Cara Mengucapkan Terima Kasih dalam Bahasa Minang

Sekitar tahun 2015 lalu saya pernah membuat sebuah blog mengenai bahasa Padang atau bahasa Minang. Blog itu hanya berisikan 8 artikel saja. Sehabis itu saya gak fokus, namun ternyata setelah dicek, si blog sekarang sudah punya pengunjung harian yang stabil. Ya, ternyata banyak orang yang pengen belajar bahasa Padang. Salah satu kata kunci yang banyak dicari adalah bahasa Padang terima kasih.

Akhir-akhir ini saya kembali memperbaiki blog tersebut dan berpikir untuk mulai menambah kontennya. Pasalnya, banyak orang di luar sana yang ingin bisa berbahasa Minang–sebagian besarnya lebih sering menyebut bahasa Padang.

Pernah dulu seseorang mengontak saya via aplikasi perpesanan BBM. Katanya pengen diajari bahasa Minang, akhirnya saya mengajarkannya dengan metode tanya jawab. Kalau bahasa Padang dari “ini” apa, “itu” apa. Dan begitulah.

Bahasa Minang atau Bahasa Padang Terima Kasih

Dalam sebuah interaksi sosial, hampir di berbagai kesempatan kita membutuhkan bantuan orang lain. Bahkan, terkadang orang membantu kita tanpa diminta. Oleh karena itu, kata “terima kasih” menjadi salah satu dari banyak kata yang krusial dan sulit untuk diucapkan. Benar gak sih?

Btw, saya bahkan pernah menulis artikel tentang ini tahun 2013 lalu di sini: https://www.udafadli.web.id/2013/12/31-kata-yang-teramat-sulit-diucapkan.html

Nah, karena kata terima kasih ini adalah kata yang krusial dalam kehidupan manusia, tentu saja ia ada di setiap bahasa daerah. Pengucapannya dalam setiap bahasa daerah berbeda-beda, hanya saja dalam bahasa Minang tidaklah terlalu jauh dengan bahasa Indonesia.

“Terima kasih” terdiri dari dua kata, yaitu: terima dan kasih. Jika diartikan per kata, maka “terima” dalam bahasa Minang adalah “tarimo” sedangkan “kasih” adalah “kasiah“. Hanya saja ketika digabungkan terdengar kurang lazim. Sehingga ketimbang disebut sebagai “tarimo kasiah”, ia lebih sering diucapkan dengan “tarimo kasih“.

Iko nyo nan bisa ambo bantu, sanak.” jelas Amin kepada Riki.

Ndak baa doh sanak, lah labiah dari cukuik mah, tarimo kasih banyak.” jawab Riki.

Adapun hasil translate bahasa Minang dari percakapan di atas ke bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:

“Cuma ini yang bisa saya bantu, teman.” jelas Amin kepada Riki.

“Tidak apa-apa, teman. Ini sudah lebih dari cukup, terima kasih banyak.” jawab Riki.

Penyingkatan dalam Pengucapan Terima Kasih

Sebagaimana kita umumnya dalam bahasa percakapan–ingat ya, bahasa percakapan, bukan bahasa teks. Kita sering menyingkat kata-kata agar lebih mudah untuk diucapkan. Dalam bahasa Minang, hal seperti itu juga sangat lazim. Sebagai contoh:

Normal : makan ciek dulu (makan satu dulu/mau makan dulu)

Singkat: makan cek lu

Dalam mengucapkan terima kasih juga seperti itu, jika normalnya diucapkan “tarimo kasih” maka jika dipersingkat akan menjadi “mokasi“. Perhatikan percakapan di bawah ini:

“Kama(no) tu? Singgah lah (du)lu. Randang baru masak (ba)na ha.” sorak Pak Herman pada Pak Luki yang lewat di depan rumahnya.

“Taruih lah dulu, Pak. Mokasi. Ambo ado paralu ka pasa sa(ba)nta.” balas Pak Luki.

Suku kata dalam tanda kurung () bisa dihilangkan dalam bahasa percakapan. Oh ya, arti dari percakapan itu adalah:

“Kemana tuh? Singgah lah dulu. Randang baru masak betul ini.” sorak Pak Herman pada Pak Luki yang lewat di depan rumahnya.

“Lanjutlah dulu, Pak. Terima kasih. Saya ada perlu ke pasar sebentar.” balas Pak Luki.

Nah, cukup mudah bukan bahasa Padang terima kasih? Ini memang hanya sebagian kecil dari bahasa Padang. Jika pembaca, yang tersesat ke sini, ingin belajar lebih lanjut bisa tuliskan pertanyaan di kolom komentar. Senang bisa belajar bahasa daerah bersama.

Bagikan Yuk!

Author: Fadli Hafizulhaq

Seorang kandidat doktor yang berasal dari kampung kecil di pinggiran pantai Sumatera Barat. Gemar menulis semenjak duduk di bangku Sekolah Dasar. Blog ini adalah catatan virtualnya yang mungkin saja penting atau tidak. Email: hafizulhaq.fadli@gmail.com

6 Replies to “Cara Mengucapkan Terima Kasih dalam Bahasa Minang

  1. Baca sambil praktik xixixi
    Lain waktu ulas tentang lagu2 Minang ya Uda, saat ngekost di Bogor dulu sering kali denger lagu dgn musik yg meriah dan bikin semangat. Pdhl katanya lagu sedih heheh

  2. tarimo kasiah panajalasannyo,
    duh, bahasa nusantara memang beragam. Andaikan bisa belajar semua bahasa, sungguh hal yang luar biaso, apalagi kalau dialegnya melekat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *