Sederhana Tapi Mengena, Begini Kiat Hemat Energi Rumah Tangga Demi Bumi Kita

Apa yang akan anda pikirkan jika seseorang tiba-tiba datang ke hadapan anda, menunjuk-nunjuk anda dan berkata bahwa anda adalah penyebab temperatur bumi yang semakin tinggi hari ke hari?

Ada beberapa opsi yang bisa anda ambil. Pertama, menerimanya dengan lapang dada dan meminta maaf. Kedua, cuek-bebek tanpa merisaukannya. Ketiga, anda bahkan bisa memarahi balik orang tersebut dan berkata bahwa itu “fitnah”.

Terlepas dari apapun jawaban yang akan anda pilih, faktanya memang suhu permukaan bumi terus memanas. Dikutip dari Goddard Institute for Space Studies (GISS) NASA, temperatur bumi telah meningkat hampir 1º Celsius semenjak 1880 [1]. Jika tidak ditangani segera, peningkatan ini akan terus berlanjut hingga mencapai lebih dari 2ºC pada tahun 2030.

Sejurus data di atas tampak “aneh”. Kenapa masalah ini menjadi penting padahal naiknya juga 1-2 derajat saja?

Kenaikan dua derajat ini memang tidak terlihat besar—kita bahkan mungkin tidak akan menyadarinya. Tapi perubahan iklim dan pemanasan global bukanlah masalah temporal, melainkan mengacu pada tren jangka panjang.

Jika kenaikan temperatur bumi melebihi 2ºC, dunia akan lebih kering. Kekeringan ini akan berdampak pada ekonomi, pertanian, infrastruktur hingga pola cuaca. Belum lagi kerusakan ekosistem karena tidak mampunya beberapa spesies beradaptasi. Jangan lupakan juga gunung-gunung es di kutub bumi yang akan mencair, lalu menenggelamkan pulau-pulau kecil atau sebagian wilayah pesisir pantai.

Atas semua resiko itu, kembali lagi ke pertanyaan awal, jika ada seseorang datang dan meminta anda bertanggung jawab atas terjadinya pemanasan global, apa yang akan anda lakukan?

Dan apapun jawaban anda, sadar atau tidak, sebenarnya anda (dan juga saya) punya andil dalam membuat bumi ini menjadi semakin panas—apalagi jika selama ini kita masih sering boros energi.

Energi yang Kita Boroskan Buat Iklim Bumi Alami Kerusakan

Rusaknya iklim tak terlepas dari “kontribusi” manusia di dalamnya. Hal ini dikarenakan penyebab utama pemanasan global adalah pelepasan banyak Gas Rumah Kaca (GRK) ke atmosfer. Dan tahukah anda, salah satu GRK terbesar yang bertanggung jawab untuk masalah ini adalah gas karbon dioksida (CO2).

Belum lama ini Institute for Essential Services Reform (IESR), sebuah lembaga riset dan advokasi di bidang kebijakan energi dan lingkungan, melaporkan fakta yang mengejutkan mengenai emisi GRK Indonesia. Sebagai salah satu negara anggota G-20, pada tahun 2015 lalu saja, Indonesia memiliki emisi GRK sebesar 9,2 tCO2e/kapita, besar emisi ini 15% lebih tinggi dari rata-rata negara G-20 yaitu 8 tCO2e/kapita [2]. Artinya setiap warga negara Indonesia menghasilkan rata-rata 9,2 ton emisi karbon dioksida setiap tahunnya.

Lantas dari mana datangnya karbon dioksida sebanyak itu? Tentu bukan dari gas yang kita hembuskan dalam sistem pernapasan—itu tidaklah cukup besar, melainkan yang dihasilkan dari proses penyediaan energi yang kerap kita gunakan, yaitu energi listrik.

Menurut data, 40% lebih produksi listrik Indonesia masih berasal dari pembangkit yang menggunakan batu bara sebagai bahan bakarnya—yang notabene menghasilkan karbon dioksida sebagai sisa pembakaran [3]. Lebih lanjut, produksi GRK Indonesia dari sektor energi dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Pada tahun 2017 misalnya, emisi gas karbon dioksida yang dihasilkan mencapai 562 ribu Gigagram atau 562 juta ton [4]. Dengan demikian, bijak atau tidaknya kita menggunakan energi berkaitan erat dengan “kontribusi” kita merusak iklim bumi.

Menyelamatkan Iklim Bumi Bisa Dimulai dari Rumah Tangga

Merujuk pada laporan bertajuk Brown to Green: Transisi G-20 Menuju Ekonomi Rendah Karbon dari Climate Transparency yang bekerja sama dengan IESR, Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia tidak konsisten dengan batas kenaikan suhu sesuai Kesepatakan Paris (2°C), melainkan meningkat menuju kenaikan suhu 3-4°C. Parahnya, kebijakan terkait iklim di Indonesia masih berada di taraf yang rendah.

Hingga saat ini pemerintah, bisa dikatakan, masih belum bisa menekan penggunaan batu bara, sementara penggunaan energi terbarukan juga masih sangat minim. Kebijakan yang ada barulah sebatas rencana peningkatan porsi energi baru dan terbarukan menjadi 31% pada tahun 2050 [5]. Dengan kata lain, batu bara masih akan sangat diandalkan hingga beberapa tahun (atau bahkan dekade) ke depan. Sehingga dalam waktu “transisi” ini, mesti ada Climate Action dalam rangka penyelamatan iklim bumi.

Tak perlu muluk-muluk menunggu stakeholder dan institusi-institusi besar lainnya bergerak, gerakan penyelamatan ini bisa dimulai dari rumah tangga. 

Caranya yaitu dengan melakukan penghematan dan pengefektifan penggunaan listrik.

Kenapa harus dari rumah tangga? Karena nyatanya meski berstatus sebagai komunitas masyarakat yang kecil, rumah tangga menjadi kalangan pengguna energi listrik terbesar.

Pada kuartal-I 2019 saja, sektor rumah tangga memegang porsi sebesar 48,85% disusul oleh industri 32,44%, bisnis 18,23%, dan sisanya tersebar di pelanggan sosial dan publik [6]. Maka, jika kita bisa menghemat penggunaan listrik di rumah tangga, itu akan menjadi sebuah langkah yang konkret untuk menahan laju pemanasan global yang ada.

Hal ini juga selaras lho dengan salah satu rekomendasi tindakan dalam The Ambition Call terhadap penanganan perubahan iklim Indonesia, yaitu menaikkan tingkat efisiensi energi dari penerangan dan peralatan rumah tangga, di mana hal ini dapat mengurangi beban puncak sebesar 26,5 GW pada tahun 2030.

Cara Sederhana Menghemat Penggunaan Energi Rumah Tangga

Dengan ruang lingkup yang kecil, pengelolaan energi listrik di rumah tangga tentu tidak serumit industri atau sektor lainnya. Pelaksanaannya malah cenderung fleksibel dan tergantung pada “kearifan lokal”. Usaha dari pemerintah Indonesia dalam mengajak masyarakat menghemat energi sebenarnya sudah ada sejak lama, tapi himbauan tersebut semakin ke sini semakin jarang terdengar.

Pernahkah anda mendengar himbauan penghematan listrik pada pukul 17-22? Kapan terakhir kali anda mendengar itu? Rasanya sudah lama sekali ya, karena memang himbauan itu populernya di tahun 2014 lalu. Sementara untuk hari ini, ketimbang menunggu himbauan, mengambil inisiatif justru lebih dibutuhkan.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menghemat energi listrik dan menaikkan tingkat efisiensinya, cara-cara itu bahkan bisa dilakukan dengan hal-hal yang sederhana. Berikut beberapa cara yang bisa kita lakukan di dalam skop rumah tangga.

Gunakan Lampu LED dan Hidupkan Seperlunya Saja

Saat ini teknologi kian berkembang, kalau lah dulu kita mengenal bohlam, hari ini kita mulai diakrabkan dengan lampu berbahan Light Emitting Diode (LED). Teknologi penerangan saat ini sudah semakin hemat energi, dengan daya yang kecil lampu LED bisa menerangi dengan lumen yang besar. Maka, mari mengganti lampu di rumah tangga dengan lampu LED dan pastikan menghidupkan lampu seperlunya saja.

Bijaksana dalam Memakai Peralatan yang Membutuhkan Listrik

Di antara semua peralatan elektronik di rumah, ada beberapa yang menjadi pengkonsumsi daya tertinggi. Mereka adalah pendingin ruangan, kulkas dan pompa air. Konon, ketiga peralatan ini saja sudah mengonsumsi sebanyak 85% daya rumah tangga. Oleh karena itu, sudah seyogyanya kita bijak dalam memakai alat-alat tersebut serta juga alat-alat lainnya.

Selain itu, cabut steker peralatan listrik jika tidak lagi digunakan. Meskipun itu hanya sebuah pengisi daya ponsel atau adaptor laptop, ada energi yang terbuang sia-sia selama ia masih terpasang. Mematikan perangkat elektronik sebelum tidur juga baik untuk dilakukan.

Memasang Sumber Energi Terbarukan Sendiri Jika Mampu

Cara lainnya yang dapat menjadi opsi penyelamatan atmosfer bumi dari ancaman emisi karbon dioksida adalah beralih menggunakan sumber energi terbarukan secara mandiri. Hal ini termasuk dalam upaya Brown to Green. Pun jika tidak bisa secara penuh, barangkali bisa sebagai penyuplai sebagian kebutuhan energi saja. Salah satu contoh energi terbarukan yang bisa kita gunakan adalah energi surya. Memang, biaya investasinya akan sedikit mahal. Tapi bukankah itu tidak ada apa-apanya, dibanding apa yang sudah diberikan bumi kepada kita?

Pada akhirnya, menghentikan pemanasan global secara total memang mustahil untuk dilakukan. Hanya saja, kita bisa menekan lajunya. Mengacu pada Kesepakatan Paris, semua kita hendaknya sama-sama berusaha membatasi kenaikan temperatur bumi tidak melebihi 2ºC pada tahun 2030 nanti. Dengan kata lain, penyelamatan ilkim bumi hendaknya menjadi ambisi kita bersama, bukan hanya sebagian orang/kelompok saja. Dan, cara yang paling mudah dan bisa dilakukan dengan segera adalah menghemat atau menaikkan tingkat efisiensi energi dari penerangan dan peralatan rumah tangga.[]

Referensi:

[1] NASA. World of Change: Global Temperatures. https://earthobservatory.nasa.gov/world-of-change/DecadalTemp

[2] IESR. The Ambition Call.

[3] Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan. Statistik Ketenagalistrikan Tahun 2018.

[4] Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim. Statistik Tahun 2018.

[5] Climate Transparency. Brown to Green: Transisi G-20 Menuju Ekonomi Rendah Karbon.

[6] Ridwan Nanda Mulyana. Konsumsi listrik kuartal-I 2019 capai 78,18 TWh, terbanyak dari rumah tangga. https://industri.kontan.co.id/news/konsumsi-listrik-kuartal-i-2019-capai-7818-twh-terbanyak-dari-rumah-tangg