Penulisan Karya Ilmiah, Seputar Kaidah dan Sistematikanya

Setelah tamat S1 dulu, alhamdulillah saya mendapatkan kesempatan untuk lanjut ke S2 dan S3 langsung melalui program beasiswa yang bernama PMDSU. Senangnya bukan main, saya menjalani aktivitas sebagai mahasiswa pascasarjana selama 4,5 tahun dan akhir sekarang sudah tamat. Alhamdulillah. Sepanjang menempuh S2 dan S3 itu banyak hal menarik yang saya dapat, salah satunya adalah saya semakin paham dengan kaidah penulisan karya ilmiah dan sistematika dari karya tulis ilmiah tersebut.

Oh ya, kalau boleh cerita, dahulu saya adalah seorang penulis fiksi. Beberapa cerpen saya sering dimuat di harian lokal di kota kami. Tapi seiring semakin sibuk dengan skripsi saya tak lagi menulis cerpen atau tulisan fiksi lainnya. Saya beralih menjadi blogger dan aktif menulis di platform digital tersebut. Di samping itu tentu saja juga sering berkutat dengan banyak karya ilmiah dalam penulisan disertasi saya.

Berbekal banyaknya karya ilmiah yang saya baca, bahkan sampai “mabuk” melakukan review jurnal internasional, kali ini saya akan berbagi dengan Anda tentang kaidah penulisan karya ilmiah.

Kaidah Penulisan Karya Ilmiah

Mungkin Anda pernah bertanya-tanya, apa sih perbedaan antara karya ilmiah dengan karya populer. Perbedaan mendasar dari kedua karya tulis tersebut adalah cara penulisan dan kedalaman pembahasannya. Karya populer barangkali hanya menjelaskan sebuah informasi, tapi karya ilmiah mesti menjelaskan bagaimana sebuah informasi tersebut bisa didapatkan.

Setelah ini, saya akan mengajak Anda untuk mengenal lebih lanjut mengenai kaidah penulisan karya ilmiah. Simak dengan baik ya.

Menjawab pertanyaan penelitian

Setiap karya ilmiah dimulai oleh sebuah pertanyaan penelitian. Misalnya “apakah air bisa dijadikan sebuah bahan bakar pengganti minyak”. Pertanyaan tersebut kemudian harus dijawab dengan melakukan penelitian-penelitian atau kajian pustaka. Jika sebuah karya ilmiah yang telah ditulis tidak menjawab pertanyaan penelitian, maka karya ilmiah tersebut tidak berhasil. Pertanyaan penelitian ini bisa dengan mudah ditemukan di bagian pembuka atau pendahuluan dari sebuah karya ilmiah.

Oh ya, pertanyaan penelitian tadi tidak bisa dijawab dengan asal-asalan juga, kita harus menjalankan yang namanya metode ilmiah untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan tersebut.

Melibatkan alasan yang logis

Oke, jadi apakah air bisa dijadikan bahan bakar? Jika Anda menjawab “iya” apa alasannya? Begitu pula jika Anda menjawab “tidak”. Anda tidak bisa memberikan alasan seperti “seperti yang saya dengar dari si ini dan si itu”, tapi harus memberikan alasan yang logis atau masuk akal. Alasan yang logis dan masuk akal ini baru bisa didapatkan ketika memang Anda sudah melakukan eksperimen atau membaca berbagai literatur yang kemudian dirujuk atau sitasi.

Berdasarkan pemikiran kritis

Pembimbing saya sering bilang kalau kita meneliti itu pertanyaan yang dijawab sebaiknya jangan tentang “apa” dan “bagaimana”, tapi sudah masuk kepada “kenapa”. Misalnya kenapa air tidak dijadikan sebagai pengganti bahan bakar, atau pertanyaan dengan kata tanya “kenapa” lainnya. Penggunaan kata tanya seperti itu membangun pikiran kritis di dalam diri kita.

Pemikiran kritis ini adalah sesuatu yang amat diperlukan oleh peneliti karena mereka adalah ujung tombak perkembangan ilmu pengetahuan. Bukankah para peneliti itu adalah mereka yang selalu ingin tahu?

Struktur logis dan tidak bertele-tele

Kaidah penulisan karya tulis ilmiah selanjutnya adalah menulisnya dengan struktur yang logis dan tidak bertele-tele. Jika karya ilmiah dapat ditulis singkat, jangan memperpanjangnya dengan mengarang-ngarang berbagai paragraf yang justru mengaburkan informasinya.

Toh juga karya ilmiah sudah menjemukan untuk dibaca, masa mau ditulis bertele-tele juga? Jika Anda menulis karya ilmiah untuk tugas atau lomba, bisa jadi karya Anda diabaikan atau dibuang oleh pemeriksanya.

Pendapat atau argumen didukung oleh bukti

Setiap argumen yang dituliskan di sebuah karya ilmiah harus didukung oleh bukti terkait. Anda bisa menemukan buktinya dengan melakukan eksperimen atau mencari pendapat-pendapat penulis atau peneliti lain yang kemudian Anda rujuk untuk menguatkan argumen Anda. Jangan sekali-kali menulis argumen berdasarkan opini pribadi, sebab karya ilmiah adalah karya yang harus bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Ditulis dengan perencanaan yang matang

Sebab berbagai kaidah yang sudah Anda baca tadi, karya ilmiah tidak bisa ditulis sekonyong-konyong, mesti direncanakan dengan matang. Waktu yang dibutuhkan untuk menulis bahkan bisa lebih singkat daripada waktu melakukan brainstorming atau eksperimen dan kajian pustaka. Nah, untuk membantu proses perencanaan karya ilmiah, Anda bisa membuat sebuah mind map atau peta pemikiran dan sebagainya.

Menggunakan bahasa baku

Satu kaidah penulisan karya ilmiah lainnya yang tak kalah penting adalah menulis karya ilmiah dengan bahasa baku. Anda tidak bisa menulisnya dengan bahasa sehari-hari, bahkan penulisan bahasa asing pun harus digaris miring. Bahasa yang baku dari karya ilmiah menjadi salah satu ciri-ciri dari karya ilmiah tersebut.

kaidah penulisan karya ilmiah

Sistematika Penulisan Karya Ilmiah

Jika tadi kita sudah membahas kaidah penulisan karya ilmiah, sekarang saatnya membahas mengenai sistematika dari karya ilmiah tersebut. Nyatanya karya ilmiah adalah karya tulis yang mesti ditulis dengan terstruktur. Oleh karena itu, karya ilmiah mesti ditulis bagian per bagian.

Secara umum, sistematika penulisan karya ilmiah dibagi menjadi 3 bagian saja, yaitu: Pendahuluan, Kajian Pustaka, Metodologi, Hasil dan Pembahasan dan Penutup. Selanjutnya kita akan membahas masing-masing dari bagian tersebut.

Pendahuluan karya ilmiah

Pedahuluan karya ilmiah dapat juga disebut dengan pembuka dan introduction dalam bahasa Inggrisnya. Pada bagian pembuka ada beberapa hal yang mesti ada dan dijelaskan dengan baik. Terkait format penulisannya sendiri itu tergantung dari panduan penulisan Anda masing-masing. Jika itu untuk lomba, baca panduan lombanya dulu, namun jika untuk tugas baca juga bagaimana format penulisan tugas tersebut. Jika untuk diterbitkan di jurnal, cari tahu juga format jurnal ilmiah tersebut di situs resminya atau pada contoh artikel terbitannya.

Berikut beberapa hal yang harus ada dalam pembuka atau pendahuluan:

Latar belakang

Latar belakang merupakan bagian yang menjelaskan kenapa Anda mengambil sebuah topik untuk dibahas. Pada latar belakang, jelaskanlah motivasi Anda membahas itu. Agar lebih kuat, Anda bisa menjelaskan penelitian-penelitian atau karya ilmiah yang terkait yang sudah dipublikasikan terlebih dahulu. Jelaskan juga apa yang baru atau berbeda dari karya ilmiah yang sedang atau akan Anda tulis.

Untuk menulis latar belakang dan contohnya, Anda bisa baca di sini : Latar Belakang Karya Ilmiah, Contoh dan Cara Membuatnya

Tujuan

Setelah menjelaskan latar belakang dari karya tulis ilmiah, Anda juga perlu menjelaskan mengenai tujuan dari penulisan karya ilmiah tersebut. Adanya sebuah tujuan menjadi sangat penting karena hal inilah yang kemudian akan dijelaskan oleh Bab Metodologi cara-cara untuk mencapai tujuannya, selanjutnya dibahas di Bab Hasil dan Pembahasan dan disimpulkan di Bab Penutup.

Manfaat

Sebagian format penulisan karya ilmiah membutuhkan bagian manfaat juga, jadi Anda bisa menuliskan ini jika memang diminta. Silakan lihat kembali panduannya ya.

Kajian pustaka karya ilmiah

Bagian selanjutnya dalam sistematika penulisan karya ilmiah adalah bagian tinjauan atau kajian pustaka. Di bagian ini Anda perlu menjelaskan teori-teori dari literatur terkait dengan topik yang Anda bahas. Yang perlu diingat, literatur yang digunakan mesti literatur yang dapat dipercaya. Salah satu referensi atau literatur yang bisa dijadikan sumber penulisan adalah jurnal internasional.

Hal yang perlu diperhatikan dalam menulis kajian pustaka adalah membahas teori yang penting saja, sementara untuk teori umum bisa tidak ditulis–tapi itu tergantung pilihan dari penulis sih.

Metodologi karya ilmiah

Metodologi merupakan bagian di mana Anda bisa menjelaskan cara Anda mendapatkan informasi untuk menjawab pertanyaan penelitian tadi. Metodologi yang bisa diambil bisa melalui kajian pustaka, observasi lapangan, survei atau bahkan melakukan eksperimen di laboratorium. Pastikan metodologi yang Anda pilih bisa menjawab pertanyaan penelitian atau topik yang telah Anda pilih.

Hasil dan pembahasan karya ilmiah

Bagian ini adalah bagian di mana Anda bisa mengupas atau menganalisis hasil yang Anda dapatkan. Hasil-hasil tersebut dianalisis dengan ilmiah serta merujuk penelitian atau karya ilmiah terkait agar alasan yang Anda kemukakan menjadi logis dan memiliki bukti. Bahas hasil secara komprehensif, jangan cuma membaca data, tapi jelaskan kenapa data tersebut bisa muncul.

Penutup karya ilmiah

Bagian terakhir dalam sistematika penulisan karya ilmiah adalah bagian atau bab penutup. Pada bagian ini Anda bisa menjelaskan kesimpulan dari penelitian Anda. Apakah sudah menjawab pertanyaan penelitian atau belum. Selain itu, di bagian ini juga bisa ditambahkan saran Anda terhadap pembaca atau calon peneliti lainnya.

Nah, itulah tadi pembahasan kita mengenai penulisan karya ilmiah, mulai dari kaidah hingga sistematikanya. Sekali lagi, karya ilmiah adalah karya yang mesti dipertanggung jawabkan kebenarannya. Oleh karena itu penulisannya mesti menggunakan metode ilmiah yang terstrukur dan logis. Semoga sedikit pembahasan dari saya ini bisa menambah khasanah Anda. Jika ada hal yang kurang atau ingin berkomentar, jangan sungkan menuliskannya di kolom komentar ya.[]

34 pemikiran pada “Penulisan Karya Ilmiah, Seputar Kaidah dan Sistematikanya”

  1. Buku mana buku, oh yah pulpennya juga jangan lupa. Informasi yang sangat penting nih, karena itu saya catat dulu.

    Balas
    • Pertanyaan sy bagaimana menurunkan grade jika terbiasa menulis secara karya ilmiah dengan bahasa dewa nya ke menulis blog dengan bahasa gaul, santai dan universal. Boleh donk kak dibagi kiatnya hehehe…

      Balas
  2. Jadi berasa lagi belajar metodologi karya ilmiah di kampus kalau begini nih, singkat, padat, jelas. Makasih udah berbagi lewat blog, semoga yang pada lagi sekolah bisa mudah memahami cara buat karya ilmiah. Saya juga ada rencana menulis tentang tips ini versi saya kapan-kapan, entah kapan fyuuhh

    Balas
  3. Nah ini yang bikin saya enggak berani ikut kompetisis penulisan karya ilmiah, karena tulisannya harus bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, bukan opini apalagi halusinasi hihihi
    Keren sekali Mas…sukses dan berkah untuk ilmunya ya
    Kalau saya setelah S1 kerja sebentar terus jadi Ibu kwkwkw. Kalau suami setelah menikah Alhamdulillah masih bisa lanjut S2 berkat beasiswa

    Balas
  4. Nah ini penjelasan tentang karya tulis ilmiah yang mudah di mengerti. Saya itu udah 2 kali ikut pelatihan menulis karya ilmiah, tapi sampai sekarang belum menghasilkan tulisan

    Balas
  5. Kadang saya heran liat Uda..
    Sudah mabok sama jurnal, kok bisa sempat lagi ngeblog.
    Aih gak cuma satu pula blognya.
    Habis tu disempatkan BW pula.
    .

    Uda.. sehari berapa jam sih tidurnya?

    Aku dikasih deadline nulis jurnal aja masih tersendat karena harus jadi guru anak-anak selama sekolah daring.. hiksss

    Balas
  6. Alhamdulillah semangat di dunia blogging terus ya kak, menginspirasi pembacanya. Dewi baru berkesempatan kembali untuk sekolah S2 setelah tertunda dua kali dengan merawat anak dua, hehehe … Aslinya suka belajar. Catatan di atas tentang membuat kata “kenapa” mengingatkan Dewi akan belajar filsafat:)

    Balas
  7. Alhamdulillah semangat di dunia blogging terus ya kak, menginspirasi pembacanya. Dewi baru berkesempatan kembali untuk sekolah S2 setelah tertunda dua kali dengan merawat anak dua, hehehe … Aslinya suka belajar, dan kudu fokus untuk mempelajari hal baru dan baru bisanya di jam kalong. Catatan di atas tentang membuat kata “kenapa” mengingatkan Dewi akan belajar filsafat:)

    Balas
  8. Ka Fadli cocoklah jadi dosen trus jadi pembimbing mahasiswa. ngejelasiinya enak, ku auto forward ke adek sepupuku yang mau penelitian supaya makin ngerti bikin skripsinya

    Balas
  9. wah runut sekali ini, baru tahu loh kalo karya ilmiah itu juga harus ada sistematikanya. dulu pas kuliah bikin skripsi perasaan enggak serunut ini haha. coba udah baca tulisan ini, pasti isi buku skripsi saya lebih bagus dan baik lagi, terima kasih informasinya.

    Balas
  10. Alhamdulillah ketemu juga sama alumni program PMDSU ya, gak salah terpilih dapat beasiswa nih, jago nulis lagi. Saya S2 dulu juga beasiswa Dikti. Insyaallah kl masih rezeki mau nyoba aplikasi lg beasiswa S3.

    Komplit smua tulisan di atas, kl boleh menambahkan sedikit, jangan lupa daftar pustaka. Karya2 yg disitasi ada ketentuannya sesuai panduan masing2. Biasanya utk buku 5 sd 10 tahun terakhir dan kalau bisa lebih banyak rujukan jurnal. Baik nasional terakreditasi maupun jurnal internasional bereputasi.

    Balas
  11. Sebuah panduan penting nih, Ajo. Buat saya yang banyak menggunakan gaya penulisan fiksi, penting banget ini. Jangan sampai kan jurnal ilmiah yang entah kapan saya buat bahasanya malah mendayu-dayu, hahaha …

    Balas
  12. Membuat suatu karya ilmiah memang harus banyak melihat sumber referensi.
    Apalagi mulai dari penulisan,bahasa, harus diperhatikan betul.

    Dan jangan lupa cantumkan daftar pustaka apabila kita mengambil atau mencantumkan beberapa sumber di dalam karya ilmiah tersebut.

    Balas
  13. Aku dulu S2 zaman anak udah dua. Trus kapok sekolah, alhamdulillah bisa smp Lektor Kepala, mentok deh. Salut aku sama yg bisa sampai GuBes, apalagi ibu-ibu. Support systemnya keren. Hihi…malah curhat. Sekarang malah belok ke nulis buku aja deh sama ngeblog. Jurnal ilmiah karena tugas aja. Engga ada passion sebenernya. Emang kayak Uda ini udah bener, gaspol langsung S3. Tinggal memantapkan riset-riset. Semoga amanah ilmunya yah…

    Balas
  14. Jd teringat dulu waktu kuliah pernah ikut lomba karya tulis ilmiah. Syukurnya utk sistematika dan segala macamnya selalu dibimbing oleh dosen2 di kampus. Memang sih yg paling penting menurut saya adalah pemikiran yg logis dan tidak bertele-tele, ditambah penguatnya adalah dpt dibuktikan

    Balas
  15. Kalau ngomongin karya ilmiah, tentunya memang yang kita tulis harus ilmiah. Konten yang ada dalam karya ilmiah memang harus dapat dipertanggungjawabkan dan gak bisa asal-asalan, opini yang dibangun harus berdasarkan data dan fakta. Juga pemikiran yang mendalam

    Balas
  16. Wahh, jadi tercerahkan nih kak. Berbeda dg cara penulisan di blog, pd penulisan karya ilmiah lebih mengedepankan observasi bahkan eksperimen. Jadi nggak asal tulis … 😊
    Noted.

    Balas
  17. Permisi, ijin nambahin ya Bang. Karya ilmiah wajib karya asli (original), meskipun mengutip dari sumber resmi, wajib mencantumkan daftar pustaka. Kalau dalam dunia penulisan artikel konten internet ada semacam cek plagiasi (misal tool smallSE0). Sekarang berbagai Universitas sudah dipatenkan cek plagiasi karya tulis/ karya ilmiah menggunakan Program berbasis Web yaitu Turnitin.

    Balas

Tinggalkan komentar

error: