Resolusi 2021, Hybrid Working, dan ASUS ZenBook Flip S (UX371) yang Menunjangnya

Setujukah Anda bahwa meninggalkan pekerjaan yang kadung dicintai itu teramat susahnya? Saya merasakan itu dan benar-benar tidak bisa move on. Semenjak duduk di bangku S1 hingga telah tamat S3, saya masih mengandalkan kemampuan mengolah kata dan media sebagai pekerjaan utama–meskipun itu tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan latar belakang pendidikan saya.

–bahkan bisa dibilang, penghasilan saya dari bidang media dan digital lebih besar dari penghasilan saya di kampus.

“Ah, itu mah karena memang belum resmi jadi dosen saja.” agaknya begitu kata orang-orang yang mengenal saya.

Cuma begini, jika orientasi pekerjaan kita adalah uang, maka dunia digital menjanjikan potensi yang lebih besar untuk mengeruk keuntungan materil. Sedang mengajar di kampus, uang hanya nomor dua, nomor satunya adalah tanggung jawab keilmuan kita–ya Tuhan, mohon teguhkan hati saya dengan prinsip ini.

Dan, jika saya harus memilih antara tetap berwirausaha di bidang media dan digital atau mengajar di kampus sebagai tanggung jawab keilmuan. Saya akan memilih: Why not both? Kenapa tidak keduanya?

Itu bukan sesuatu yang sulit, terlebih sekarang sudah muncul tren hybrid working yang diprediksi akan semakin diminati di 2021 ini.

Fenomena Hybrid Working, Salah Satu Pertimbangan Saya Merancang Resolusi

Pernahkah Anda mendengar atau membaca istilah hybrid working? Pengertian istilah ini sudah saya lampirkan di infografis sederhana sebelumnya. Tapi jika perlu diulang biar gamblang, hybrid working adalah metode kerja yang menggabungkan antara office working dengan remote working. Metode ini mengizinkan seorang pekerja untuk bisa ke kantor atau bekerja di mana saja ketika mereka membutuhkannya.

Saat-saat pandemi seperti sekarang ini, pasti Anda sudah akrab sekali dengan istilah Work from Home (WFH) atau Work from Anywhere/Remote Working, bukan? Dua metode ini memang cocok bagi sebagian orang, tapi sebagian besar lainnya justru tetap butuh ke kantor agar bisa mengerjakan pekerjaan tertentu.

Saya belajar langsung dari istri saya terkait praktek hybrid working ini. Sebagai tenaga administrasi di kantornya, doi mesti ke kantor untuk menyiapkan berkas versi cetak di hari tertentu, dan bekerja dari rumah untuk berkas digital di hari yang lain. Sehari work from office, sehari lagi work from home. Tapi terkadang kalau banyak pekerjaan yang mengharuskannya ke kantor, ia masuk kantor 2 atau 3 hari berturut-turut. Pola kerjanya itu termasuk contoh dari hybrid working tadi.

Lalu, bagaimana dengan dosen-dosen saat pandemi ini?

Hampir semua dosen mengajar dengan metode pembelajaran daring, entah itu dengan platform video meeting atau e-Learning. Konon metode daring ini diramalkan akan tetap bertahan meski pandemi telah berlalu. Tapi masalahnya, pekerjaan dosen bukan hanya mengajar.

Untuk mewujudkan tri dharma perguruan tinggi, dosen tidak hanya memikirkan “pendidikan” saja, tetapi juga “penelitian” dan “pengabdian pada masyarakat”. Agar dua poin lainnya tadi juga tercapai, dosen harus tetap ke kampus dan bergerak di luar kampus juga, bukan?

Saya membaca itu sebagai sebuah indikasi bahwa pada akhirnya dosen–sebagaimana profesi lain juga–akan menerapkan hybrid working juga. Nah, pertimbangan itulah yang membuat saya tidak mau menyerah dengan pekerjaan saya di bidang media. Toh hybrid working memungkinan seseorang untuk multitasking dan multijob, bukan?

Resolusi 2021, Bekerja sebagai Dosen Tetap dan Tetap Berwirausaha di Digital Media

Omong-omong tentang multitasking, selama ini kita santer mendengar stereotip bahwa perempuan memiliki kemampuan multitasking (tugas ganda) yang lebih baik dari laki-laki. Hal ini dikarenakan dalam kehidupan sehari-hari kita jamak melihat perempuan melakukan banyak hal dalam sekali waktu. Seperti tetap ngomel meski sedang masak, berias, atau ngapain saja.

–Eh. Malah jadi curhat colongan, mohon jangan ceritakan pada istri saya ya!

Tapi tahukah Anda, bahwa stereotip tersebut tidak selalu benar? Sebuah artikel ilmiah bertajuk “Putting a stereotype to the test: The case of gender difference in multitasking costs in task-switching and dual-task situations“, yang dipublikasikan di jurnal Plos ONE, membantah hal tersebut. Bukti empiris yang mereka temukan dari penelitian menunjukkan bahwa performa tugas ganda dari laki-laki dan perempuan yang diteliti ternyata beragam.

Itu artinya laki-laki juga bisa mahir multitasking, tapi sayangnya yang namanya tugas ganda tentu akan menempatkan satu pekerjaan lebih prioritas dari pekerjaan yang lain di waktu tertentu, lalu kondisinya bisa berbalik di waktu yang lain.

Karena itulah menetapkan dua pekerjaan, ingin jadi dosen tetap dan tetap berbisnis di bidang media, sebagai resolusi 2021 saya itu sebenarnya beresiko. Resiko itu bisa didapatkan jika tidak piawai mengelola waktu dan perhatian. Saya merasakan itu beberapa waktu yang lalu.

Ketika mengetahui tes CPNS sudah dekat, saya menggebu-gebu sekali membahas soal-soal di buku persiapan CPNS. Tapi sayangnya, saya tetap membuka keran pekerjaan saya di bidang media. Saya masih menerima pesanan pembuatan landing page dari klien yang melakukan repeat order. Alhasil, pengerjaan landing page itu molor dari jadwal seharusnya.

Belakangan, karena butuh uang (uhukk), saya istirahat dulu dari belajarnya dan fokus mengerjakan pesanan klien. Alhamdulillah, pesanan kemarin sudah selesai dan saya sudah menerima bayaran.

Sebuah pelajaran yang penting banget: Tugas ganda itu tak mengapa, tapi harus pandai mengelola waktu dan tenaga Anda!

Selain itu, tugas ganda juga akan sangat terbantu oleh peralatan yang memadai dan memudahkan pekerjaan. Bayangkan, jika dengan peralatan dan perangkat biasa kita butuh waktu 8-12 jam untuk mendesain sesuatu, dengan perangkat yang mumpuni bisa 4-6 jam saja. Sudah begitu, ada juga perangkat yang cocok banget dibawa kerja secara mobile karena fleksibilitasnya.

Kerja di rumah, OKE. Bawa ke kantor, OKE. Mampir di kafe, taman kota, rumah tetangga dan sebagainya oke-oke saja. Perangkat yang mendukung hybrid working tadi, dan tentu saja bisa mendukung setiap resolusi. Perangkat itu adalah ASUS ZenBook Flip S (UX371).

ASUS ZenBook Flip S (UX371), Perangkat Ideal untuk Hybrid Working dan Wujudkan Resolusi

ASUS ZenBook Flip S (UX371) adalah laptop anyar di dalam seri ASUS ZenBook. Laptop convertible ini adalah seri premium dari laptop ASUS dengan kemampuan serbaguna untuk bisa menemani rutinitas harian kita. Jika saya diminta menjelaskan keunggulan ZenBook Flip S (UX371) secara ringkas, maka saya setuju dengan tagline yang disematkan ASUS padanya: flexible performance dan luxurious design.

Setidaknya dua frasa tadi mewakili semua poin keunggulan yang ingin saya ulas. Lebih lengkapnya, yuk cermati beberapa poin di bawah ini.

Performa terbaik di kelasnya

Ketika mengulas sebuah laptop, hal pertama yang saya cari tahu adalah dapur pacunya. Mengetahui dapur pacu dari sebuah laptop itu penting agar tidak tertipu tampilan luar yang bagus. Kalau kata orang Minang: hanyo rancak di labuah (cuma bagus dilihat dari jalan). Beruntungnya, ASUS ZenBook Flip S (UX371), laptop dengan sistem operasi Windows 10 Home ini, tidak seperti itu. Perangkat ini rancak luar dan dalam. Disemati prosesor generasi ke-11 Intel, tepatnya Intel® Core™ i7-1165G7 yang mampu berakselerasi hingga 4,7 GHz dan mampu hemat daya, jelas saja laptop premium ini sudah unggul dari segi prosesor sebagai dapur pacu utamanya.

Keunggulan dapur pacunya tentu bukan hanya di prosesor, ZenBook Flip S juga didukung oleh RAM 16 GB berkecepatan tinggi dan dukungan grafis Intel Iris Xe. Dikutip dari laman resmi Intel, Iris Xe memungkinkan perangkat untuk dipakai di berbagai kebutuhan seperti gaming dengan pengaturan hingga 1080p 60 fps untuk mendapatkan permainan yang lebih detail dan imersif. Selain itu juga bisa dipakai menonton dengan resolusi hingga 8K (tergantung kapasitas layar).

Bagaimana dengan kreator konten? Jangan ditanya, paduan prosesor generasi ke-11 dengan Iris Xe membuat kreator konten dapat merancang dan membangun file yang rumit dengan detail yang mengagumkan. Kegiatan ekspor file 4K juga bisa dilakukan dengan cepat dan mudah dengan bantuan AI. Performa encoding-nya mengesankan.

Diperkuat SSD dan pen stylus

Perangkat keras penyimpanan bertipe SSD dan pen stylus menjadi dua hal yang mesti saya highlight di artikel ini. Pasalnya, dua teknologi tersebut adalah hal yang sangat mendukung pekerjaan dari pengguna. Sebagaimana yang saya jelaskan sebelumnya, ZenBook Flip S (UX371) adalah laptop ASUS yang serbaguna dan bisa mendukung keseharian kita, tentu saja adanya SSD dan pen stylus sangat membantu memaksimalkan pekerjaan. Terlebih saat membaca narasi dari ASUS yang membuat saya semakin yakin bahwa dua hal itu adalah salah dua dari keunggulan yang harus ditayangkan.

Berikut kutipan narasi dari ASUS Indonesia.

Komputer masa kini memiliki tampilan berbeda karena mereka memang berbeda. Dengan solid-state drive (SSD) dan teknologi terkini, Anda mendapatkan kecepatan, keamanan, ketahanan, dan desain yang cantik. Kami telah melakukan jajak pendapat, dan hasilnya, orang-orang lebih senang saat bepergian dengan PC modern.

PC modern juga dilengkapi dengan pena digital yang memiliki banyak manfaat. Sentuhan khas tercipta saat Anda membuat sketsa atau coretan pada dokumen dengan pena digital. Penelitian juga menemukan adanya peningkatan kinerja hingga 38% pada pelajar ketika mereka menggunakan pena digital untuk mengerjakan soal-soal sains. Tidak semua ide berupa kalimat, kini saatnya untuk tuangkan inspirasi segera dalam sketsa atau coretan pena digital di PC modern.

ZenBook Flip S (UX371) adalah komputer masa kini yang tentu saja harus bisa dibawa multitasking. Bekal SSD M.2 NVMe™ PCIe® 3.0 dengan total kapasitas 1TB tentu akan sangat memudahkan proses baca dan tulis data. Simpan-menyimpan jadi secepat kilat dan booting bisa diselesaikan hanya dalam beberapa detik. Belum lagi aplikasi yang mampu dimuat secara instan. Maka, keunggulan ASUS ZenBook Flip S (UX371) mana lagi yang perlu didustakan?

Sementara dukungan pen stylus atau pena digital membuat laptop ini dapat berfungsi layaknya kanvas digital–para ilustrator akan senang mendengar ini karena tidak perlu tambahan pen tablet lagi. Layar ZenBook Flip S (UX371) mendukung penggunaan pena digital dengan 4096 pressure level. Jadi tidak hanya bisa dipakai oleh insan kreatif seperti ilustrator, pebisnis hingga pendidik pun bisa menggunakannya untuk merancang mind map atau membahas soal-soal. Wah, saya banget dong!

Desain mewah, artistik, fleksibel dan portabel

Anda juga akan percaya diri membawa ASUS ZenBook Flip S (UX371) untuk hybrid working di mana saja. Pasalnya perangkat ini memiliki desain yang oke punya. Tema desain yang diusung adalah premium dan ringkas. Ketebalan bodi ZenBook Flip S hanya 13,9 mm dengan bobot hanya 1,2 kg. Tampilan bodinya juga sangat elegan, bodi berwarna jade black dengan finishing tepian diamond-cut berwarna merah tembaga. Mewah, menarik atensi tanpa berlebihan.

Yang tak kalah penting, layar dari laptop ini bisa diputar sejauh 360 derajat untuk penggunaan seperti tablet. Selain itu, engsel ErgoLift 360° ZenBook Flip S (UX371) juga memungkinkan mode lain seperti tenda dan dudukan. Engsel ini juga sudah diuji buka tutup hingga 20.000 kali untuk memastikan keandalan maksimum supaya bikin tenang pikiran. Oh ya, ketika digunakan dalam mode laptop, engsel ErgoLift tadi juga memberikan sudut yang ergonomis untuk mengetik lho.

Lebih lanjut, bezel layar juga tipis, bezel samping hanya 3,9 mm, dengan kualitas layar yang… kita simpan bahasannya buat nanti, hehe. Intinya laptop ini adalah pilihan sempurna untuk dibawa kemana saja agar Anda bisa tetap produktif dan kreatif saat bepergian.

Foto dari situs resmi ASUS

Perangkat display yang memanjakan

Sekarang mari kita bahas layarnya. Jika desain bodi sudah nyantol banget di hati, desain dan fungsionalitas layar tentu juga layak dipertimbangkan. Apalagi ZenBook Flip S digadang-gadang sebagai laptop yang enak dipakai dan dibawa kemana saja. Selain itu, tentu juga harus memasukkan parameter “kapan saja”. (Pssttt, sebagai orang yang hobi menenteng laptop bahkan saat pulang kampung dan bekerja di subuh buta atau larut malam, saya mesti mempertimbangkan itu dong).

Kabar baiknya, layar ZenBook Flip S sudah didukung oleh teknologi terkini sehingga mampu menghadirkan visual yang brilian. Sebut saja,  layar dengan resolusi 3840×2160 (4K UHD) dan 100% sRGB dengan akurasi warna tervalidasi PANTONE kelas pro. Selain visualnya tajam dan detail, layar ZenBook Flip S (UX371) juga ramah terhadap mata karena bersertifikat TÜV Rheinland, jadi aman dipakai baik untuk bekerja ataupun berhibur.

Durabilitas yang tidak perlu dikhawatirkan

Awalnya saya sempat khawatir, mungkin Anda juga. Ini laptop ringkas, bodinya tipis, layarnya bisa diputar hingga 360 derajat. Apa tidak ringkih? Saya berpikir begitu setidaknya sampai saya tahu dari website resmi ASUS kalau ZenBook Flip S (UX371) itu memiliki durabilitas kelas militer, jadi tidak perlu dikhawatirkan.

Hal yang saya suka dari brand ASUS adalah kesungguhannya menghadirkan perangkat yang tidak hanya tangguh di performa, tapi juga tangguh di ketahanan fisiknya. ZenBook Flip S sendiri sudah memenuhi standar militer MIL-STD 810G. Sudah melewati serangkaian tes dan dinyatakan lulus.

Apa saja tes yang dilakukan?

Banyak, mulai dari temperature test (low and high), altitude, humidity, drop, vibration, shock pressure dan sebagainya. Cuma, ada cumanya nih, meskipun durabilitasnya sudah tersertifikasi, jangan sekonyong-konyong dijatuhkan, ditaruh di tempat lembab dan sebagainya. Sayangi perangkat Anda seperti menyayangi diri sendiri. Coba bayangkan, bagaimana jika terjadi hal yang tidak diinginkan? Memang sih produk ini punya garansi 2 tahun global, tapi mengurus garansi tentu akan membuat pekerjaan tertunda, bukan?

Menawarkan pengalaman pengguna terbaik

Omong-omong, apa yang Anda harapkan saat mau mengeluarkan uang untuk membeli sebuah laptop? Kalau saya, agar bisa mendapatkan pengalaman pengguna terbaik. Sebagaimana saya, sepertinya Anda juga sama.

ASUS sih bilang kalau ZenBook Flip S ini mampu memberikan “Ultimate user experiences“, tapi ini perlu dibahas lebih lanjut. Bagian mana yang memberikan pengalaman yang memuaskan bagi pengguna?

Usut punya usut, ternyata itu hadir dari fitur mumberpad di touchpad, tepatnya ASUS NumberPad 2.0 yang membuat touchpad memiliki fungsi ganda. Numberpad-nya muncul dalam bentuk keypad numerik LED backlit terintegrasi. Selain itu, papan ketik (keyboard) juga didesain senyaman mungkin dengan desain edge-to-edge yang memberi ruang bagi seluruh baris tombol fungsi tambahan.

Beberapa fungsi penting juga diletakkan di tombol fungsi (F1-F12). Sedikit berbeda dengan laptop pada umumnya, pada ZenBook Flip S (UX371) tombol fungsi bisa dipakai untuk membuat tangkapan layar, mengunci webcam (penting banget nih buat online meeting), mengakses aplikasi MyASUS (yang akan saya jelaskan nanti), dan sebagainya.

Selain beberapa yang sudah saya sebutkan, ZenBook Flip S juga memanjakan pengguna dengan kamera inframerah yang dapat mengenali wajah pengguna agar bisa login dengan mudah. Kualitas audio dari perangkat ini pun patut diacungi jempol, sudah dibekali Harman Kardon audio untuk menghasilkan suara berkualitas tinggi.

Dukungan software MyASUS

The last but not least, yang perlu saya highlight adalah dukungan perangkat lunak dari ZenBook Flip S. Pengguna semakin dimanjakan dengan adanya software MyASUS. MyASUS adalah software yang memudahkan pengguna untuk mengakses berbagai aplikasi ASUS dalam rangka memaksimalkan laptop mereka.

Fitur-fitur di MyASUS ini terbilang lengkap. Ada “File Transfer” yang mengizinkan pengguna untuk mengirim file yang diambil dari ponsel ke PC, cukup dengan mengetuk ikon Bagikan. Selain itu, bisa juga digunakan untuk mentransfer file dari PC ke perangkat seluler dengan cepat. Selain file, ada juga fitur “URL Transfer” untuk mengirim tautan dari dari PC ke perangkat seluler.

Hebatnya lagi, MyASUS memungkinkan pengguna untuk melakukan panggilan telepon dari laptop–baik membuat atau menerima tanpa harus mengeluarkan ponsel dari tas atau saku–mengakses file di PC dari jarak jauh via ponsel dengan “Remote File Access”, mencerminkan (mirroring) layar hingga menambah layar ekstra pada perangkat seluler pengguna. Fitur-fitur di MyASUS menjadikan ZenBook Flip S (UX371) sebagai perangkat yang sempurna untuk hybrid working!

Oh ya, apa yang saya ulas di atas nyatanya belum semua dari keunggulan ASUS ZenBook Flip S (UX371) ini. Masih ada hal yang menarik dari segi konektivitas, baterai dan sebagainya. Oleh karena itu, tabel spesifikasi di bawah ini agaknya layak untuk Anda baca juga.

Main Spec.ASUS ZenBook Flip S (UX371)
CPUIntel® Core™ i7-1165G7 Processor 2.8 GHz (12M Cache, up to 4.7 GHz)
Operating SystemWindows 10 Home
Memory16GB LPDDR4X
Storage1TB M.2 NVMe™ PCIe® 3.0 SSD
Display13.3" (16:9) OLED 4K UHD (3840 x 2160), 400 nits, 100% DCI-P3, 133% sRGB, NanoEdge Display, Touchscreen, PANTONE® Validated display, TÜV Rheinland eye-care certified display
GraphicsIntel® Iris® Xᵉ Graphics
Input/Output1x HDMI 1.4, 1x USB 3.2 Gen 1 Type-A, 2x Thunderbolt™ 4 USB Type-C supports display and power delivery
CameraHD camera with IR function to support Windows Hello
ConnectivityIntel Wi-Fi 6(Gig+)(802.11ax)+Bluetooth 5.0 (Dual band) 2*2
AudioSonicMaster, Smart Amp Technology, Built-in array microphone, harman/kardon certified
Battery67WHrs, 4S1P, 4-cell Li-ion
Dimension30.50 x 21.10 x 1.19 ~ 1.39 cm
Weight1.20 kg
ColorsJade Black
PriceRp24.999.000
Warranty2 tahun garansi global

Gapai Resolusi dan Hybrid Working Aman dan Nyaman dengan ASUS ZenBook Flip S (UX371)

Pada akhirnya, sampai juga kita pada ujung artikel ini. Setelah mengingat dan menimbang, akhirnya saya mesti memutuskan bahwa ASUS ZenBook Flip S (UX371) layak dinobatkan sebagai laptop paling ideal untuk membantu saya (dan tentu juga Anda) untuk menggapai resolusi yang telah dirancang. Pasalnya, ZenBook Flip S tidak hanya ringkas dan fleksibel, tetapi juga bertenaga dan serba guna.

Kita bisa mengandalkan laptop anyar dari ASUS ini untuk bekerja, membuat konten, bermain game hingga menikmati hiburan-hiburan berkualitas lainnya. Berbagai mode yang bisa dibentuk dengan engsel ErgoLift 360 derajat membuat ZenBook Flip S (UX371) bisa dibuka di mana saja dan kapan saja. Cocok banget untuk digunakan sebagai perangkat penunjang tren hybrid working.

Kembali ke soal resolusi tadi, jika saya diberikan pilihan untuk kedua kalinya : pilih dapat mewujudkan resolusi jadi dosen dan tetap berbisnis di bidang media digital atau punya ASUS ZenBook Flip S (UX371)? Saya juga akan menjawab: Why not both? Kenapa tidak keduanya.

Berjuang untuk mewujudkan resolusi dan mendapatkan pekerjaan impian adalah satu hal yang penting. Sedangkan memiliki perangkat mumpuni yang bisa menunjang pekerjaan itu adalah hal penting lainnya. Pekerjaan apapun akan dapat dilakukan dengan baik jika kita bisa mendapatkan keduanya. Bagaimana menurut Anda?

Nah, jika Anda ingin mendapatkan kesuksesan dalam pekerjaan Anda, tidak ada salahnya mempelajari lebih jauh tentang ASUS ZenBook Flip S (UX371) ini. Bisa dengan mengunjungi laman promosinya di website ASUS, atau mengunjungi ASUS Store terdekat dari lokasi Anda. Semoga resolusi kita semua bisa tercapai.[]

Artikel ini diikutsertakan dalam ASUS ZenBook Flip S (UX371) Blog Writing Competition bersama deddyhuang.com

11 pemikiran pada “Resolusi 2021, Hybrid Working, dan ASUS ZenBook Flip S (UX371) yang Menunjangnya”

  1. Setuju uda, memilih untuk multitasking itu pasti ada resiko di dalamnya. Apalagi buat saya juga yang belum pintar dalam membagi waktu, padahal keinginan serta mimpi yang banyak. Apapun pilihan kita semoga tetap bisa membawa keberkahan dan kebahagiaan ya, uda. Semangat.

    Balas
  2. Saya jadi makin terinspirasi dengan Mas Fadli ini. Saya tuh Mas pengen sebenarnya kuliah lagi, mau ambil ilmu lingkungan tapinya. Tapi kadang saya kepikiran, saya juga suka nulis. Kadang saya gak yakin ja bisa melakukan dua-duanya. Makanya niatan S2 saya abaikan saja. Merasa nggak sanggup. Tapi ternyata bisa ya dua-duanya dijalani bersamaan. Maaf jadi curhat. Hehehe. Saya juga da rencana mau beli laptop lagi. Udah niat juga beli ASUS. Mungkin beli yang Asus Zanbook flip. Smoga ada rezeki nanti. Saya suka banget sama designnya kalau lihat gambarnya.

    Balas
  3. Pasti berat lah uda, kalau ninggalin sesuatu karena cinta, termasuk urusan pekerjaan. Wuidih demen den sama prinsipnya, tanggung jawab keilmuan.

    Menurut saya hybrid working cukup efektif lah, kita bebas untuk bekerja di mana saja ya, selama tempat itu nyaman dan mendukung aktivitas kita, mulai dari suasana, jaringan internet hingga device yang kita gunakan. Saya juga cenderung menyukai remote working, jika ada, hehehe…

    Selalu naksir produk laptop ASUS, apalagi fiturnya udah kekinian, kayak ZenBook Flip S (UX371) ini…

    Good luck selalu menyertai Anda.

    Balas
  4. Baru tau apa itu hbryid wordking. Dulu taunya sepeda hybrid. Hehe…sepakat Hybrid working bakal berlanjut seusai pandemi. Btw, itu fitur ASUS ZeenBook flip S keren amat ya. Semga beruntung, Uda…

    Balas
  5. Salut banget sama orang2 yg bisa berperan ganda. Kerja kantoran OK, jdi content creator juga OK. Alhamdulillah, saat ni berkat kemajuan teknologi ada istilah hybrid working. Pekerjaan yang bisa dilakukan tanpa harus duduk diam di satu tempat.

    Dari ulasan di atas, ASUS ZenBook Flip S ini cocok banget untuk para hybrid worker. Dengan menggunakan perangkat2 kualitas TOP, produk ASUS yg satu ini pantas banget jadi idaman. Semoga suatu saat bisa memiliki.

    Terimakasih ulasannya. Informasi berharga untk bahan pertimbangan memilih laptop.

    Balas
  6. Banyak juga istilah ya bg, istilah Hybrid working ini saya baru tau, kl Multitasking sering denger. Zaman skrg memang memungkinkan kita bisa hybrid working dan multitasking. Untuk eksplor diri hehe
    Tp itu tadi, harus pandai kelola waktu.
    Tapi gak kalah penting perangkat yg dipakai kerja ya bg, ASUS salah satu supporting terbaik hehe

    Balas
  7. Saya pun saat ini bisa dikatakan kerja multi tasking di kantor namun untuk hybrid working baru kali ini denger sih mas. Btw kerja multi tasking dan kemampuan multi tasking itu berbeda definisi ya, Aku baru ngeh hehehe

    Balas
  8. Sepertinya memang begitu. Seusai pandemi, WFH juga ada. Ini pun namanya hybrid learning atau blended learning. Mungkin mulai dicoba sem depan, krn pandemi mungkin belum usai, jadi dalam 1 semester, ada 2-4X pertemuan di kampus.
    Ngomong-ngomong hybrid working, saya malah baru belakangan aktif media digital.
    ASUS memang keren ya, speknya jozz banget…

    Balas
  9. baru tau istilah hybrid working, waah si uda ini kok tau aja ya istilah begitu, hihi, padahal sendirinya pun aku alamin yaa hehew

    Balas

Tinggalkan komentar

error: