Filsafat Pendidikan: Pengertian, Tujuan dan Ruang Lingkup

Ketika awal menjajaki dunia perkuliahan S3 yang lalu, salah satu mata kuliah yang pertama saya pelajari adalah falsafah sains. Falsafah berkaitan dengan filsafat. Ternyata mempelajari filsafat dari ilmu itu sangat penting, ia bahkan menjadi dudukan atau pijakan pertama. Lantas, jika falsafah sains saja perlu dipelajari, induknya yaitu filsafat pendidikan juga perlu kita ketahui. Terlebih di sepanjang hidup kita terus belajar, terus mendidik diri.

Lantas, kalau kita kaji lebih jauh tentang materi ini, akan beberapa sub bagiannya. Supaya lebih mudah, saya melampirkan daftar pustaka setelah ini, jadi Anda bisa menuju bagian mana yang ingin Anda baca terlebih dahulu. Namun tentu saja, seperti biasa, saya amat sangat menyarakan Anda untuk membaca semuanya. Tenang, saya akan coba menuliskannya dengan sederhana biar materi yang “berat” ini bisa terasa lebih ringan.

Filsafat Pendidikan dan Seluk-beluknya

Secara umum, filsafat pendidikan adalah ilmu yang meliputi seni atau cara berpikir manusia dalam menjawab pertanyaan atau permasalahan filosofis dalam dunia pendidikan. Pengertian ini hanya sebatas kesimpulan yang bisa saya tarik dari apa yang telah saya baca.

Selanjutnya, tidak afdal rasanya jika kita tidak membahas filsafat pendidikan secara komprehensif. Saya ingin mengajak Anda mengetahui beberapa hal terkait topik kita ini. Hal-hal itu berkenaan dengan sejarah filsafat, konsep, ruang lingkup dan hal lainnya tentang filsafat pendidikan ini. Mudah-mudahan dari apa yang saya tuliskan menambah pengetahuan baru bagi pembaca sekalian.

Hakikat Pendidikan

Hakikat berarti dasar atau intisari. Hakikat filsafat pendidikan tentu saja intisari atau dasar dari ilmu ini. Namun sebelum kita membahasnya lebih lanjut, agaknya kita perlu tahu nih apa arti dari kata “pendidikan” itu sendiri. Berikut beberapa arti pendidikan menurut beberapa sumber.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pengertian ini dijelaskan dalam UU SISDIKNAS No. 20 Tahun 2003.

Pendidikan yaitu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, maksudnya adalah pendidikan menuntun segala kekuatan kodra yang ada pada anak-anak tersebut agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat. Adapun pengertian ini merupakan penjelasan dari Ki Hajar Dewantara yang merupakan Bapak Pendidikan Indonesia.

Gampangnya, pendidikan adalah usaha manusia untuk membina atau membentuk kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai atau norma yang berlaku di tengah masyarakat.

Sejarah Falsafah Pendidikan

Sesuatu apapun tentu punya sejarah, tak terkecuali diri Anda atau pun saya. Yah, sejarah bagaimana Anda bisa hadir ke dunia. Itu dimulai jauh sekali bahkan semenjak era Nabi Adam. Nah, kaitannya dengan materi ini, suatu ilmu tentu ada sejarahnya. Ada proses mengapa ilmu tersebut bisa muncul, tidak terkecuali filsafat atau falsafah pendidikan ini.

Di awal tadi, saya bercerita tentang pengalaman saya mempelajari falsafah sains. Alasan mengapa mata kuliah itu diajarkan tidak lepas dari kedudukan ilmu filsafat sebagai induk ilmu pengetahuan (mother of sciences). Ilmu filsafat dipercayai mampu menjawab segala pertanyaan dan permasalahan. Mulai dari hal terkecil mengenai kehidupan manusia hingga alam semesta. Sederhananya, pendidikan juga bagian dari kehidupan sehingga ia memiliki pertanyaan dan permasalahan tersendiri.

Filsafat pendidikan menjadi ilmu yang kemudian membahas dan menjawab pertanyaan/permasalahan itu. Hanya saja, karena ini “filsafat”, tentu saja yang dijawab adalah pertanyaan-pertanyaan filosofis dengan jawaban yang filosofis pula.

Lantas, bagaimana sejarahnya?

Filsafat pendidikan telah menempuh sejarah yang panjang. Kalaulah dikaji dengan lebih ilmiah, maka orang-orang Barat, khususnya Yunani, mengambil andil yang besar dalam perkembangan ilmu filsafat pendidikan ini. Tapi apakah hanya mereka yang mempelajari dan mengembangkannya? Tentu saja tidak, terlepas dari asal kata sejarah yaitu historia yang merupakan bahasa Yunani, hanya saja (barangkali) mereka memiliki arsip literasi yang cukup sehingga memenuhi syarat untuk bisa dikatakan bagian dari sejarah.

Sederhananya gimana?

Sederhananya, filsuf Yunani yang paling getol ngomong soal filsafat dan memang pada zamannya Yunani adalah peradaban dengan ilmu pengetahuan yang maju. Oleh karena itu, tercatat beberapa nama filsuf Yunani dalam sejarah filsafat pendidikan ini, sebut saja:

  • Socrates (470-399 SM)
    Socrates berpandangan bahwa seseorang mesti didorong untuk berpikir cermat, melakukan uji coba diri sendiri serta memperbaiki pengetahuannya.
  • Plato (427-347 SM)
    Plato berpandangan bahwa pendidikan itu sangat perlu, baik untuk diri sendiri selaku individu maupun sebagai warga negara.
  • Aristoteles (367-345 SM)
    Aristoteles berpendapat bahwa setiap orang harus mendapatkan pendidikan agar ia bisa hidup dengan baik.

Terlepas dari semua itu, setiap agama mengajarkan hikmah dari pentingnya pendidikan terhadap seorang individu atau pun kelompok. Anda boleh mengambil pendapat para ahli tentang filsafat pendidikan, namun jika Anda adalah seorang umat beragama, maka jangan lupakan bagaiaman kitab membicarakan tentang itu–bahkan sepantasnya itu dijadikan acuan utama.

Tujuan Filsafat Pendidikan

Filsafat atau falsafah pendidikan tentu saja memiliki tujuan tertentu. Ada beberapa tujuan falsafah pendidikan yang berkaitan dengan seorang individu dan bagaimana pendidikan itu bisa memberikan manfaat baginya. Tujuan-tujuan tersebut adalah sebagai berikut:

  • Menjadikan seseorang sebagai manusia, lebih mendidik serta mampu membangun diri sendiri.
  • Mendorong untuk dapat menjadi orang yang bisa berpikir sendiri.
  • Memberikan dasar-dasar pengetahuan, pandangan yang sintesis sehingga seluruh pengetahuan menjadi satu kesatuan.
  • Menjadikan seseorang memiliki hidupnya sendiri berkat pengetahuan yang dimilikinya. Oleh karena itulah, mengetahui hal-hal dasar berarti mengetahui dasar-dasar hidup diri sendiri.
  • Bagi seorang pendidik, filsafat memiliki keistimewaan karena filsafatlah yang memberikan dasar-dasar dari ilmu-ilmu pengetahuan lainnya mengenai manusia, seperti ilmu dalam mendidik.

Selain beberapa hal di atas, tujuan dari ilmu ini juga dapat disesuaikan dengan aliran filsafat tertentu seperti idealisme, realisme dan sebagainya.

Manfaat Falsafah Pendidikan

Sesuatu yang memilki tujuan tentu juga memiliki manfaat. Dikutip dari Wikipedia, ada dua wilayah yang membedakan pendidikan, yaitu humanisme dan akademik. Humanisme meliputi pengembangan karakter manusia dari segi keterampilan dan praktik hidup. Sedangkan aspek akademik berfokus pada nilai kognitif dan ilmu murni. Baik humanisme dan akademik merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

Adapun peran atau manfaat falsafah pendidikan di sini adalah untuk terus menganalisis dan mengkritisi kedua aspek tadi demi sebuah pendidikan yang utuh dan seimbang. Filsafat pendidikan akan melakukan peninjauan terus-menerus terhadap proses pendidikan demi perkembangannya dalam mencetak manusia yang andal.

Sementara jika harus dirincikan, berikut beberapa manfaat dari mempelajari filsafat pendidikan (secara tidak langsung juga merupakan manfaatnya):

  • Menjadi salah satu landasan dalam perkembangan ilmu pendidikan
  • Landasan dari penentuan kebijakan mengenai program pendidikan
  • Landasan untuk berkarya dan mengabdi di dunia pendidikan
  • Standar dalam penentuan kurikulum dan materi yang ingin diajarkan oleh pendidik
  • Memberikan pemahaman menyeluruh mengenai dunia pendidikan
  • Mendorong tenaga pendidik untuk dapat memberikan materi pendidikan yang lebih baik
  • Meningkatkan kualitas dari pendidikan itu sendiri

Intinya, filsafat pendidikan dapat memberikan banya manfaat terutama dalam mengatasi pertanyaan atau permasalahan di bidang pendidikan.

Ruang Lingkup dan Objek Filsafat Pendidikan

Setelah semua hal yang saya jelaskan di atas, bagian terakhir yang perlu saya jelaskan adalah ruang lingkup dari falsafah pendidikan itu. Ruang lingkup atau objek filsafat pendidikan secara umum adalah segala hal yang menyangkut permasalahan kehidupan manusia, namun jika dijabarkan secara mikro (khusus), maka objek filsafat pendidikan melingkupi beberapa hal di bawah ini:

  • Merumuskan sifat hakikat pendidikan (the nature of education) secara tegas.
  • Merumuskan sifat hakikat manusia sebagai subjek sekaligus objek pendidikan (the nature of man).
  • Merumuskan secara tegas hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan, agama dan kebudayaan.
  • Merumuskan hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan dan teori pendidikan.
  • Merumuskan hubungan antara filsafat negara (ideologi), filsafat pendidikan dan politik pendidikan atau sistem pendidikan.
  • Merumuskan sistem nilai norma atau isi moral pendidikan yang merupakan tujuan pendidikan.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa objek falsafah pendidikan meliputi semua upaya dan usaha manusia untuk memahami hakikat pendidikan itu sendiri. Tentang bagaimana cara melaksanakan pendidikan dan mencapai tujuan-tujuan dari pendidikan tersebut.

Nah, itulah beberapa penjelasan mengenai filsafat atau falsafah pendidikan, mulai dari pengertian, sejarah dan sebagainya. Kesudahannya, pendidikan merupakan elemen yang sangat penting dalam perkembangan dan kemaslahatan hidup manusia. Setiap orang menerima pendidikan tapi tidak semuanya yang mau belajar memahami falsafahnya, dan saya rasa Anda bukan bagian dari yang tak mau belajar itu. Karena paling tidak, mampirnya Anda ke halaman ini adalah sebuah bukti bahwa Anda peduli. Akhir kata, terima kasih sudah mampir dan membaca.[]

8 pemikiran pada “Filsafat Pendidikan: Pengertian, Tujuan dan Ruang Lingkup”

  1. Waktu saya kuliah, saya juga pernah belajar tentang filsafat pendidikan, karena jurusan kuliah saya pendidikan juga. Pas baca ini, saya berasa lagi dikasih materi sama dosen waktu saya kuliah, 😄 jd inget masa2 muda2 saya dan teman2 di kampus dulu 😅

    Balas
  2. Serasa kuliah kembali membaca tulisan ini. Awalnya saya menganggap orang yang belajar filsafat itu adalah orang yang memiliki kapasitas otak yang berlebih, karena anggapannya filsafat itu memang rumit. Tapi pas belajar waktu kuliah ternyata asyik…

    Balas

Tinggalkan komentar

error: