian yang tinggi akibat kanker, penyakit ini harus dideteksi dan diobati sedini mungkin, bukan? Kabar baiknya, ada satu metode pengobatan kanker terbaru yang efektif yaitu imunoterapi kanker.

infografis kanker

Fakta Imunoterapi: Terobosan Medis Terbaru dalam Mengalahkan Sel Kanker

Sebagian besar penderita kanker kerap takut untuk memeriksakan dirinya ke dokter, penyebab paling memungkinkan dari hal itu karena beberapa metode umum pengobatan kanker cenderung menyakitkan. Sebuah artikel ilmiah di Jurnal Online Mahasiswa (JOM) Universitas Riau mengatakan bahwa 75% pasien kanker memiliki masalah pada kesehatan fisik dan psikologi yang berkaitan dengan terapi kankernya. Sebuah artikel lainnya, yang dimuat di jurnal Oncology Nursing Forum, bahkan mengatakan pengobatan kanker adalah pengalaman yang sulit dan berpotensi menyusahkan banyak pasien.

imunoterapi kanker ilustrasi

Gambar dari laman kalahkankanker.com

Berbagai keluhan yang diutarakan pasien kanker setelah menjalani pengobatan dengan operasi, kemoterapi dan radioterapi mendorong peneliti untuk mengembangkan metode pengobatan kanker terbaru. Adapun metode pengobatan kanker tersebut adalah imunoterapi atau disebut juga dengan imuno onkologi.

Imunoterapi kanker adalah standar baru dalam pengobatan kanker dengan cara mengembalikan kemampuan sistem imun pasien agar dapat melawan sel kanker tersebut. Biar kita semua lebih kenal dengan metode pengobatan kanker kekinian ini, berikut beberapa fakta mengenai imunoterapi kanker.

1. Telah ditemukan sejak abad ke-19 lalu

Pengobatan imunoterapi kanker ini sebenarnya bukan barang baru, gagasan dan konsep imunoterapi sudah lahir sejak abad ke-19 lalu lho. Kala itu seorang ahli bedah bernama William Coley menyuntikkan bakteri untuk menyembuhkan kanker kepada pasien. Suntikan itu dikenal dengan toksin Coley (Coley’s toxin) yang menjadi bukti awal bahwa perangsangan sistem imun dapat mengecilkan ukuran tumor atau bahkan hilang.

Selanjutnya pada tahun 1993, dalam sebuah jurnal yang diterbitkan pada Proceedings of the National Academies of Sciences, dijelaskan bahwa sel melanoma yang sudah dimodifikasi secara genetik dan diperlemah pada tikus percobaan dapat merangsang imunitas dan memberikan perlindungan terhadap pertumbuhan melanoma, yaitu jenis kanker kulit yang mematikan.

Penelitian mengenai imunoterapi kanker tidak berhenti di situ, setelah berpuluh-puluh tahun diteliti, pada tahun 2000-an ditemukan vaksin kanker. Vaksin dimasukkan ke dalam tubuh penderita kanker untuk memulai respon imunitas terhadap penyakit tertentu.

Perkembangannya hingga hari ini adalah telah hadirnya antibodi monoklonal. Antibodi ini merupakan protein sistem imun yang dirancang untuk mengubah interaksi antara sel imun dengan sel kanker. Contohnya adalah inhibitor checkpoint yang membantu tubuh mengidentifikasi dan menyerang sel kanker.

2. Peran besar Sel T

Sebuah pertanyaan barangkali muncul di benak kita, apa yang berperan penting dalam imunoterapi kanker? Tentu saja inhibitor checkpoint (checkpoint inhibitor) yang telah disebutkan sebelumnya. Inhibitor ini menghalangi protein tertentu seperti PD-L1 untuk berikatan dengan protein lainnya. Hal ini memberi jalan bagi sel-T untuk mengenali dan menyerang sel kanker.

Sel-T? Apa lagi itu?

Sel-T adalah sejenis sel darah putih yang memiliki peran penting dalam perlawanan terhadap sel kanker. Lebih jauh, dikutip dari laman kalahkankanker.com, sel T dalam sistem imun bekerja dalam 3 tahap yaitu:

Mencari. Sel T bekerja dan mencari semua hal yang berbahaya bagi tubuh kita.

Memindai. Sel T memindai sel-sel yang ada untuk membedakan mana sel yang normal dan mana yang abnormal.

Menyingkirkan. Sel T akan menyerang dan menyingkirkan sel abnormal ketika sel itu terdeteksi.

Keren banget kan sel T ini? Tapi sayang, pada penderita kanker, sel T kewalahan menemukan sel abnormal itu dikarenakan terhalang oleh protein PD-L1. Oleh karena itulah, imunoterapi diperlukan untuk memberikan jalan pada sel T agar dapat melakukan ketiga tahap tadi.

3. Bekerja dalam 7 tahap

For your information, sistem imunitas tubuh memiliki siklus khusus dalam bekerja melawan kanker. Siklus ini terdiri dari 7 tahap. Pertama, siklus dimulai dengan pelepasan antigen. Antigen ini berasal dari sel kanker yang sudah mati. Antigen itu sendiri merupakan potongan protein kecil dari sel kanker yang telah mati tersebut. Setelah itu masuk ke tahap yang dinamakan antigent presentation, di mana antigen diambil oleh sel dendritik (antigen presentation cell), yang kemudian membawa antigen tadi ke tempat pembuangan lokal di kalenjar getah beting.

Tahap selanjutnya, potongan antigen diberikan oleh sel dendritik kepada sel T sehingga kemudian terproduksi dan teraktivasi. Setelah itu, sel T akan masuk ke pembuluh darah untuk mencari sel kanker. Saat sel T telah sampai di lokasi tumor, mereka kemudian masuk ke dalamnya. Sel T menghancurkan dinding pertahanan tumor dan menembus masuk. Barulah setelah itu sel T mengenali sel-sel kanker di dalam tumor. Tahap terakhir adalah sel T yang telah aktif memerangi dan menghancurkan sel kanker.

Lantas, apa peran pengobatan imunoterapi dalam siklus tersebut? Imunoterapi dapat memblokir ikatan PD-L1 dengan protein lain yang menghambat kerja dalam mengenali dan menghancurkan sel kanker. PD-L1 adalah protein yang terdapat di permukaan sel kanker yang menjadi penghalang (immune checkpoint) sistem imun kita dalam melawan kanker.

4. Lebih efektif dari kemoterapi

Fakta menarik lainnya tentang imunoterapi adalah metode pengobatan ini lebih efektif dari kemoterapi. Efek samping dari imunoterapi terbilang ringan jika dibandingkan dengan kemoterapi yang tidak hanya menghancurkan sel kanker tapi juga bisa mengenai yang lain. Adapun efek samping dari imunoterapi adalah alergi ringan, berat, hingga demam. Namun keluhan efek samping ini bisa didiskusikan lagi dengan dokter yang menangani pasien kanker tersebut.

5. Memiliki jaringan atau kolaborasi global

Sebagai metode pengobatan kanker terbaru, para ahli di dunia gencar melakukan penelitian dan pengembangan pengobatan imunoterapi kanker. Bahkan saking penting dan masifnya penelitian itu, para ahli dari seluruh dunia membuat jaringan atau kolaborasi. Jaringan itu dinamakan Immunotherapy Centers of Research Excellence (imCORE) Network. Jaringan imCORE ini adalah komunitas para ahli imunoterapi kanker untuk saling berbagi ide dan bekerja sama.

siklus imunitas kanker

Siklus Imunitas Kanker (sumber: kalahkankanker.com)

Siklus Imunitas Kanker (Sumber: kalahkankanker.com)

Imunoterapi: Harapan Baru Penyintas Kanker di Dunia

Tak pelak lagi, imunoterapi menjadi harapan baru bagi penyintas kanker di dunia. Hal ini dikarenakan pengobatan imunoterapi dapat dikatakan lebih aman dan lebih “manusiawi” ketimbang metode pengobatan lainnya. Imunoterapi juga memiliki efek samping yang lebih sedikit dibanding pengobatan yang lain. Hal ini dikarenakan fokus dari imunoterapi adalah merangsang sistem imun yang memang sudah ada di dalam tubuh manusia—tidak menggunakan sumber daya atau peralatan dari luar tubuh seperti sinar-X dan lainnya.

Hanya saja, dibalik besarnya manfaat dan potensi imunoterapi terhadap pengobatan kanker di dunia, informasi mengenai metode pengobatan ini masih terbatas dan belum menjangkau semua kalangan masyarakat. Oleh karena itu, sudah semestinya orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang ini membagikan informasinya kepada publik. Dan saya rasa, narablog atau blogger, menjadi salah satu corong informasi untuk publik itu—menimbang besarnya pengguna internet di Indonesia.

Kesudahannya, meskipun imunoterapi hadir sebagai terobosan baru dunia medis dalam pengobatan kanker, bukan berarti setiap jenis kanker bisa diobati dengan terapi ini. Jika pembaca sekalian memiliki keluarga atau kenalan penyintas kanker, akan lebih baik untuk mengabarkan berita baik ini kepada mereka. Selanjutnya, sarankan mereka untuk menghubungi dokter agar dapat berkonsultasi lebih lanjut.

Nyatanya dunia dan teknologi terus berkembang untuk menyesuaikan kebutuhan manusia. Imunoterapi adalah inovasi pengobatan kanker yang dapat memberikan harapan dan kualitas hidup yang lebih baik bagi pasien di Indonesia. Semoga metode pengobatan imunoterapi ini bisa digunakan secara luas di negeri ini.[]

—-

Referensi:

World Health Organization. Cancer. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/cancer. Diakses 20 Februari 2020.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Hari Kanker Sedunia 2019. https://www.depkes.go.id/article/view/19020100003/hari-kanker-sedunia-2019.html. Diakses 20 Februari 2020.

Dwi Wahyuni dkk. Studi Fenomenologi: Pengalaman Pasien Kanker Stadium Lanjut yang Menjalani Kemoterapi. JOM Vol 2 No 2, Oktober 2015.

Karen A Skalla dkk. Patients’ Need for Information About Cancer Therapy. Oncology Nursing Forum Vol 31 No 2, 2004.

Roche. Perkembangan Imunoterapi Kanker. https://www.roche.co.id/id/sekilas_tentang_roche/lingkup_usaha/farmasi/onkologi/imunoterapikanker/Perkembangan-Imunoterapi-Kanker.html. Diakses 21 Februari 2020.

Gatra. Begini Mekanisme Kekebalan Tubuh untuk Memerangi Kanker yang Diganjar Nobel. https://www.gatra.com/detail/news/350682-Begini-Mekanisme-Kekebalan-Tubuh-untuk-Memerangi-Kanker-yang-Diganjar-Nobel. Diakses 21 Februari 2020.

Kalahkan Kanker. Imunoterapi Kanker. https://kalahkankanker.com/imunoterapikanker. Diakses 21 Februari 2020

Catatan : Tampilan postingan ini telah berubah dari awalnya dikarenakan penggantian tema, versi sebelumnya bisa dilihat di : http://arsip.ajopiaman.com/imunoterapi-kanker/

error: